Sabtu, 24 Juli 2010

Elpiji Meledak di Pusat Perbelanjaan


Liputan6.com, Pontianak: Ledakan elpiji kembali terulang. Kali ini gas berukuran 12 kilogram meledak di Food Bazzar Ayani Mega Mall di Jalan Ahmad Yani, Pontianak, Kalimantan Barat, Sabtu (24/7). Ledakan terjadi saat di tempat pusat makanan ini ramai pengunjung sehingga sempat menimbulkan kepanikan.

Ledakan elpiji di counter makanan itu menimbulkan api. Namun kejadian ini tidak sempat menimbulkan kebakaran besar. Saat ditemui SCTV, pengelola Ayani Mega Mall membantah telah terjadi ledakan. Namun di lokasi kejadian kompor gas dan gas elpiji sisa ledakan masih terlihat.

Sementara di Tangerang, Banten, penukaran selang dan regulator tabung elpiji berlogo Standar Nasional Indonesia (SNI) mulai dilakukan. Sejumlah warga antusias mendatangi tempat penukaran aksesori tabung gas yang ditunjuk.

Warga Kampung Kelapa, Cikokol, Kota Tangerang, sejak pagi hilir mudik ke kediaman Ketua RT di kawasan itu yang ditunjuk sebagai salah satu tempat untuk menukar selang dan regulator. Untuk mendapatkan selang baru warga cukup menukar selang lama plus uang Rp 15 ribu. Sedangkan untuk regulator baru cukup ditukar dengan regulator lama dan uang Rp 20 ribu.(IAN)

------------------------
" Alam dan Adat Bicara"
READ MORE - Elpiji Meledak di Pusat Perbelanjaan

Malaysia; Suku Asli Semenanjung Malaya Terlunta


KOMPAS.com - Hanya beberapa jam perjalanan darat dari Kuala Lumpur, ibu kota Malaysia yang megah, puluhan ribu warga suku asli Semenanjung Malaya yang dikenal sebagai orang Semai hidup terlunta-lunta dibelit kemiskinan. Itulah ironi pembangunan Malaysia yang konon sejak tahun 1970 menerapkan New Economic Policy yang berpihak pada golongan Bumiputera.

New Economic Policy (NEP) memang berhasil memajukan perekonomian golongan Bumiputera, terutama yang berafiliasi politik kepada UMNO dan Barisan Nasional. Namun, pemandangan kontras terlihat di kampung-kampung Orang Asli, termasuk di dalamnya suku Semai yang dijuluki forgotten Malaysian atau orang Malaysia yang terlupakan.

Bocah-bocah cilik setengah telanjang terlihat di gubuk-gubuk di permukiman Semai di Kampung Bertang Lama. Perut mereka membuncit, rambut kemerahan, pertanda kekurangan gizi. Kampung yang dihuni sekitar 300 jiwa itu terletak di dekat Cheroh, sebuah kota kecil di tengah Negara Bagian Pahang di pegunungan Titiwangsa, dataran tinggi di Semenanjung Malaya.

Suku Semai dikenal hidup nomaden (berpindah), tetapi kini sebagian besar hidup menetap di sejumlah perkampungan. Perkampungan Semai tidak memiliki fasilitas dasar yang disediakan pemerintah terhadap perkampungan Melayu, seperti sarana air leding, listrik, kesehatan, dan jalan aspal.

Pasokan pangan juga minim di perkampungan Semai. Warga masih hidup secara subsisten dengan berburu dan mencari bahan mentah di alam bebas, seperti rotan dan kayu agar. Namun, tidak banyak uang yang didapat dari mengumpulkan hasil hutan. Hutan Malaya yang menjadi sumber penghidupan orang Semai semakin menyusut karena industri kayu dan perkebunan sawit yang berkembang pesat.

Saat ini diperkirakan ada 45.000 orang Semai di Semenanjung Malaya. Mereka adalah bagian dari 150.000 suku asli yang terbagi dalam 19 kelompok bahasa yang hidup di Semenanjung Malaya atau yang dikenal sebagai Malaysia Barat.

