Jumat, 30 Juli 2010

KM Wetar Dilalap Api Saat Berlabuh di Pelabuhan Gudang Arang Ambon


AMBON - Kapal Motor (KM) Wetar dilalap api saat berlabuh di Pelabuhan Gudang Arang, Kelurahan Benteng, Kecamatan Nusaniwe, Kota Ambon, kemarin (29/7). Api besar dan asap hitam tebal yang menyelimuti badan kapal membuat warga Gudang Arang berhamburan ke luar.

Menurut warga yang bermukim di dekat Pelabuhan Gudang Arang, kebakaran mulai terlihat sekitar pukul 11.00 WIT. Saat itu, kapal perintis milik Pemprov Maluku yang melayari rute Ambon-Suamlaki, Tepa-Selwaru, dan Kisar-Wetar tersebut sedang bersandar di jembatan.

''Kami berhamburan ke luar saat mendengar seseorang berteriak ada kapal terbakar. Kami lihat api besar melalap KM Wetar. Kami sempat khawatir juga. Sebab, kapal itu terbakar saat sandar di jembatan. Untung, KM Banda Naira cepat mendorongnya ke tengah laut,'' tutur seorang warga.

Sebagian warga langsung menghubungi petugas pemadam kebakaran Pemkot Ambon. Dua mobil pasukan pemadam kebakaran memang tiba di lokasi tak lama kemudian. Namun, mereka tidak bisa berbuat banyak.

Sebab, kapal perintis itu berada di tengah laut. Petugas pemadam kebakaran hanya bersiaga untuk mengantisipasi bila kapal tersebut terbawa arus ke pelabuhan atau rumah penduduk di sekitar Pantai Gudang Arang.

Tak lama kemudian, datang kapal pemadam milik Badan SAR Nasional (Basarnas), kapal milik Kesatuan Pengamanan Laut dan Perairan (KPLP), perahu karet milik Amerika Serikat, serta kapal tongkang milik administrator pelabuhan (adpel). Kapal-kapal pemadam itu langsung mengepung KM Wetar dari berbagai arah dan menyemprotkan air.

Api akhirnya padam setelah petugas kapal pemadam bekerja keras sekitar tiga jam. Saat itu juga KM Wetar didorong kapal tongkang milik adpel ke jembatan Gudang Arang.

Kapolres Pulau Ambon dan Pulau-Pulau Lease AKBP Didik Agung Widjanarko menyatakan, penyebab kebakaran belum diketahui pasti. Diduga, api berasal dari dek II kapal perintis tersebut. ''Kita tunggu saja hasil olah tempat kejadian perkara (TKP) besok (30/7),'' ujarnya.
Rata Penuh
Saat ini, lanjut dia, seluruh awak dan kapten kapal dimintai keterangan di Polsek Kawasan Pelabuhan Yos Sudarso, Ambon. ''Mereka dimintai keterangan sebagai saksi,'' ujarnya.

Dua Hangus di Batam

Sementara itu, di Batam, dua kapal yang sedang berlabuh di perairan Kolong, Kecamatan Karimun, juga dilalap api pukul 10.30 kemarin (29/7). Dua kapal itu adalah tugboat TB Venture 22 dan Kapal Motor Feni 22. Saat itu, KM Feni 22 sedang membongkar muatan minyak untuk disalurkan ke PT Karimun Sukses.

Belum diketahui pasti penyebab kebakaran tersebut. Diduga, api berasal dari TB Venture 22, lalu meluas ke KM Feni 22. Kerugian karena kebakaran tersebut ditaksir mencapai miliaran rupiah.

''Begitu mendengar laporan, saya langsung ke Pos Polair untuk mengupayakan pemadaman,'' ujar Kasatpolair Polres Karimun AKP Gompar Hasibuan.

