Minggu, 05 Februari 2012

Pasar Woma Wamena Terbakar

WAMENA - Kasus kebakaran kembali terjadi di Wamena, Kabupaten Jayawijaya. Jika sebelumnya Rabu (1/2) satu unit barak milik Pemerintah Kabupaten Jawijaya ludes terbakar, maka Jumat (3/2) sekitar pukul 15.30 WIT, giliran Pasar Woma mengalami kebakaran.

Akibatnya, satu los dan 14 petak kios pasar milik Pemerintah Kabupaten Jawijaya itu tinggal puing Tidak ada korban jiwa dalam kejadian ini, namun kerugian material ditaksir mencapai ratusan juta rupiah.

Kobaran api yang begitu cepat langsung membesar dan menghanguskan seluruh bangunan los pasar yang terletak di bagian belakang pasar itu. Kobaran api baru dapat dipadamkan setengah jam kemudian setelah satu unit mobil pemadam kebarakan milik Pemkab Jawijaya turun ke lokasi kejadian.

Mina, salah satu saksi mata saat ditemui Cenderawasih Pos mengatakan, titik api dan asap kebakaran pertama kali terlihat dari salah satu warung makan yang posisinya bersebelahan dengan los pasar di bagian belakang itu. Dari titik awal asap yang mengempul itulah kobaran api kemudian membesar dan merambat ke sejumlah kios dan warung serta los pasar.

"Saya pada saat itu melihat asap berasal dari warung makan di belakang los, kemudian teriak ada kebakaran. Namun kami tidak bisa berbuat banyak karena kobaran api begitu cepat membesar," ujarnya.

Petugas Reskrim Polres Jayawijaya pun melakukan penyelidikan lebih lanjut untuk mengungkap penyebab kebakaran ini. Petugas telah melakukan olah tempat kejadian perkara dan meminta keterangan kepada sejumlah saksi.

Dari pantauan Cenderawasih Pos, sejumlah korban kini telah mengungsi ke keluarga mereka, karena rumah dan tempat usaha mereka telah ludes terbakar dilahap si jago merah itu. (ben/fud).
--------------------------------
OPERASI SANDI "AWAS!"
Pemangku Alam dan Adat
READ MORE - Pasar Woma Wamena Terbakar

Sabtu, 04 Februari 2012

Pesawat Tabrak Gunung di Papua


Aparat keamanan yang ada di lokasi kejadian mencoba mengevakuasi dan mencari korban.
VIVAnews - Kecelakaan peawat kembali terjadi di Papua. Pesawat milik maskapai Quality Air yang mengangkut BBM tergelincir dan menabrak gunung, di Lapangan terbang Bilai, Distrik Homeyo, Kabupaten Intan Jaya, Papua, Sabtu, 4 Februari 2012 sekitar pukul 09.45 WIT.
"Pesawat tergelincir pada saat cuaca berkabut lalu menbrak gunung," kata juru bicara Polda Papua, Komisaris Besar Polisi Wachyono, kepada VIVAnews.com. Saat ini, anggota Polsek dan Koramil setempat sudah berada di lokasi kejadian.

Aparat keamanan yang ada di lokasi kejadian mencoba mengevakuasi dan mencari korban. Menurut Wachyono, hingga saat ini tidak ditemukan adanya korban jiwa akibat kecelakaan yang terjadi pagi tadi.

Tapi, kerusakan parah terjadi pada pesawat kecil yang belum diketahui jenisnya itu. "Sayap kirinya patah. Baling-baling juga bengkok," ujarnya lagi.

Informasi yang diterima, pesawat yang diawaki Kapten Pilot Rafael Baskara dan Engineering Erwin Faisal itu berangkat dari Bandara Nabire menuju Homeyo. Pesawat mengangkut BBM jenis solar milik PT UMI, perusahaan yang sedang mengerjakan proyek pembangunan jalan Sugapa - Enarotali.

Sekitar pukul 09.45 WIT, pada saat akan mendarat di lapangan terbang Homeyo, terjadi gangguan angin dari arah kiri pesawat. Pesawat mencoba menghindari angin dan pilot berusaha untuk mendarat ke arah kiri.

Tapi, saat menyentuh landasan, roda pesawat tiba-tiba patah. Akibatnya, sayap kiri pesawat terseret ke landasan termasuk baling-balingnya. Meski sempat menabrak gunung, sambung Wachyono, pilot dan mekanik selamat. "Tidak ada korban jiwa, BBM yang diangkut juga aman," ujar dia.
--------------------------------
OPERASI SANDI "AWAS!"
Pemangku Alam dan Adat
READ MORE - Pesawat Tabrak Gunung di Papua

Banjir Genangi Jalur Kereta Api di Pasuruan

PASURUAN, KOMPAS.com — Banjir kiriman melanda puluhan desa di 8 kecamatan setelah sehari hujan mengguyur wilayah pegunungan di Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur. Banjir terjadi setelah sejumlah sungai tidak mampu menampung derasnya debit air. Tak hanya itu, banjir juga menggenangi arus lalu lintas di jalur pantura dan jalur rel kereta api, Jumat (3/2/2012).