Koordinator Pusat Orang Asli Colin Nicholas yang ditemui rombongan wartawan, Selasa, (20/7) mengatakan, suku Semai dan suku asli lainnya menjadi warga Malaysia yang terlupakan dan tidak terlihat oleh pemerintah. ”Semai semasa operasi militer Inggris terhadap gerilyawan komunis pada tahun 1950-an semasa Malaya Emergency merupakan ujung tombak dalam pertempuran rimba. Jasa-jasa mereka kini dilupakan begitu saja,” ujar Nicholas. ara politisi Malaysia menjual janji kepada Orang Asli untuk memilih mereka. Setelah itu, Orang Asli kembali dilupakan karena jumlah mereka memang sedikit. Saat ini penduduk Malaysia tercatat sekitar 28 juta jiwa.

”Mereka diabaikan pemerintah karena jumlahnya tidak signifikan dan tidak bisa memberikan tekanan politik. Mereka sudah di ambang kehancuran secara sosial, budaya, ekonomi, dan politik,” kata Nicholas. Meski demikian, diakui, beberapa perkampungan Orang Asli yang berada tidak jauh dari pusat-pusat perekonomian memiliki kesempatan hidup yang lebih baik.

Penderitaan warga Bertang Lama muncul ke permukaan setelah Lim Ka Ea, anggota persatuan advokat Malaysia, mengunjungi kampung tersebut. Dia terkejut melihat penderitaan hidup yang dialami warga Semai di Kampung Bertang Lama. ”Banyak orang Malaysia melihat mereka sebagai orang primitif dan tidak diperlukan dalam pembangunan Malaysia, kecuali dijadikan obyek turis karena terlihat eksotis,” ujar Lim.

Tak lama setelah Lim berbicara kepada wartawan, Jolisa (11), gadis Semai, bertemu dengan rombongan Lim saat baru kembali dari hutan. Jolisa membawa golok dan keranjang bambu bersama tiga temannya. ”Kami mencari sayuran hutan. Saya sebetulnya ingin bersekolah jika ada sekolah yang dibangun di kampung,” ujar Jolisa yang menyambut para pendatang dari kota dengan ramah.

Sebagian besar anak-anak suku Semai di Bertang Lama buta huruf. Setiap hari mereka kelaparan karena keluarga mereka hanya mampu menyediakan sayuran dan singkong dari hutan. Kampung Bertang terletak sekitar 11 kilometer dari jalan raya. Jalan tanah milik perusahaan logging (penebangan kayu) menjadi akses untuk mencapai Kampung Bertang.

”Kami menjual rotan, bambu, dan kayu agar dari hutan. Sekarang hasil hutan tersebut sudah susah didapat,” ujar Yoke Ham (47), warga Kampung Bertang yang memiliki 12 anak.
Yoke Ham mengaku, nenek moyangnya menghuni Bertang Lama sejak ratusan tahun silam. Pendapatan yang diperolehnya setiap bulan hanya sekitar 300 ringgit Malaysia (Rp 900.000).

Perdana Menteri Najib Razak, yang berambisi menjadikan Malaysia sebagai negara maju pada tahun 2020, menjanjikan tidak seorang pun warga Malaysia ditinggalkan oleh proses pembangunan. ”Saya berjanji sebagai perdana menteri akan memberikan perlakuan adil kepada semua warga negara Malaysia. Semua kelompok masyarakat harus maju. Malaysia akan menjadi negara dengan pendapatan tinggi,” kata Najib.

Janji tersebut, bagi Robina, warga Kampung Bertang Lama, sepertinya tinggal janji. ”Anakku Sinar kena demam. Aku tidak punya uang untuk beli obat dan nasi untuk anakku,” ujar Robina sambil memeluk Sinar. Dia mengaku belum sarapan sejak pagi. Hidup sungguh kejam bagi warga suku asli Malaysia (AFP/Iwan Santosa)

------------------------
" Alam dan Adat Bicara"
READ MORE - Malaysia; Suku Asli Semenanjung Malaya Terlunta

Gempa 6 SR Guncang Sumatera Utara


DUMAI, KOMPAS.om - Kabupaten Panyabungan, Provinsi Sumatera Utara (Sumut), Sabtu (24/7/2010), sekitar pukul 09.11 WIB diguncang gempa berkekuatan 6 skala Richter.