Menurut Amir, salah seorang saksi, tidak terdengar suara ledakan dari kapal yang membawa minyak, kecuali saat kapal itu ditarik ke tengah laut untuk mencegah api merembet ke permukiman warga. ''Saya lihat ada awak kapal yang terbakar. Dia langsung terjun ke laut dan berenang menyelamatkan diri. Tampaknya, dia tidak sampai terluka parah,'' ungkapnya.

Pemilik KM Feni 22 Wiyono saat dikonfirmasi mengungkapkan, saat itu kapalnya sedang membongkar muatan solar yang akan distribusikan ke gudang miliknya di PT Karimun Sukses. ''Api mungkin memang berasal dari kapal tugboat yang sandar di samping KM Feni 22. Sebab, di kapal kami tidak ada kompor atau dapur,'' tegasnya. (m1/san/jpnn/c5/soe)

------------------------
" Alam dan Adat Bicara"
READ MORE - KM Wetar Dilalap Api Saat Berlabuh di Pelabuhan Gudang Arang Ambon

Ratusan Rumah Adat Terancam Longsor

Liputan6.com, Bulukumba: Sedikitnya 300 rumah di Dusun Pangi dan Dusun Bongki, Desa Tanatoa Kajang, Bulukumba, Sulawesi Selatan terancam ambruk akibat longsor. Pantauan SCTV, Kamis (29/7), tanah di sekitar rumah adat tradisional Kajang itu sudah retak dengan kedalaman empat meter. Rumah-rumah warga yang saat ini terancam longsor adalah salah satu warisan budaya yang patut di pertahankan di Indonesia.

Kondisi wilyah di dua dusun tersebut memang sudah sangat memprihatinkan. Pepohonan dan bebatuan yang berada di atas bukit juga banyak yang tumbang dan menimpa rumah. Penyebab retaknya tanah di pemukiman warga adat Kajang ini adalah akibat curah hujan yang tinggi dalam sebulan terakhir ini.

Sekitar 100 kepala keluarga kini telah meninggalkan rumah mereka dan mengungsi ke kediaman sanak keluarganya. Warga berharap pemerintah setempat segera turun meninjau lokasi dan memberikan bantuan kepada masyarakat.(IAN)

------------------------
" Alam dan Adat Bicara"
READ MORE - Ratusan Rumah Adat Terancam Longsor

Kamis, 29 Juli 2010

Pesawat Airblue Pakistan Jatuh di Hutan, 152 Tewas

ISLAMABAD - Sebuah pesawat milik Airblue, maskapai penerbangan swasta Pakistan, jatuh saat hujan lebat dan cuaca buruk kemarin (28/7). Sebanyak 146 penumpang dan enam awak pesawat tewas dalam musibah tersebut. Insiden itu merupakan kecelakaan penerbangan terburuk di Pakistan.

Bola api cukup besar dan asap tebal muncul di udara setelah pesawat jatuh di kawasan hutan lebat tidak jauh dari Islamabad. Hal itu terlihat hingga beberapa distrik dari lokasi.

''Saya melihat bola api dan asap yang amat besar saat kecelakaan itu. Lalu, potongan besar pesawat jatuh menghantam bukit dan berceceran di hutan,'' ungkap Haji Taj Gul, polisi yang menjadi saksi tragedi tersebut.

''Saat itu, pesawat terbang sangat rendah. Lantas, kami tiba-tiba mendengar suara yang sangat keras,'' ujar Wajih-ur Rehman, warga permukiman eksklusif di perbukitan Margalla, tempat tinggal para ekspatriat dan kalangan elite Pakistan di luar Kota Islamabad.

Petugas penyelamat menemukan banyak potongan mayat dan puing-puing pesawat di lokasi yang berada di perbukitan. Stasiun televisi menayangkan gambar puing-puing pesawat berceceran di hutan. Sebagian puing dari logam tersangkut di pepohonan. Api dan asap tebal terlihat mengepul di antara reruntuhan tersebut saat helikopter petugas penyelamat melintas.