Puluhan desa yang dilanda banjir itu tersebar di delapan kecamatan, yakni Kecamatan Bugul Kidul, Beji, Bangil, Pandaan, Rembang, Winongan, Rejoso, dan Grati. Kecamatan terparah di Kecamatan Bangil karena tercatat delapan desa yang rumahnya terendam genangan air. Ketinggian air mulai 50 sentimeter hingga 1 meter.

"Kemungkinan air akan terus naik, karena hujan di wilayah pegunungan juga masih deras. Untuk itu petugas masih mengumpulkan data-data desa yang dilanda banjir," ujar Yudha Triwidya Sasongko, Ketua BPBD Kabupaten Pasuruan.

Penyebab meluasnya banjir kiriman akibat beberapa sungai tak mampu menampung derasnya aliran air dari wilayah pegunungan. Di antaranya Sungai Kedung Larangan, Sungai Rejoso, dan Sungai Blandongan.

"Air meluber hingga ke jalan raya dan perkampungan. Dan, ini paling terparah selama musim penghujan," ujar Munawar, warga Blandongan, Bugul Kidul.

Selain puluhan desa, genangan air juga merendam arus lalu lintas di jalur pantura, tepatnya di Kecamatan Rejoso, Kabupaten Pasuruan, dan Kecamatan Bugul Kidul, Kota Pasuruan. Arus lalu lintas dari Pasuruan menuju Probolinggo-Banyuwangi atau sebaliknya merambat hingga 4 kilometer.

Sementara jalur kereta api yang terendam air setinggi 20 sentimeter di Km 1 Stasiun Kota Pasuruan. "Semoga saja kereta api Mutiara Timur tak terganggu karena air yang biasa menggenangi jembatan ini cepat surut," ujar Marhadi, Kabag Pengawas Rel Stasiun Kota Pasuruan.
--------------------------------
OPERASI SANDI "AWAS!"
Pemangku Alam dan Adat
READ MORE - Banjir Genangi Jalur Kereta Api di Pasuruan

Banyak Seni Sakral Beralih Fungsi Hiburan

DENPASAR, KOMPAS.com--Pengamat sosial dari Institut Hindu Dharma Negeri (IHDN) Denpasar, Dr Wayan Suarjaya, menilai, banyak kesenian sakral di Bali beralih fungsi menjadi seni hiburan.

"Padahal seni sakral sangat terkait dengan ruang, waktu, dan proses untuk melengkapi kegiatan ritual umat Hindu," katanya di Denpasar, Kamis.

Mantan Dirjen Bimas Hindu Departemen Agama itu menambahkan bahwa fungsi dan makna seni sakral sangat terkait dengan aktivitas keagamaan sehingga saling melengkapi antara kegiatan ritual dan pementasan.

Sebaliknya seni tari itu bisa menjadi sakral dan bermakna, jika didukung oleh pelaksanaan upacara keagamaan. "Kondisi di Bali saat ini antara sakral dan profan sangat berimpitan," katanya.

Menurut dia, di Bali secara konseptual setiap aktivitas seni atau kesenian seprofan apa pun selalu diawali dengan proses ritual.

Oleh sebab itu, jika ingin masih tetap menempatkan kesakralan sebuah kesenian, maka pada waktu pelaksanaan upacara di pura atau tempat suci milik keluarga, termasuk disaksikan wisatawan hendaknya memenuhi aturan yang berlaku selama ini di masyarakat setempat, meskipun tidak ada aturan tertulis.

Wayan Suarjaya berpendapat bahwa aktivitas seni dan keagamaan merupakan hasil cipta, rasa dan karsa sehingga pelaksanaannya tidak bisa lepas dengan adat, budaya, dan agama Hindu.

Adat dan budaya mengemas pelaksanaan aktivitas keagamaan sehingga menambah kemantapan keyakinan umat Hindu, sedangkan budaya dan adat dijiwai oleh agama yang dianut masyarakat Bali.