Badan Metorologi, Klimatologi Geofisika (BMKG) Kota Pekanbaru, saat dihubungi ANTARA dari Kota Dumai, Sabtu, menyebutkan titik lokasi gempa tepatnya berada pada 1.02 Lintang Utara dan 99.50 Bujur Timur atau sekitar 18 kilometer Barat Laut Kabupaten Panyabungan.

Analis BMKG Pekanbaru, Warih, menjelaskan, pusat gempa juga berada pada 10 kilometer kedalaman laut Panyabungan.

"Kemungkinan akan terjadi beberapa kali gempa susulan dengan kekuatan yang relatif lebih rendah," ringkasnya.

------------------------
" Alam dan Adat Bicara"
READ MORE - Gempa 6 SR Guncang Sumatera Utara

Atap Rumah Jebol; Aneh, Tak Ada Api Elpiji Kok Meledak


CILACAP, KOMPAS.om - Ledakan tabung elpiji tiga kilogram kembali terjadi di Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, pada Jumat (23/7/2010) malam, mengakibatkan atap dapur rumah Laman Martowigeno (71) jebol, padahal tidak ada kegiatan memasak di dapur rumah itu .

"Tabung itu tadi malam, sekitar pukul 22.00 WIB, tiba-tiba meledak tapi tidak menimbulkan korban," kata Laman Martowigeno saat ditemui di rumahnya di RT 03/03, Desa Glempang, Kecamatan Maos, Sabtu (24/7/2010).

Laman Martowigeno mengaku heran karena saat ledakan itu terjadi, tidak ada aktivitas di dapur. Bahkan sebelumnya, kata dia, tak ada api yang menyala di dapurnya.

Menurut dia, aktivitas memasak di dapur terakhir dilakukannya pada Jumat pagi, sekitar pukul 09.00 WIB.

"Tabung elpiji baru diganti pada Kamis (22/7/2010) sore, tapi baru digunakan Jumat (23/7/2010) pagi. Itu juga hanya sampai pukul 09.00 WIB karena setelah selesai hingga terjadinya ledakan, kami tidak memasak lagi," katanya.
Mengenai penggantian tabung tersebut, dia mengatakan, hal itu dilakukan oleh pemilik warung langganannya.

"Seperti biasanya, setiap tabung elpiji habis, saya pun membeli dari warung (pangkalan,) dan dipasangkan oleh pemilik warung itu," katanya. Menurut dia, tabung elpiji berikut kompornya telah dibawa polisi untuk diperiksa di Markas Kepolisian Sektor Maos.

Selain itu, kata dia, petugas dari Pertamina juga telah datang pascakejadian tersebut. Pascakejadian ini, dia mengaku takut untuk kembali menggunakan elpiji tiga kilogram sehingga akan memakai tungku kayu bakar.

Anak Martowigeno, Retno Darmatun (30) mengatakan, pascaledakan ini terpaksa kembali menggunakan tungku kayu bakar untuk memasak.

"Saat kejadian, bapak sedang di luar rumah sedangkan saya bersama ibu sedang menonton televisi, ledakan tersebut sangat keras dan mengguncang rumah. Bahkan menurut tetangga, ledakan yang disertai guncangan tersebut akibat robohnya menara telepon seluler yang ada di belakang rumah ini," katanya.

Dia juga mengaku heran karena posisi tabung elpiji beserta kompornya tidak bergeser pascaledakan, sedangkan atap dapur yang jebol bukan di atas tabung atau kompor melainkan di atas tungku yang berjarak sekitar tiga meter dari tabung.
"Padahal tungkunya tidak menyala karena baru dibersihkan oleh bapak pada hari Kamis," katanya.

Sementara warga yang rumahnya sekitar 500 meter dari lokasi kejadian, Teguh (32) mengatakan, ledakan tersebut terdengar keras di rumahnya.

"Semula saya mengira ada kecelakaan lalu lintas sehingga terjadi benturan keras," katanya.

Warga lainnya, Sartam Kiyamto (58) mengaku semakin takut menggunakan elpiji tiga kilogram pascakejadian yang menimpa tetangganya ini. "Saya memang telah beralih ke elpiji 12 kilogram sejak awal bulan lalu karena pernah mengalami kebocoran saat masih gunakan yang tiga kilogram. Tapi sejak kejadian ini, saya semakin takut," katanya.