Petugas agak sulit menggali reruntuhan karena kobaran api dan asap tebal. Meski api akhirnya bisa dipadamkan, evakuasi tidak bisa berjalan lancar karena medan yang sulit di tengah hutan lebat dan perbukitan. Tentara Pakistan telah dikerahkan untuk membantu pencarian dan evakuasi korban.

''Saya hanya menemukan potongan mayat,'' kata Dawar Adnan, petugas penyelamat dari Bulan Sabit Merah Pakistan. ''Kondisi di lokasi kecelakaan amat mengerikan. Kami sudah meneliti hampir seluruh lokasi, tapi tidak menemukan korban selamat,'' lanjutnya.

Petugas penyelamat lain, Arshad Javed, bertutur senada. ''Yang kami lihat hanya potongan tangan, kaki, dan bagian tubuh lain. Saya mengumpulkan dua kepala, dua kaki, dan dua tangan, lalu memasukkannya ke dalam sebuah kantong mayat,'' ungkapnya. ''Kami juga berteriak untuk mencari korban selamat. Tapi, tidak ada suara balasan,'' tuturnya.

Polisi mengungkapkan, reruntuhan pesawat tercecer di tiga arah. ''Selain mayat, kami menemukan peralatan yang diduga sebagai black box (kotak hitam berisi rekaman penerbangan, Red). Saat ini, sejumlah pakar sedang memeriksa,'' ucap Bani Amin, kepala kepolisian Islamabad.

Petugas penyelamat sedikitnya telah mengevakuasi potongan tubuh 90 orang. Evakuasi dan pencarian korban akhirnya dihentikan kemarin sore karena hujan lebat tak kunjung reda. Apalagi, lokasi kecelakaan hanya bisa dicapai dengan helikopter.

Sejauh ini, belum diketahui penyebab kecelakaan. Raheel Ahmed, juru bicara Airblue, menduga cuaca buruk menjadi pemicu kecelakaan itu. ''Tidak ada kerusakan teknis sebelum dan ketika pesawat lepas landas,'' tuturnya.

Pesawat dengan nomor penerbangan ED 202 tersebut meninggalkan Bandara Karachi, selatan Pakistan, pukul 07.45 waktu setempat (pukul 09.45 WIB), dengan tujuan Islamabad. Penerbangan diperkirakan memakan waktu sekitar dua jam.

Musibah terjadi saat pesawat jenis Airbus 321 itu mendekati dan hendak mendarat di Bandara Internasional Benazir Bhutto, Islamabad. Pesawat kehilangan kontak dengan menara kontrol bandara pukul 09.43 waktu setempat (pukul 11.43 WIB).

''Pilot sudah diberi instruksi dan petunjuk supaya mendarat di runway (landasan) I atau II,'' jelas Menteri Dalam Negeri Pakistan Rehman Malik. ''Sebelum mendarat, pesawat terbang di ketinggian 2.600 kaki (sekitar 792 meter). Tanpa ada penjelasan, pesawat tiba-tiba bergerak di ketinggian 3.000 kaki. Mungkin pandangan pilot ke landasan terhalang,'' lanjutnya.

Pakistan mengabaikan kemungkinan kecelakaan itu karena aksi terorisme. Pemerintah memberlakukan hari libur dan berkabung nasional kemarin. Airbus juga mengirimkan tim untuk membantu penyelidikan kecelakaan tersebut.

Dalam manifes penerbangan, penumpang pesawat itu termasuk tujuh anak dan dua bayi. Dua warga negara Amerika Serikat (AS) termasuk korban tewas. Airblue memastikan bahwa warga Pakistan mengisi sebagian besar penumpang pesawat.

Airblue merupakan salah satu maskapai penerbangan terpopuler di Pakistan. Perusahaan swasta tersebut beroperasi sejak 2004 dengan menggunakan pesawat baru Airbus A320 dan A321 untuk rute domestik serta internasional. Rute internasional yang diterbangi adalah Dubai, Sharjah, Abu Dhabi (Uni Emirat Arab), Muscat (Oman), dan Manchester (Inggris).