"Agama, adat dan budaya ibarat sebutir telur, intinya adalah agama, putih telurnya sebagai pembungkus kuning telur sebagai adat, sedangkan yang tampak paling besar adalah kulit telur sebagai budaya yang ketiganya saling melengkapi dan saling mengisi, sekaligus menentukan keberhasilan dalam aktivitas keagamaan dan budaya masyarakat Bali," Wayan Suarjaya.
--------------------------------
OPERASI SANDI "AWAS!"
Pemangku Alam dan Adat
READ MORE - Banyak Seni Sakral Beralih Fungsi Hiburan

Budaya: Bahasa Tandia di Papua Barat Punah


MANOKWARI, KOMPAS.com - Bahasa asli penduduk Tandia, Distrik Rasiei, Kabupaten Teluk Wondama, Papua Barat, dipastikan punah. Saat ini idak ada lagi penuturnya, dan tak lagi dikenal oleh masyarakat sukunya.
Faktor pemekaran wilayah hingga perkawinan antarsuku, diduga menjadi penyebab kepunahan bahasa daerah itu.

Menurut Kepala Pusat Penelitian Bahasa dan Budaya Universitas Negeri Papua (Unipa), Andreas Deda, Jumat (3/2/2012), bahasa Tandia milik suku Mbakawar (Tandia) diperkirakan sudah punah sejak tahun 1970-an.
Sebelumnya, bahasa daerah ini diduga mati, maksudnya ada penuturnya tetapi tak digunakan dalam percakapan sehari-hari.
Namun, setelah dilakukan penelitian pada awal 2011, ternyata tidak ada lagi masyarakat suku Mbakawar yang tersebar di empat kampung di Distrik Rasiei, menguasai dan menggunakan bahasa itu sehari-hari.
Dari tiga orang warga yang dijadikan nara sumber, semuanya lanjut usia, ternyata hanya menguasai kurang dari 30 suku kata dan frase bahasa Tandia.
"Tidak ada lagi penduduk asli suku Mbakawar yang bisa bahasa Tandia. Sehari-hari, mereka memakai bahasa Wandamen, bahasa suku Wamesa yang juga mendiami daerah Teluk Wondama," kata Andreas.

Punahnya bahasa Tandia disebabkan sejumlah faktor, di antaranya perkawinan antarsuku yang terjadi selama ratusan tahun. Banyaknya laki- laki suku Mbakawar menikahi perempuan suku Wamesa (Wandamen), mengakibatkan anak-anak mereka lebih mengenal bahasa ibunya, ketimbang bahasa dari keluarga ayahnya.
Pusat keramaian di daerah Teluk Wondama adalah di kampung suku Wamesa, sehingga bahasa pergaulan yang lebih banyak dipakai adalah bahasa Wandamen.
Selain itu, pewarisan bahasa Tandia terhalang mitos yang berkembang di kalangan suku mereka sendiri. Ada keyakinan, jika anak suku Mbakawar menggunakan bahasa Tandia saat orang tuanya masih hidup, maka dia akan celaka. Bahasa ini dianggap tabu digunakan dalam percakapan antar orang tua dan anaknya.
Penyebab lainnya, tambah dosen linguistik Unipa, Hendrik Arwam, adalah pemekaran wilayah yang jamak terjadi di tanah Papua.
Pengguna dan penutur bahasa menjadi lebih sedikit, karena terpisah wilayah administrasi. Ditambah lagi, kesadaran orang tua mengenalkan dan membiasakan anak-anaknya menggunakan bahasa daerah.
Sejarah panjang mobilisasi dan penaklukan suku tertentu terhadap wilayah suku lain di tanah Papua, juga menyebabkan bahasa dari sebuah suku tidak digunakan lagi dan hilang. Tak jarang, malah memunculkan ragam bahasa daerah baru, yang merupakan percampuran bahasa suku asli dangan suku penakluk.
Diperkirakan 30 dari 58 bahasa daerah di Papua Barat punah selama 20 tahun terakhir. Selain itu, 10-15 bahasa daerah juga dipastikan mati, karena tidak pernah digunakan lagi oleh penuturnya, seperti bahasa Meyah, Mpur, Dusner, dan Karondori.
Andreas menyesalkan pemda serta lembaga dewan adat tidak tanggap dengan kondisi seperti ini. Seharusnya, pemda mengajarkan bahasa daerah pada kurikulum muatan lokal di sekolah, sementara lembaga dewan adat tidak hanya mengurusi politik, yang bukan sepenuhnya urusan lembaga adat.
--------------------------------
OPERASI SANDI "AWAS!"
Pemangku Alam dan Adat
READ MORE - Budaya: Bahasa Tandia di Papua Barat Punah

Jumat, 03 Februari 2012

Feri Papua Nugini Berpenumpang 350 Orang Tenggelam


Feri Papua Nugini Berpenumpang 350 Orang Tenggelam
TEMPO.CO, Post Moresby - Regu penyelamat telah mengevakuasi 230 orang dari perkiraan 350 penumpang kapal feri milik Papua Nugini yang tenggelam di wilayah pantai timur Papua Nugini, Kamis 2 Februari 2012. Sebuah pesawat milik Australia, tiga helikopter dan delapan kapal dikerahkan.