Seperti yang diwartakan sebelumnya, sebuah ledakan elpiji tiga kilogram terjadi di RT 04 RW 10 Kelurahan Sidakaya, Kecamatan Cilacap Selatan, pada Rabu (21/7) dengan korban seorang penjual jamu keliling asal Solo bernama Sri Winih (24) yang mengalami luka bakar.

------------------------
" Alam dan Adat Bicara"
READ MORE - Atap Rumah Jebol; Aneh, Tak Ada Api Elpiji Kok Meledak

Jumat, 23 Juli 2010

Operasi Trisila Terhalang Cuaca Buruk

KENDARI, KOMPAS.com - Kapal Perang Republik Indonesia (KRI) Sutanto yang tengah melaksanakan operasi Trisila di perairan timur Indonesia, terpaksa berlabuh di Pelabuhan Kendari karena terhalang cuaca buruk di Laut Banda.

Kami sebenarnya tidak berencana berlabuh di Kendari karena tugas utama kami melakukan patroli selama tiga bulan di perairan Laut Banda.
-- Mayor Laut Daymond Iwan

Komandan KRI Sutanto, Mayor Laut Daymond Iwan, di Kendari, Jumat (23/7/2010) mengatakan, gelombang di perairan Laut Banda saat ini mencapai ketinggian sekitar lima meter, sehingga sangat berisiko terhadap keselamatan pelayaran kapal mereka.

Menurut Daymond, kondisi gelombang yang mencapai sekitar lima meter itu sebenarnya bisa diarungi KRI Sutanto karena kapal TNI AL itu memiliki kemampuan arung perairan sampai ketinggian gelombang enam meter, namun mereka tidak ingin mengambil risiko. "Kami sebenarnya tidak berencana berlabuh di Kendari karena tugas utama kami adalah melakukan patroli selama tiga bulan di perairan Laut Banda, tapi kondisi cuaca yang sangat buruk, sehingga kami harus menghindar dari risiko itu.

Daymond mengatakan, jika cuaca membaik, pelayaran KRI Sutanto akan dilanjutkan menuju Maluku, sebab operasi mereka juga berkaitan dengan pengamanan Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI) tiga, yang menjadi salat satu tempat penyelenggaraan Sail Banda 2010."Selama tiga bulan masa operasi, diantaranya satu bulan kami akan mengamankan kegiatan Sail Banda pada Agustus 2010. Mudah-mudahan cuaca membaik sehingga kami bisa melakukan patroli di wilayah ALKI tiga itu," ujarnya.

KRI Sutanto dijadwalkan melakukan operasi Trisila di wilayah timur Indonesia selama tiga bulan mulai Juli hingga Oktober 2010. Kapal TNI AL itu berangkat dari pangkalan laut Surabaya sejak 7 Juli lalu.

------------------------
" Alam dan Adat Bicara"
READ MORE - Operasi Trisila Terhalang Cuaca Buruk

Puting Beliung Hancurkan Puluhan Ruma


Liputan6.com, Deli Serdang: Angin puting beliung memorakporandakan puluhan rumah di Desa Sei Rotan, Deli Serdang, Sumatra Utara. Hingga Jumat (23/7), puluhan warga di Kecamatan Percut Sei Tuan itu mengungsi karena rumah tak bisa ditempati lagi. Tak ada korban jiwa dalam musibah itu. Kerugian ditaksir mencapai ratusan juta rupiah.

Selain merusak rumah, angin puting beliung juga menumbangkan sejumlah pohon dan mengenai kabel jaringan listrik. Akibatnya listrik padam.(AIS)

------------------------
" Alam dan Adat Bicara"
READ MORE - Puting Beliung Hancurkan Puluhan Ruma

Tabung Gas Elpiji 3 Kg Meledak di Peternakan, Ratusan Ayam Gosong


Magelang - Insiden ledakan tabung gas elpiji ukuran 3 kg kembali terjadi. Kali ini di sebuah tempat pembesaran anak ayam di Magelang, Jawa Tengah. Tidak ada korban jiwa manunusia, tapi ratusan ekor anak ayam gosong.