Sebelumnya, maskapai itu hanya mengalami sekali kecelakaan pada bagian ekor pesawat di Bandara Quetta pada 2008. Tidak ada korban jiwa saat itu.

Kali terakhir kecelakaan pesawat di Pakistan terjadi pada Juli 2006. Ketika itu, sebuah pesawat Fokker F-27 milik Pakistan International Airlines (PIA) jatuh di ladang gandum di pinggiran Kota Multan, Pakistan bagian tengah. Sebanyak 45 orang tewas.

Sebelumnya, kecelakaan terburuk pesawat terbang Pakistan terjadi pada 1979 dan 1992. Sebuah pesawat jet milik PIA jatuh di Jeddah, Arab Saudi, pada 1979 dan menewaskan 156 penumpang dan awaknya. Sedangkan kecelakaan pada 1992 terjadi Kathmandu, Nepal, dan menewaskan 167 orang. (AFP/Rtr/AP/c5/dwi)


------------------------
" Alam dan Adat Bicara"
READ MORE - Pesawat Airblue Pakistan Jatuh di Hutan, 152 Tewas

Banjir Hanyutkan 1.000 Barel Bahan Kimia


BEIJING, KOMPAS.com - Banjir di China timur laut telah menghanyutkan lebih dari 1.000 barel bahan kimia yang bisa meledak ke dalam satu sungai besar.

Peristiwa itu terjadi di sepanjang Sungai Songhua, yang airnya meluap, di Kota Jili, Provinsi Jilin, Rabu (28/7) pagi, demikian laporan kantor berita resmi China, Xinhua. Penduduk yang dihubungi melalui telepon mengatakan, pasokan air bersih telah terputus untuk sementara di beberapa bagian kota tersebut, tapi akan kembali normal.

Semua drum itu berasal dari satu pabrik kimia berisi 160.000 kilogram cairan kimia yang bisa meledak, kata beberapa pejabat setempat. "Para pekerja darurat telah berusaha menemukan drum tersebut dan dinas perlindungan pemerintah lokal memantau secara seksama kualitas air di sungai itu," demikian antara lain isi laporan Xinhua.

China seringkali menghadapi tumpahan bahan kimia di sungainya yang mengakibatkan dihentikannya pasokan air bersih. Peristiwa paling serius terjadi tahun 2005, ketika ledakan di satu pabrik industri mengalirkan bahan kimia beracun ke dalam Sungai Songhua agak lebih ke hulu, di Harbin. Peristiwa tersebut memaksa dihentikannya pasokan air bersih buat hampir 4 juta warga.

Menurut laporan Xinhua, hujan lebat sepanjang tahun ini di seluruh daerah luas China tengah dan selatan telah menewaskan 928 orang dan membuat 477 orang lagi hilang, dan menimbulkan kerugian sebesar 176,5 miliar yuan (26,04 miliar dolar AS). Sebanyak 875.000 rumah telah ambruk, 9,61 juta orang diungsikan dan 8,76 juta hektare tanaman rusak, katanya. China timurlaut juga telah diguyur hujan lebat selama beberapa hari belakangan.


------------------------
" Alam dan Adat Bicara"

READ MORE - Banjir Hanyutkan 1.000 Barel Bahan Kimia

Macet di Jakarta Seharusnya Dipikirkan Sejak 30 Tahun Lalu


Jakarta - Kemacetan lalu lintas di Ibukota bukan hal baru. Kemacetan lantas sering kali dimahfumkan. Ketika kemacetan sudah semakin menggila dan semakin disadari banyak kerugian yang ditimbulkan, barulah lebih sering dibahas pembuat kebijakan.

"Seharusnya seperti Nabi Nuh, siap-siap perahu sebelum banjir. Sekarang ini kita sedang membuat perahu di tengah banjir," ujar koordinator Railway & Transportation Resource Center LAPI -ITB Harun Al Rasyid dalam perbincangan dengan detikcom, Kamis (29/7/2010).