Feri bernama Rabaul Queen itu berangkat dari Pelabuhan Kimbe di Pulau New Britain, menuju ke Kota Lae. Kapal itu tenggelam di 80 kilometer sebelah timur Lae yang merupakan kota terbesar kedua di negara selatan Samudra Pasifik tersebut.

Dari lokasi kejadian dilaporkan feri terbalik dan tenggelam empat jam kemudian. Australian Broadcasting Corp menyebutkan sebagian besar penumpang adalah mahasiswa, pelajar dan guru.

Kepala Badan Cuaca Nasional (National Weather Service), Sam Maiha, mengatakan perusahaan kapal telah diberi peringatan perihal ancaman cuaca buruk.

Perdana Menteri Papua Nugini Sam O’Neill belum bisa memastikan penyebab tenggelamnya kapal. Namun, kemungkinan besar sistem keamanan adalah salah satu penyebabnya.

“Perusahaan-perusahaan harus meningkatkan sistem keamanannya,” ujar O’Neill kepada wartawan.

Juru Bicara Otoritas Keselamatan Maritim Australia, Carly Lusk, mengatakan, “Pesawat pertama regu penyelamat melemparkan pelampung dan perahu karet bagi korban.” Ia menambahkan, sebanyak 238 korban berhasil diselamatkan.

Koordinator regu penyelamat, Kapten Nurur Rahman, belum mengkonfirmasikan kepastian jumlah penumpang yang berada dalam kapal nahas tersebut. “Saya belum bisa memastikan apakah benar terdapat 350 penumpang di feri itu,” ujarnya.

Pencarian korban kemungkinan ditunda sampai Jumat karena buruknya cuaca. Ia mengatakan sampai kini belum ada lagi korban yang ditemukan. “Saya berharap semakin banyak korban selamat yang ditemukan,” kata Rahman.

Korban selamat sebagian menderita luka ringan, walaupun terdapat seorang korban yang mengalami patah tulang.

Sementara itu, perusahaan yang menjadi operator Kapal Rabaul Queen belum mau memberikan keterangan terkait kecelakaan.
Kapal Feri Tenggelam di Papua Nugini, 100 Orang Masih Hilang
Sydney - Regu penyelamat masih mencari 100 orang yang masih hilang saat tenggelamnya kapal MV Rabual Queen di Papua Nugini. Sejauh ini regu penyelamat telah berhasil menyelamatkan 238 korban dari 350 penumpang kapal.

Menurut Lembaga Keselamatan Maritim Australia (AMSA), kapal tersebut tenggelam saat berjarak 16 kilometer dari lepas pantai dan para korban yang selamat telah berada di sebelah timur Kota Lae.

"Lima kapal, dengan total 238 korban yang berada di atas kapal, melanjutkan pejalan menuju Lae dengan kapal yang pertama tiba lama setelah pukul 01.00 dini hari," ujar AMSA, seperti diberitakan AFP,Jumat (3/1/2012).

"Para penumpang yang dipindahkan ke Lae di bawah koordinasi pemerintah PNG," tambahnya.

AMSA menambahkan, tiga kapal masih berada di tempat kejadian untuk melanjutkan pencarian dan dibantu oleh dua pesawat Australia dan dua helikopter lokal.

Pemilik kapal mengatakan pihaknya kehilangan kontak dengan MV Rabaul Ratu saat melakukan perjalanan antara Kimbe dan Lae.

Dalam sebuah pernyataan pemilik kapal, terdapat 350 penumpang dan 12 awak yang berada di atas buatan Jepang itu. Para penumpang adalah penduduk lokal Papua Nugini dan pelajar yang hendak menuju Lae.

Perusahaan itu mengatakan masih belum mengetahui secara penyebab kapal tersebut tenggelam. "Ini dipahami bahwa kapten feri rutin melakukan kontak dengan kapal lain sebelum tenggelam," kata perusahaan tersebut.

"Tampaknya tidak ada indikasi gangguan selama komunikasi ini." jelasnya. Dikatakanya, mereka mulai sadar ada yang tidak beres saat kapal tidak terlihat di dalam radar. (fiq/rdf).
--------------------------------
OPERASI SANDI "AWAS!"
Pemangku Alam dan Adat
READ MORE - Feri Papua Nugini Berpenumpang 350 Orang Tenggelam