Ledakan itu terjadi di lokasi pembesaran anak ayam milik Faisal Murtado (35), warga Dusun Karang Sanggrahan, Kecamatan Ngluwar, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, Jumat (23/07/2010).

Dijelaskan Faisal, dirinya menggunakan gas elpiji untuk mengoperasionalkan alat penghangat suhu kandang. Biasanya dia menggunakan tabung gas elpiji ukuran 12 Kg. Namun untuk menghemat biaya, dia akhirnya menggunakan elpiji ukuran 3 Kg.

Menurut Faisal, tabung pertama dipasang sekitar pukul 13.00 WIB, Kamis (22/7/2010). Setelah tabung pertama habis, dia memasang tabung kedua pukul 23.00 WIB. Setelah yakin semuanya beres, Faisal kemudian pergi tidur.

"Tapi belum lama saya tidur, tiba-tiba terdengar ledakan dan tahu-tahu kandang ayam saya sudah terbakar," ungkap Faisal.

Menurut Faisal, akibat kejadian ini dirinya mengalami kerugian sekitar Rp 15 juta. Anak-anak ayam yang terpanggang itu sedianya akan dijual ke Muntilan setelah mencapai berat yang ideal.

Kapolsek Ngluwar, AKP Parmanto, mengaku belum bisa menyimpulkan sebab-sebab ledakan. Sampai saat ini pihaknya masih mengumpulkan barang bukti untuk penyelidikan lebih lanjut.

"Kami sudah amankan barang bukti berupa tabung gas isi 3 kg sebanyak 3 buah, regulator, serta kompor pemanas. Kami akan segera koordinasi dengan Pertamina untuk mengetahui penyebab ledakan," ujar Parmanto. (djo/djo)

------------------------
" Alam dan Adat Bicara"
READ MORE - Tabung Gas Elpiji 3 Kg Meledak di Peternakan, Ratusan Ayam Gosong

Badai, Lokasi Minyak BP Tumpah Disterilkan

Badai Tropis Bonnie yang sedang mengumpulkan kekuatan akan membahayakan kapal.

VIVAnews - Puluhan kapal di Teluk Meksiko diperintahkan meninggalkan lokasi tumpahan minyak BP, Jumat, 23 Juli 2010. Pemerintah Amerika Serikat (AS) khawatir Badai Tropis Bonnie yang sedang mengumpulkan kekuatan akan membahayakan kapal-kapal tersebut.

Laksamana Angkatan Laut Thad Allen, seperti dikutip dari laman BBC, mengatakan bahwa sumur-sumur minyak akan tetap ditutup sementara kapal-kapal dievakuasi. Pengeboran telah dihentikan selama dua pekan.

Bonnie adalah badai kedua dalam musim topan 2010 di Atlantik. Menurut Pusat Bencana Badai AS, kecepatan angin Bonnie mencapai 40 mph. Badai tropis tersebut diperkirakan akan mencapai lokasi tumpahan minyak paling cepat Sabtu besok.

Badai Bonnie telah menimbulkan banjir di Haiti, Puerto Rico, dan Republik Dominika. Sekarang, Bonnie sedang bergerak ke barat laut kepulauan Bahama. Kapal dan staf pengeboran yang bertujuan menghentikan tumpahan minyak mulai bersiap meninggalkan lokasi pada Kamis malam.

"Tugas untuk menutup kebocoran minyak secara permanen akan tertunda, tetapi keselamatan pekerja menjadi kepedulian utama kami," kata Allen.

Kebocoran minyak berawal dari ledakan kilang milik BP pada 20 April lalu, yang menewaskan sebelas pekerja.

Jutaan barel minyak mentah dari sumur yang bocor di bawah laut itu terus menyebar ke seluruh perairan selatan AS. Banyak penghuni laut yang mati dan ini juga mematikan mata pencaharian para nelayan Amerika dan warga setempat. (hs) VIVAnews.

------------------------
" Alam dan Adat Bicara"
READ MORE - Badai, Lokasi Minyak BP Tumpah Disterilkan

Truk Masuk Jurang, 1 Tewas dan 2 Orang Tergencet


Jember - Sebuah truk pengangkut kayu masuk ke jurang sedalam 6 meter di Desa Seputih Kecamatan Mayang, Jember, Jumat (23/7/2010). Akibatnya, Rohim (35) warga Kediri yang berada di dalam truk tewas seketika di lokasi kejadian.