Menurut Harun, masalah transportasi seharusnya sudah dibahas sejak 30 tahun lalu. Ketika suatu wilayah direncanakan untuk berkembang, maka sudah harus dipikirkan pula sejak awal adanya kemungkinan kemacetan yang luar biasa.

Disampaikan dia, masalah pertransportasian di Indonesia sangatlah kompleks. Sebab banyak sekali armada maupun prasarana yang sudah usang. "Kalau boleh saya katakan, semua dalam critical," imbuhnya.

Menurut Harun, banyak kegiatan terkait pembenahan transportasi seperti infrastruktur dan layanannya yang mandek. Banyak bangunan akhirnya tidak selesai-selesai dibangun. "Tiang-tiang monorel jadi ditumbuhi jamur," keluhnya.

Terkait wacana kebijakan Electronic Road Pricing (ERP) atau sistem jalan berbayar untuk mengurai kemacetan, menurut Harun, hal itu adalah permainan madu dan racun. ERP adalah racun karena menjadi sesuatu yang tidak enak yang harus diberikan. Namun sebagai imbalannya, harus diberikan pula madu kepada masyarakat.

"Madu ini adalah armada dan infrastruktur yang memadai. Jadi jangan hanya komitmen tanpa diikuti realisasi," kata Harun. (nrl/nrl)
------------------------
" Alam dan Adat Bicara"
READ MORE - Macet di Jakarta Seharusnya Dipikirkan Sejak 30 Tahun Lalu

Selasa, 27 Juli 2010

Cuaca Buruk, Ratusan Tewas Selama Juni 2010


Liputan6.com, Jakarta: Cuaca buruk menghantui Indonesia dan beberapa negara lain selama beberapa bulan terakhir. Ini terjadi akibat penyimpangan musim kemarau yang terjadi baru-baru ini.

Berdasarkan catatan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika, penyimpangan musim kemarau membuat hujan lebat terjadi di sejumlah negara selama Juni 2010. Tak hanya mendatangkan hujan, cuaca buruk juga menelan korban jiwa yang tidak sedikit. Di Prancis bagian selatan misalnya. Di sana, selama Juni ada 15 orang yang tewas dan 12 hilang akibat cuaca buruk. Dua hari kemudian, 46 orang tewas dan 600 rumah terendam di Mumbai, India.

Masih di tanggal 17 Juni, 25 tewas di Yangoon, Myanmar. Sedangkan di Victoria, Australia, sedikitnya 100 rumah rusak akibat cuaca buruk. Bahkan, Singapura yang tak pernah mengalami banjir, juga terendam akibat dampak dari cuaca yang tak menentu [baca: Dampak Badai, Singapura Banjir]

Paling banyak tewas di Bangladesh bagian selatan pada 17 Juni. Di sana, sedikitnya ada 17 orang yang meninggal dunia. Di saat yang sama, 28 kota di Cina terendam banjir dengan kerugian yang tidak sedikit [baca: Banjir dan Longsor Masih Ancam Cina]

Sementara di Indonesia, potensi hujan diprediksi dengan intensitas sedang sampai lebat masih akan terjadi hingga pertengahan Juli 2010. Soalnya, kecenderungan musim kemarau 2010 lebih pendek dibanding normalnya. Untuk itu, masyarakat diimbau berhati-hati dalam menyikapi perubahan cuaca tersebut.(ULF)

------------------------
" Alam dan Adat Bicara"
READ MORE - Cuaca Buruk, Ratusan Tewas Selama Juni 2010

Terhempas Gelombang, Tongkang Batu Bara Terdampar

Liputan6.com, Pandeglang: Cuaca buruk dan gelombang laut yang besar di perairan Labuan, Banten, Selasa (27/7) telah menghantam tiga tongkang yang memuat ribuan ton batubara hingga terdampar.