Kebakaran di Entrop, Kerugian Rp 10 M


JAYAPURA – Meski tidak ada korban jiwa, namun kebakaran yang menghanguskan 8 bangunan di daerah Bucen 2 Entrop Jayapura kemarin Rabu (1/2)sekitar 17.00wit, menimbulkan kerugian yang sangat besar yakni mencapai Rp 10 miliar . Kerugian material ini meliputi bangunan dan isinya.
Hal ini dikatakan Kepala Bidang Humas Polda Papua Kombes Pol Wachyono kepada Bintang Papua ketika dikonfirmasi di Jayapura Kamis (2/2). “ Untuk kebakaran kemarin yang terjadi di Bucen 2 Entrop yang melahap bangunan serta seluruh isinya habis mencapai kerugian sekitar Rp 10 milyard,”katanya.
Lanjut Kabid Humas Polda Papua Wachyono “ untuk sementara penyebab kebakaran masih lidik dan masih dalam penyelidikan yang langsung ditangani oleh Pihak Polda Papua dengan melakukan olah TKP . “Dan untuk penyidikan kami telah melakukan pemeriksaan kepada tiga orang saksi yakni NA, AGS, A,” lanjut Wachyono. Ia mengatakan untuk sementara saksi akan diminta keterangan yang akan diperkuat oleh pengumpulan barang bukti dan proses penyidikan masih terus di lakukan. Sedangkan untuk korban jiwa sendiri tidak ada tegas Wachyono,”.(cr32/don/l03).
--------------------------------
OPERASI SANDI "AWAS!"
Pemangku Alam dan Adat
READ MORE - Kebakaran di Entrop, Kerugian Rp 10 M

Kamis, 02 Februari 2012

Feri Papua Nugini Berpenumpang 350 Orang Tenggelam

Feri Papua Nugini Berpenumpang 350 Orang Tenggelam
TEMPO.CO, Post Moresby - Regu penyelamat telah mengevakuasi 230 orang dari perkiraan 350 penumpang kapal feri milik Papua Nugini yang tenggelam di wilayah pantai timur Papua Nugini, Kamis 2 Februari 2012. Sebuah pesawat milik Australia, tiga helikopter dan delapan kapal dikerahkan.

Feri bernama Rabaul Queen itu berangkat dari Pelabuhan Kimbe di Pulau New Britain, menuju ke Kota Lae. Kapal itu tenggelam di 80 kilometer sebelah timur Lae yang merupakan kota terbesar kedua di negara selatan Samudra Pasifik tersebut.

Dari lokasi kejadian dilaporkan feri terbalik dan tenggelam empat jam kemudian. Australian Broadcasting Corp menyebutkan sebagian besar penumpang adalah mahasiswa, pelajar dan guru.

Kepala Badan Cuaca Nasional (National Weather Service), Sam Maiha, mengatakan perusahaan kapal telah diberi peringatan perihal ancaman cuaca buruk.

Perdana Menteri Papua Nugini Sam O’Neill belum bisa memastikan penyebab tenggelamnya kapal. Namun, kemungkinan besar sistem keamanan adalah salah satu penyebabnya.

“Perusahaan-perusahaan harus meningkatkan sistem keamanannya,” ujar O’Neill kepada wartawan.

Juru Bicara Otoritas Keselamatan Maritim Australia, Carly Lusk, mengatakan, “Pesawat pertama regu penyelamat melemparkan pelampung dan perahu karet bagi korban.” Ia menambahkan, sebanyak 238 korban berhasil diselamatkan.

Koordinator regu penyelamat, Kapten Nurur Rahman, belum mengkonfirmasikan kepastian jumlah penumpang yang berada dalam kapal nahas tersebut. “Saya belum bisa memastikan apakah benar terdapat 350 penumpang di feri itu,” ujarnya.

Pencarian korban kemungkinan ditunda sampai Jumat karena buruknya cuaca. Ia mengatakan sampai kini belum ada lagi korban yang ditemukan. “Saya berharap semakin banyak korban selamat yang ditemukan,” kata Rahman.

Korban selamat sebagian menderita luka ringan, walaupun terdapat seorang korban yang mengalami patah tulang.

Sementara itu, perusahaan yang menjadi operator Kapal Rabaul Queen belum mau memberikan keterangan terkait kecelakaan.
Kapal Feri Tenggelam di Papua Nugini, 100 Orang Masih Hilang
Sydney - Regu penyelamat masih mencari 100 orang yang masih hilang saat tenggelamnya kapal MV Rabual Queen di Papua Nugini. Sejauh ini regu penyelamat telah berhasil menyelamatkan 238 korban dari 350 penumpang kapal.

Menurut Lembaga Keselamatan Maritim Australia (AMSA), kapal tersebut tenggelam saat berjarak 16 kilometer dari lepas pantai dan para korban yang selamat telah berada di sebelah timur Kota Lae.

"Lima kapal, dengan total 238 korban yang berada di atas kapal, melanjutkan pejalan menuju Lae dengan kapal yang pertama tiba lama setelah pukul 01.00 dini hari," ujar AMSA, seperti diberitakan AFP,Jumat (3/1/2012).

"Para penumpang yang dipindahkan ke Lae di bawah koordinasi pemerintah PNG," tambahnya.

AMSA menambahkan, tiga kapal masih berada di tempat kejadian untuk melanjutkan pencarian dan dibantu oleh dua pesawat Australia dan dua helikopter lokal.