Sementara sopir Gunawan (25) warga Kediri dan seorang lagi M Nanang (31) warga Kecamatan Rambipuji-Jember mengalami patah tulang dan dirawat di RSD dr Soebandi Jember.

Menurut Kanit Laka Satlantas Polres Jember Iptu Gatot S, peristiwa itu terjadi di sekitar Jembatan Rahim di kawasan perkebunan jati di Desa Seputih.

"Truk mengangkut karet sebanyak 14 meter kubik, melaju dari arah timur, arah perkebunan menuju arah barat. Tujuannya ke Surabaya. Saat tiba di jembatan itu, memang menikung dan dimungkinkan sopir mengantuk sehingga tidak hati-hati,
truk oleng ke kiri dan masuk jurang," kata Gatot.

Akibatnya kepala truk yang dinaiki tiga orang itu remuk tak berbentuk. Rohim tewas seketika sedangkan dua orang tergencet. "Warga yang mengetahui segera melapor dan mencoba mengevakuasi. Satu orang meninggal seketika di lokasi kecelakaan. Saat ini, sopir menjadi tersangka karena tidak berhati-hati," tukas Gatot. (fat/fat)

------------------------
" Alam dan Adat Bicara"
READ MORE - Truk Masuk Jurang, 1 Tewas dan 2 Orang Tergencet

Kecelakaan Helikopter Medis di AS, Dua Tewas


Liputan6.com, Oklahoma: Sebuah helikopter medis yang sedang dalam perjalanan untuk menjemput pasien jatuh di lapangan terpencil di Pusat Kota Oklahoma Kamis malam (22/7) dan menewaskan dua dari tiga orang yang berada di helikopter.

Helikopter naas itu sedang dalam perjalanan dari Integris Baptist Medical Center di Oklahoma City menuju rumah sakit yang jaraknya sekitar 90 mil di Okeene ketika jatuh sekitar pukul 20:00 waktu setempat dekat Kingfisher, demikian yang dikatakan juru bicara Federal Aviation Administration Lunsford Lynn. Kingfisher adalah kota yang jaraknya sekitar 50 mil dari Oklahoma City.

Walikota Kingfisher Jack Stuteville yang tinggal didekat lokasi kecelakaan orang pertama melihat ke tempat kejadian. Dia juga mengatakan ada seseorang yang menelponnya dan mengatakan melihat sebuah helikopter berputar lalu terjatuh. Sesaat ia tiba di lokasi melihat helikopter tersebut sudah hancur berkeping-keping dan mayat-mayat korban tewas sudah tak bisa dikenali.

Helikopter Eurocopter AS350 yang jatuh menurut catatan FAA terdaftar ke Eagle Med LLC di Wichita, Kansas. Seorang juru bicara Eagle Med sampai sekarang belum mengkonfirmasi berita ini, begitu pula pihak rumah sakit kota Okeene belum memastikan ada kecelakaan helikopter ini. Nama-nama dua korban tewas dan seorang yang selamat dari insiden itu belum diumukan, karena pihak peneliti dan FAA serta National Transportation Safety Board masih menyelidikinya.(AP/AYB)

------------------------
" Alam dan Adat Bicara"
READ MORE - Kecelakaan Helikopter Medis di AS, Dua Tewas

Polandia Perangi Nyamuk dengan Kelelawar


WARSAWA, KOMPAS.com - Sebuah desa di Polandia memberantas nyamuk bukan dengan pestisida tetapi dengan kelawar. Populasi nyamuk yang sedemikian banyak membuat pusing warga desa itu.

Maka, pihak berwenang desa Lelow di Polandia selatan lalu membagikan 50 "kotak kelelawar" yang terbuat dari kayu kepada penduduk. Kotak kelelawar itu berfungsi untuk menarik hewan pemangsa serangga tersebut.

Kepala Desa Lelow, Jerzy Szydlowski, mengatakan, "Spesies kelelawar kecil dapat tidur di dalam kotak itu dan pada saat yang sama memakan nyamuk. Satu kelelawar kecil mampu melahap sebanyak 2.000 nyamuk per hari."