Evakuasi kapal dengan mengerahkan dua kapal tugboat gagal dilakukan karena gelombang laut yang masih tinggi. Proses evakuasi ketiga tongkang maupun pasokan batubara asal Kalimantan pun untuk sementara dihentikan karena cuaca buruk.

Cuaca buruk yang melanda pesisir Pandeglang sejak Selasa malam lalu juga membuat ratusan nelayan di perairan Labuan tidak berani melaut. Sejumlah nelayan yang nekat melaut di tengah cuaca buruk, akhirnya kembali pulang tanpa hasil tangkapan ikan. Sejumlah nelayan bahkan sempat kesulitan ketika akan memasuki bagian muara dan pesisir pantai untuk berlindung dari hempasan gelombang.(AYB)

------------------------
" Alam dan Adat Bicara"
READ MORE - Terhempas Gelombang, Tongkang Batu Bara Terdampar

Garuda Terhadang Cuaca Buruk


MAKASSAR, KOMPAS.com — Humas PT Garuda Indonesia, Pujobroto, mengatakan, pesawat GA 655 yang semestinya berangkat pukul 12.00 Wita, Selasa (27/7/2010), dari Bandara Internasional Sultan Hasanuddin, Makassar, menuju Jakarta terhadang cuaca buruk di Timika, Papua.

Saat tiba di Bandara Sultan Hasanuddin pada pukul 14.00 Wita, starter engine pesawat terganggu sehingga gagal berangkat menuju Jakarta. Sementara itu, penerbangan lainnya, yakni GA 605, yang sedianya berangkat ke Jakarta pukul 15.00 Wita, mengalami gangguan pada sistem hidrolik.

Menurut Pujobroto, untuk mengatasi hal itu, 40 penumpang telah diberangkatkan ke Jakarta dengan pesawat GA 333 tujuan Surabaya pada pukul 20.00 Wita. Adapun para penumpang GA 655 dan GA 605 lainnya akan diberangkatkan ke Jakarta menggunakan pesawat Boeing 737-800 NG yang rencananya tiba di Makassar pukul 22.50 Wita.

"PT Garuda Indonesia minta maaf atas ketidaknyamanan ini. Pergantian pesawat dilakukan atas pertimbangan mengutamakan aspek keselamatan penumpang," tutur Pujobroto.

------------------------
" Alam dan Adat Bicara"
READ MORE - Garuda Terhadang Cuaca Buruk

Permukiman Padat di Kemayoran Terbakar


Liputan6.com, Jakarta: Kebakaran kembali terjadi di kawasan permukiman padat penduduk di Ibu Kota, tepatnya di Kemayoran, Jakarta Pusat, Senin (26/7) siang. Kobaran api dengan cepat membesar dan merembet dari rumah ke rumah yang lainnya. Kepanikan warga pun terlihat saat api mulai menghanguskan belasan rumah. Satu orang warga dikabarkan hilang dalam kebakaran ini dan sampai saat ini belum diketahui nasibnya.

Sementara api yang berkobar baru dapat dikuasai sekitar satu jam kemudian setelah petugas mengerahkan 26 unit mobil pemadam kebakaran. Polisi yang berada di lokasi juga langsung melakukan penyelidikan. Dari keterangan warga, kebakaran diduga berasal dari ledakan tabung gas dari rumah salah satu warga. Tetapi keterangan itu belum dapat dibuktikan.(ADO)

------------------------
" Alam dan Adat Bicara"
READ MORE - Permukiman Padat di Kemayoran Terbakar

Asrama Polisi Kemayoran Terbakar


Liputan6.com, Jakarta: Kebakaran hebat melanda Asrama Polisi Kemayoran, Jalan Raya Kran V, Kelurahan Gunung Sahari Selatan, Kecamatan Kemayoran, Jakarta Pusat, Senin (26/7) sekitar pukul 13.00 WIB. Menurut Sulasto, petugas piket pemadam kebakaran Jakpus.