Pemilik kapal mengatakan pihaknya kehilangan kontak dengan MV Rabaul Ratu saat melakukan perjalanan antara Kimbe dan Lae.

Dalam sebuah pernyataan pemilik kapal, terdapat 350 penumpang dan 12 awak yang berada di atas buatan Jepang itu. Para penumpang adalah penduduk lokal Papua Nugini dan pelajar yang hendak menuju Lae.

Perusahaan itu mengatakan masih belum mengetahui secara penyebab kapal tersebut tenggelam. "Ini dipahami bahwa kapten feri rutin melakukan kontak dengan kapal lain sebelum tenggelam," kata perusahaan tersebut.

"Tampaknya tidak ada indikasi gangguan selama komunikasi ini." jelasnya. Dikatakanya, mereka mulai sadar ada yang tidak beres saat kapal tidak terlihat di dalam radar. (fiq/rdf).

READ MORE - Feri Papua Nugini Berpenumpang 350 Orang Tenggelam

‘Si Jago Merah’ Ngamuk, Mobil Pemadam Diteriaki


JAYAPURA - ‘Si jago merah mengamuk’ enam (6) unit rumah toko (ruko) maupun kios, di Kompleks Bumi Cenderawasih (Bucend) II Entrop, ludes terbakar. Musibah kebakaran ini terjadi Rabu (01/02) kemarin sore sekitar pukul 15.10 WIT.
Sumber api diduga berasal dari salah satu tempat usaha yang dijadikan bengkel, kemudian menyebar ke beberapa kios maupun ruko, dimana sampai berita ini diturunkan belum diketahui siapa pemiliknya.
Peristiwa kebakaran ini sempat membuat jalanan di sepanjang jalan raya Kompleks Bucend II atau Ardipura Bawah menjadi macet total selama satu jam setengah dan menjadi tontonan warga yang ingin datang melihat musibah kebakaran tersebut.
Berdasarkan Pantauan Bintang Papua, saat api sudah berkobar tinggi atau sekitar setengah jam kemudian mobil pemadam Kebakaran (Damkar) Kota Jayapura yang berada di Distrik Jayapura Selatan ini datang ke lokasi, namun sagat disayangkan oleh warga, dikarenakan mobil Damkar tersebut tidak bisa berfungsi alias rusak, semprotan air dari mobil Damkar tersebut tidak bisa mengeluarkan air guna memadamkan kobaran api yang sudah membesar.
Mobil Damkar yang tidak bisa berfungsi ini langsung mendapatkan cemohan warga yang ada di sekitar lokasi kebakaran dan menyuruhnya pulang saja. “Untuk apa kalian (mobil Damkar) datang, yang hanya Cuma menambah kekecewaan dan kemarahan kepada kami disini,” kata salah satu warga yang tidak mau namanya di korankan. Yang sangat disanyangakn warga ternyata lokasi kebakaran itu tidak jauh dari tempat ‘Markasnya’ Mobil Pemadam milik Kota Jayapura. Kalau musibah dekat saja seperti ini tidak bisa diatasi lantas bagaimana kalau kejadiannya di luar Entrop. “Harusnya mobil pemadam seperti itu selalu siap di tempat, kalau tidak apa gunanya dibeli pemerintah,”jelas warga lainnya.. Saat itu juga korban kebakaran bersama warga sekitar serta dibantu oleh aparat kepolisian bahu membahu untuk memadamkan api yang sudah membesar dan menjalar ke sudut-sudut lainnya, tak lama kemudian mobil Water Cannon dari Polresta Kota Jayapura dan empat unit mobil tangki air, juga datang untuk membantu memadamkan kobaran api yang semakin membesar, sehingga kobaran api sudah agak mengecil.
Ketika Bintang Papua hendak menanyakan mengenai musibah kebakaran ini kepada salah satu korban, tapi korban enggan memberikan komentar dan korban terus menangisi, yang tak disangka tempat usaha butiknya juga ikut terbakar.
Kebakaran ini begitu cepat terjadi, dikarenakan semua bahan-bahan yang ada baik di rumah toko maupun kios tersebut merupakan barang-barang yang mudah terbakar contohnya yang diduga api berasal dari bengkel ini didalamnya banyak tersimpan bahan bakar minyak (BBM) maupun yang terbuat dari bahan karet seperti oli dan ban.
Sedangkan di beberapa tempat lain yang juga ikut dilalap si jago merah merupakan barang-barang yang mudah terbakar di tempat sablon, penjahit maupun butik, dimana barang-barangnya mudah terbakar seperti tinta, kain maupun pakaian jadi.
Sementara itu, saksi Citra (30) Ibu Rumah Tangga (IRT) mengatakan, saat itu dirinya berada didalam dapur mendengar suara gaduh dari luar sekitar pukul 15.10 WIT dan langsung keluar dari dapur melihat apa yang terjadi sebenarnya, namun dirinya kaget bahwa telah terjadi peristiwa kebakaran yang tak jauh dari arah rumahnya.
“Saya yang berada di dapur mendengar suara gaduh dan ribut dari luar rumah, ketika itu juga saya keluar dari dapur melihat asap hitam sudah mengepul dan kobaran api sudah sangat besar sekali dan saya kembali masuk kedalam rumah lagi untuk memberitahukan kepada suami dan anak-anak saya adanya musibah kebakaran yang tak jauh dari rumah kami, setelah itu suami saya menyuruh keluar dari rumah dengan membawa anak-anak dan suami yang keluar rumah belakangan dengan membawa keluar barang-barang berharga milik kami,” tutur Citra yang dimana rumahnya selamat dari musibah kebakaran ini.
Kerugian dari kebakaran ini ditaksir sekitar ratusan juta rupiah, diantaranya rumah toko (Ruko) yang ikut terbakar ini baru saja selesai dibangun dengan dua lantai, kios kelontongan, begkel motor, sablon, penjahit dan butik Lily bangunan dengan dua lantai dan sampai berita ini diturunkan belum ada konfirmasi dari pihak kepolisian. (CR-36/don/l03)
--------------------------------
OPERASI SANDI "AWAS!"
Pemangku Alam dan Adat
READ MORE - ‘Si Jago Merah’ Ngamuk, Mobil Pemadam Diteriaki