Populasi nyamuk di banyak daerah Polandia membengkak setelah banjir besar melanda negeri itu yang memporakporandakan Polandia Mei dan Juni lalu. Szydlowski, yang juga pencinta alam, berharap metode ekologis tersebut dapat mengendalikan serangga sehingga memungkinkan warga desa itu terhindar dari penggunaan produk kimia untuk memerangi nyamuk.

"Kotak kelelawar" yang terbuat dari kayu dibuat sesuai saran para ahli kelelawar, yang mengatakan diperlukan waktu sekitar satu tahun bagi penduduk untuk dapat merasakan manfaat kotak itu.

Szydlowski berharap proyek tersebut akan membantu melestarikan populasi kelelawar Polandia, yang merosot akibat menyusutnya habitat alamiah hewan malam itu.

Kelelawar, satu-satunya hewan mamalia yang dapat terbang, merupakan spesies yang dilindungi di Eropa. Kelelawar berasal dari ordo Chiroptera dengan kedua kaki depan yang berkembang menjadi sayap. Kelelawar merupakan makhluk yang sangat menarik. Yang paling hebat dari kemampuannya adalah kemampuannya yang luar biasa dalam penentuan arah.

Di dalam otak kelelawar, terdapat dua jenis neuron (sel saraf) yang mengendalikan sistem sonar. Satu di antaranya mengindera suara ultrasonik (suara di luar jangkauan pendengaran manusia) yang terpantul dan yang lain memerintahkan otot untuk menghasilkan jeritan yang membuat gema penentuan tempat.

Kedua neuron itu bekerja dalam suatu kesesuaian sempurna sehingga penyimpangan amat kecil sekalipun di dalam sinyal yang terpantul akan memperingatkan sinyal berikutnya dan menghasilkan frekuensi jeritan senada dengan frekuensi gema. Karena itu, nada suara ultrasonik kelelawar berubah menurut lingkungannya demi efisiensi sebesar-besarnya.

------------------------
" Alam dan Adat Bicara"
READ MORE - Polandia Perangi Nyamuk dengan Kelelawar

Berharap Alam Membela Nelayan Lewat Sedekah Laut


Jakarta - Sueb Mahbub menunjukkan selembar kartu identitas berwarna biru, kartu tanda pengenal sebagai nelayan. Sang pemberi kartu bukanlah orang sembarangan. Tidak lain, Menteri Kelautan dan Perikanan, Fadel Muhammad, yang memberikan kartu nelayan kepada Ketua Kelompok Nelayan Marunda Kepu itu.

"Saya, satu-satunya nelayan di Jakarta yang dikasih kartu nelayan secara simbolis oleh Pak Menteri. Jadi saya merasa bangga juga," ujar Sueb, dengan logat Betawinya yang kental ketika berbincang dengan detikcom, Kamis (22/7/2010).

Meskipun bangga, Sueb juga sekaligus risau. Kartu berlogo Pemprov DKI dan Kementerian Kelautan dan Perikanan (Kemen KP) itu, tidak jelas benar apa fungsinya. Hal ini diamini Thorim, nelayan yang lain. Tidak ada penjelasan pemerintah, apakah manfaat kartu nelayan itu.

Tokoh nelayan Marunda ini mengatakan, betapa nasib nelayan di Indonesia berbeda jauh dengan negara lain bahkan di Asean. Pada saat Kongres Nelayan se-Asean, para nelayan tanah air sangat terkejut betapa nelayan Malaysia bisa membeli bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi dengan kartu itu. Hanya Rp 2.000 untuk satu liter solar, separuh dari harga solar di Indonesia. Kartu itu pun bisa untuk meminta pinjaman dari bank atau koperasi. Nasib para nelayan pun sangat terbantu.

"Nelayan di Malaysia tinggal memikirkan pensiun. Sementara nelayan Indonesia tiap hari masih harus mikir apa hari ini punya modal untuk melaut dan kasih makan keluarganya," tukasnya.

Lantas bagaimana dengan kondisi nelayan di Indonesia, khususnya di pesisir Jakarta? Mereka bukan hanya terpinggirkan, bahkan terancam hilang dari pesisir teluk Jakarta. Alasannya, keberadaan mereka dinilai mengganggu, misalnya saja operasional Pelabuhan Internasional Tanjung Priok yang harus steril dari kapal nelayan. Namun Thoirom dan para nelayan lain emoh dibilang mengganggu jalur kapal. Menurut mereka, nelayan di pantai utara Jakarta adalah nelayan perairan dangkal yang mengandalkan jaring tancap dan budi daya kerang hijau.