"Belum diketahui (api) dari mana asalnya, namun sementara diduga karena hubungan pendek arus listrik," kata Sulastro. "Tim pemadam sedang berusaha melokalisir kobaran api." Sulasto menambahkan, kobaran api sulit dipadamkan akibat kencangnya tiupan angin. "Sampai saat ini, belum ada kepastian kalau api sudah padam," ucap Sulasto.

Seorang saksi mata mengatakan, sedikitnya 20 rumah di kompleks asrama itu sudah terbakar. "Semua penghuni asrama berusaha memindahkan barang berharga dari rumah yang berada dekat dengan lokasi kebakaran," katanya.(BOG/Ant)

------------------------
" Alam dan Adat Bicara"
READ MORE - Asrama Polisi Kemayoran Terbakar

Gudang Distributor Kosmetik Terbakar


Liputan6.com, Surabaya: Gudang dan perkantoran milik PT Cempaka Indah Murni, distributor produk kosmetik, di kawasan Bibis, Surabaya, Jawa Timur, ludes dilalap si jago merah, Senin (26/7).
Menurut saksi mata, api mulai terlihat dari lantai dua dan langsung membesar.

Petugas pemadam kebakaran mengerahkan delapan unit mobil kebakaran, untuk menjinakan si jago merah. Para penghuni kantor berusaha mengevakuasi barang-barang dari dalam gudang, untuk meminimalisir jumlah kerugian.

Diperkirakan, jumlah kerugian akibat kebakaran itu mencapai ratusan juta Rupiah. Diduga, kebakaran akibat hubungan arus pendek.(MRQ/SHA)

------------------------
" Alam dan Adat Bicara"
READ MORE - Gudang Distributor Kosmetik Terbakar

Seminggu, Tiga Kali Tabung Meledak


CILACAP, KOMPAS.com — Seorang warga Desa Mulyadadi RT 01 RW 01, Kecamatan Majenang, Cilacap, Jawa Tengah, Sodikin, mengalami luka bakar di kedua kakinya akibat ledakan gas tabung 3 kilogram. Sodikin bercerita, peristiwa tersebut terjadi pada Minggu (25/7/2010) siang. "Waktu itu tercium bau gas sehingga saya berusaha melepas regulator dari tabung," katanya, Senin ini.

Akan tetapi, saat melepas regulator, tiba-tiba api menyala dari tabung tersebut dan langsung menyambar dan membakar kedua kakinya hingga melepuh. Dia mengaku tidak mengetahui asal api karena saat itu kompor dalam keadaan mati.

"Saya pun segera dibawa ke Rumah Sakit Umum Daerah Majenang untuk mendapat perawatan. Namun, saya memilih rawat jalan saja," katanya. Ledakan gas Pertamina itu diduga akibat buruknya kualitas selang regulator yang digunakan Sodikin sehingga tidak mampu menahan tekanan gas yang keluar dari tabung.

Selang regulator yang tidak berlabel Standar Nasional Indonesia (SNI) itu sobek sekitar lima sentimeter pascaledakan tersebut. Peristiwa ledakan gas Pertamina tabung 3 kilogram itu merupakan ledakan kali ketiga di Kabupaten Cilacap dalam kurun waktu kurang dari satu minggu.

Ledakan pertama pada Rabu (21/7/2010) di RT 04 RW 10 Kelurahan Sidakaya, Kecamatan Cilacap Selatan, dengan korban seorang penjual jamu keliling berasal dari Solo bernama Sri Winih (24). Ia mengalami luka bakar. Sementara itu, atap dapur rumah kontrakannya jebol. Ledakan kedua pada Jumat (23/7/2010) di rumah Laman Martowigeno (71), warga RT 03 RW 03 Desa Glempang, Kecamatan Maos. Ledakan ini juga mengakibatkan atap dapurnya jebol.

------------------------
" Alam dan Adat Bicara"
READ MORE - Seminggu, Tiga Kali Tabung Meledak