Kamis, 19 Januari 2012

Banjir Bojonegoro Rendam 2 Ribu Ha Lahan Pertanian


INILAH.COM, Bojonegoro - Sekitar 2.802 hektar (ha) luas lahan pertanian di Kabupaten Bojonegoro yang terendam banjir. Tanaman hortikultural itu tersebar di 75 desa dari sembilan Kecamatan yang ada di Kabupaten Bojonegoro.

Sembilan kecamatan itu diantaranya Balen, Kanor, Kapas, Baureno, Bojonegoro, Malo, Kalitidu, dan Dander. Dinas Pertanian Kabupaten Bojonegoro belum bisa memastikan luasan tanaman yang mengalami gagal panen. Namun dapat dipastikan jika tanam terendam air tiga hari lebih maka akan menjadi mudah busuk.

Kepala Bidang Tanaman Pangan dan Hortikultura Dinas Pertanian Bojonegoro Agus Heryana menyatakan banjir luapan sungai Bengawan Solo hampir sepekan ini telah merendam tanaman seluas 2.802 ha. Rinciannya, seluas 2.532 ha berupa tanaman padi berumur antara berumur 20-40 hari setelah tanam dan sisanya tanaman jagung sebanyak 270 ha.

Dari tanaman yang terendam banjir, yaitu tanaman padi dan jagung. Untuk tanaman padi tersebar di 62 desa dan jagung berada di 13 desa dari tiga kecamatan. Diantaranya, di Kecamatan Malo, Kanor, dan Baureno.

Lanjut Haryana, jumlah tersebut bisa meningkat lagi jika air Bengawan Solo terus mengalami peningkatan. Hingga saat ini pihaknya belum memiliki data secara pasti berapa tanaman yang mengalami puso.

"Kami baru bisa memastikan, kalau tanaman sudah terendam selama sepekan. Termasuk, angka kerugiannya," jelasnya. [beritajatim.com].
--------------------------------
OPERASI SANDI "AWAS!"
Pemangku Alam dan Adat


READ MORE - Banjir Bojonegoro Rendam 2 Ribu Ha Lahan Pertanian

Selasa, 17 Januari 2012

Tangerang Selatan Siaga Satu Bencana Banjir

TANGERANG, suaramerdeka.com - Banjir akibat meluapnya Sungai Cidurian sejak tiga hari terakhir ini telah menggenangi 2.059 rumah di lima desa Kecamatan Kresek, Kabupaten Tangerang, Banten. Genangan air yang merendam pemukiman terpaksa membuat warga diungsikan ke masjid, mushola, dan gedung sekolah.
"Dari kelima desa tersebut, banjir yang paling parah terjadi di Desa Pasir Ampo karena hampir semua rumah terendam," kata Ketua Tagana Kabupaten Tangerang, Ending di Tangerang, kemarin malam (16/1).
Pemerintah Kota Tangerang Selatan (Tangsel), Banten, menyatakan siaga satu terhadap ancaman banjir ini. "Mengingat beberapa daerah di Banten terendam banjir, maka kami pun mengantisipasi dengan kondisi siaga satu," kata Ketua Tim Reaksi Cepat (TRC) Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kota Tangsel Tomi Patria, Selasa (17/1).
Tomi mengatakan, saat ini Badan Penanggulangan Bencana Daerah sudah menyiapkan 25 personil yang bertugas selama 24 jam dalam rangka penanggulangan banjir. Sementara itu, Dinas Bina Marga dan Sumber Daya Air juga menyiapkan untuk mengatasi banjir di pemukiman warga.
Kepala Bidang Pengairan pada Dinas Bina Marga dan Sumber Daya Air Kota Tangerang Selatan, Djudianto menuturkan, Pemkot Tangerang Selatan menyiapkan setidaknya delapan perahu karet dan delapan pompa penyedot air, serta 20 personil yang siap siaga membantu proses evakuasi.
READ MORE - Tangerang Selatan Siaga Satu Bencana Banjir