"Para nelayan jaring tancap, bagan dan serok tidak mungkin berada di perairan yang dalam. Jadi keberadaan kami ini tidak mengganggu jalur kapal yang akan keluar masuk ke Pelabuhan Tanjung Priok," tegasnya.

Selain pelarangan, ancaman lain yang menghantui ribuan nelayan yang ada di pesisir Teluk Jakarta adalah pencemaran dan reklamasi pantai. Menurut Riza Damanik dari Koalisi Rakyat untuk Keadilan Perikanan (Kiara), saat ini setidaknya 14.000 kubik sampah yang berasal dari limbah rumah tangga dan limbah industri telah mencemari Teluk Jakarta seluas 2,8 kilometer persegi. Seluruh limbah tersebut mengalir melalui 13 anak sungai yang bermuara di teluk tersebut.

Sampah tersebut selanjutnya terakumulasi di Teluk Jakarta sehingga mencemari lingkungan di wilayah perairan Jakarta hingga ke wilayah Kabupaten Kepulauan Seribu. Hal ini kemudian berakibat pada penurunan jumlah produksi ikan dan budi daya laut lainnya hingga 38 persen dari biasanya.

Kondisi ini diperparah dengan niat Pemprov DKI Jakarta untuk melanjutkan reklamasi pantai utara Jakarta di akhir 2010. Reklamasi pantai utara Jakarta sepanjang 32 kilometer persegi dengan lebar 1,5 kilometer ini diperuntukan pusat bisnis modern, kawasan perumahan mewah, serta wisata.

Gagasan reklamasi ini, kata Riza, jelas akan menggusur nelayan dari habitatnya. Suku Dinas Perikanan Jakarta Utara pernah mencatat setidaknya 10.000 nelayan di Teluk Jakarta akan tergusur akibat proyek reklamasi pantai utara Jakarta tersebut. Mereka selama ini tinggal bersama keluarga di sekitar muara sungai, termasuk Muara Baru, Cilincing, Kali Baru dan Marunda, Jakarta Utara. Pada akhirnya nanti, dikhawatirkan nelayan di Teluk Jakarta akan musnah.

"Dalam 10 tahun terakhir jumlah nelayan kita berkurang 25 persen. Dan jumlahnya akan semakin menyusut bila reklamasi dan pencemaran terus terjadi," urai Riza.

Dengan segala himpitan dan ancaman ini, maka ritual tahunan Sedekah Laut dirasakan sangat penting bagi para nelayan. Sepanjang minggu ini, mereka membuat persiapan untuk sedekah laut yang akan digelar Minggu 25 Juli 2010. Kapal-kapal nelayan dihias, aneka sesajian disiapkan secara bertahap. Nanti, akan ada seekor kerbau yang akan disiapkan. Kepala dan jeroannya akan dilarung bersama sesajian. Sedangkan dagingnya dibagi-bagi di antara nelayan.

Sedekah laut bagi para nelayan Jakarta utara adalah momen meminta perlindungan dari Tuhan untuk para nelayan. Ketika kekuatan ekonomi menghimpit mereka, pemerintah pun mereka rasa tidak bisa membantu memperjuangkan nasib mereka. Maka, harapan mereka pun bertumpu kepada Tuhan. Sedekah laut, adalah cara yang sudah mereka lakukan secara turun temurun. Mereka berharap dengan sedekah laut ini Tuhan akan memberikan perlindungan kepada nelayan di kawasan itu.

"Sekalipun pemerintah tidak bisa melindungi dan menolong kami. Kami masih punya Yang Kuasa yang akan membantu kami dalam mencari penghidupan di pesisir Jakarta," pungkas Thoirom yang diangguki beberapa nelayan Marunda kepu yang malam itu tengah menyiapkan kebutuhan sedekah laut. (ddg/fay)

------------------------
" Alam dan Adat Bicara"
READ MORE - Berharap Alam Membela Nelayan Lewat Sedekah Laut