Banjir di Bojonegoro dan Tuban Terus Meluas

TEMPO.CO, Bojonegoro - Banjir akibat luapan sungai Bengawan Solo kian meluas. Dampaknya, sekitar 2.550 hektare sawah di Kabupaten Bojonegoro dan Tuban terendam banjir.

Berdasarkan data yang dihimpung Tempo dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) di dua kabupaten tersebut, Selasa, 17 Januari 2012, dari 2.550 hektare sawah yang terendam, seluas 1.710 hektare berada di delapan kecamatan di Bojonegoro. Sedangkan 840 hektare berada di dua kecamatan di kabupaten Tuban.

Kawasan yang terendam banjir akan terus meluas karena hujan terus turun di dua kabupaten tersebut, terutama di kawasan hulu sungai Bengawan Solo.

Selasa siang tadi, posisi air di permukaan Bengawan Solo di Bojonegoro menunjuk pada angka 14,55 phielschaal atau siaga dua pada pukul 11.30 WIB. Dengan demikian jika permukaan air terus naik 45 centimeter lagi atau mencapai angka 15 phielschaal, maka banjir Bojonegoro masuk pada kondisi siaga tiga atau yang tergolong kondisi kritis.

Meski hari ini masih pada kondisi siaga dua, luapan sungai Bengawan Solo sudah meluber ke perkampungan penduduk di Bojonegoro. Di antaranya di Desa Ngablak dan Ngulanan, Kecamatan Dander. Sedangkan di Kecamatan Kalitidu, banjir juga merendam pemukiman dan perwasahan di Desa Ngraho, Pilangsari, Manukan, Brenggolo, Talok, Ringinrejo dan Mojosari.

Adapun di Kecamatan Kota Bojonegoro, banjir juga sudah merendam beberapa perkampungan, seperti Jetak, Mulyoagung, Ledok Kulon, Ledok Wetan dan Banjarejo.

Selain itu, banjir Bengawan Solo di kawasan Desa Sukorejo, Kecamatan Kalitidu, hampir mendekati jalan raya Bojonegoro - Cepu. Jarak antara genangan air dengan badan jalan utama itu tinggal dua meter.

Sedangkan di Tuban, banjir sudah merendam pemukiman dan persawahan di beberapa desa di Kecamatan Rengel. Di antaranya Desa Maibit, Pakuwon, Bulurejo, Karangtinoto, Tambakrejo, Kanorrejo, Ngadirejo, Sawahan dan Desa Rengel.

Pihak BPDB Bojonegoro meminta masyarakat untuk waspada atas pergerakan banjir. Terutama masyarakat yang tinggal di kiri-kanan bantaran Bengawan Solo. Selain itu, terus bertambahnya debit air Bengawan Solo juga karena kiriman air dari Kabupaten Ngawi, Madiun dan Ponorogo yang juga sebagian kawasannya mengalami banjir.

Banjir kiriman dari beberapa kabupaten itu mengalir ke Sungai Madiun yang muaranya bertemu di Dungus, Ngawi. “Makanya permukaan air di Bengawan Solo terus naik,” kata Kepala Seksi Kesiapsiagaan dan Penanganan Pengungsi BPBD Bojonegoro, Sutardjo, Selasa 17 Januari 2012.

Menurut Sutardjo, BPDB Bojonegoro sedang mempersiapkan tempat mengungsian bagi warga yang rumahnya terkena banjir. Lokasi pengungsian, akan dipusatkan dibeberapa lokasi.

Di Kota Bojonegoro, di antaranya ditempatkan di Gegung Serbaguna di Jalan KH Mas Mansyur, di Kantor Desa Ngulanan, Kecamatan Dander, serta di Taman Bengawan Solo, sebelah utara Pasar Besar Kota Bojonegoro. Bahkan sejumlah warga Kecamatan Trucuk sudah mengungsi di Taman Bengawan Solo karena rumah mereka terendam banjir.
--------------------------------
OPERASI SANDI "AWAS!"
Pemangku Alam dan Adat


READ MORE - Banjir di Bojonegoro dan Tuban Terus Meluas