Jumat, 30 Juli 2010

Teror Elpiji Belum Berakhir


Liputan6.com, Sumedang: Korban ledakan elpiji terus berjatuhan. Kali ini terjadi di sebuah warung di Sumedang, Jawa Barat. Peristiwa mengenaskan yang terjadi Kamis (29/7) malam ini memang tidak menimbulkan korban jiwa. Namun warung yang merupakan usaha satu-satunya milik Uun dan Enung ini ludes.

Ketika teror ledakan gas makin menghantui, masyarakat miskin pengguna elpiji tiga kilogram kembali ke kayu bakar. Seperti yang dilakukan beberarapa warga di Cilegon, Banten.(IAN)

------------------------
" Alam dan Adat Bicara"
READ MORE - Teror Elpiji Belum Berakhir

Pipa Meledak, 12 Orang Tewas

BEIJING - Rangkaian bencana di Tiongkok belum mandek. Sebuah ledakan hebat dari pipa kimia mengguncang kawasan sebelah timur Tiongkok kemarin pagi (28/7). Tidak kurang dari 12 orang tewas dan lebih dari 300 lainnya terluka dalam ledakan yang membuat Kota Nanjing, ibu kota Provinsi Jiangsu, tersebut berselimut asap hitam.

Menurut kantor berita Tiongkok Xinhua, ledakan hebat itu terjadi sekitar pukul 10.00 waktu setempat atau sekitar pukul 09.00 WIB. ''Akibat ledakan pipa kimia itu, kawasan di sekitar rusak parah,'' terang salah seorang petugas yang diwawancarai Xinhua seperti dilansir Agence France-Presse. Sampai beberapa jam setelah ledakan terjadi, Nanjing masih tertutup asap tebal.

Banyaknya korban yang terluka membuat bank darah di Jiangsu kewalahan. Sebagian besar rumah sakit di provinsi tersebut juga mulai kehabisan stok darah. ''Sejumlah besar warga terluka dan harus dirawat di rumah sakit. Kami membutuhkan banyak darah,'' tulis bank darah Jiangsu dalam situs resminya. Menanggapi seruan itu, warga di sekitar lokasi ledakan pun berbondong-bondong mendonorkan darah.

Stasiun televisi nasional melaporkan, ledakan hebat tersebut merenggut nyawa 12 orang. Sebelumnya, Xinhua menyebut jumlah korban tewas enam orang. Namun, bersamaan dengan itu, media Tiongkok lainnya melaporkan, enam korban selain yang disebut Xinhua sudah disemayamkan di kamar mayat. Jumlah korban tewas masih mungkin bertambah. Sebab, evakuasi terus berlangsung.

Berdasar investigasi awal oleh kepolisian provinsi, diketahui bahwa pipa kimia yang meledak itu milik sebuah pabrik plastik. Saat ledakan terjadi, pabrik plastik yang sudah tidak beroperasi tersebut sedang dibongkar. Diduga kuat, masih ada sisa ethyl (etil) dalam saluran yang memang biasa digunakan untuk mengalirkan zat kimia tersebut. Ledakan lantas dipicu mesin sepeda motor yang kebetulan dinyalakan di dekat pipa. (hep/c5/dos)

------------------------
" Alam dan Adat Bicara"
READ MORE - Pipa Meledak, 12 Orang Tewas

Korban Tewas Banjir Pakistan Bertambah Jadi 267


Liputan6.com, Peshawar: Tim penyelamat dan pemerintah Pakistan mengatakan, banjir yang menimpa barat laut Pakistan selama tiga hari terakhir telah merenggut sedikitnya 267 nyawa [baca: Banjir Tewaskan 80 Warga Pakistan]. Sementara, masih banyak orang lainnya yang hilang hingga hari ini.

Mujahid Khan dari Yayasan Edhi--sebuah layanan darurat milik swasta--mengatakan, setidaknya 245 orang tewas di sepanjang barat laut Pakistan, yang merupakan wilayah dengan korban terbanyak. Sedangkan, Sardar Attique Khan Perdana Menteri Pakistan di Kashmir mengatakan, banjir di wilayahnya menyebabkan 22 orang tewas.

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengatakan, negara bagian Pakistan lainnya juga dilanda air bah itu. Cuaca buruk, juga menjadi salah satu faktor kecelakaan pesawat yang menewaskan 152 orang di Islamabad pada Rabu silam [baca: Korban Tewas Kecelakaan Pesawat Pakistan 152 Orang].(AP/AYB)

------------------------
" Alam dan Adat Bicara"
READ MORE - Korban Tewas Banjir Pakistan Bertambah Jadi 267

Banjir Tewaskan 80 Warga Pakistan


Liputan6.com, Charsadda: Hujan lebat yang memicu banjir dan longsor di barat laut Pakistan, mengakibatkan jumlah korban tewas bertambah menjadi 80 orang [baca: Banjir Tewaskan Puluhan Warga Pakistan]. Demikian dilaporkan pemerintah setempat.

Pasukan militer dan tim penyelamat hingga kini masih terus berusaha menyelamatkan ribuan orang yang terjebak di rumah mereka. Namun karena cuaca buruk, upaya penyelamatan terhambat dan helikopter pun tidak dapat menembus masuk.

Jumlah korban tewas diperkirakan akan terus meningkat, seperti yang diperingatkan pejabat Pakistan bahwa hujan lebat akan terus mengguyur wilayah barat laut Pakistan. Curah hujan sebanyak 250-300 milimeter mengguyur berbagai wilayah di barat laut Pakistan selama 36 jam. Ini merupakan curah hujan terbesar sepanjang 35 tahun terakhir.(NHK/AYB)

------------------------
" Alam dan Adat Bicara"
READ MORE - Banjir Tewaskan 80 Warga Pakistan

KM Wetar Dilalap Api Saat Berlabuh di Pelabuhan Gudang Arang Ambon


AMBON - Kapal Motor (KM) Wetar dilalap api saat berlabuh di Pelabuhan Gudang Arang, Kelurahan Benteng, Kecamatan Nusaniwe, Kota Ambon, kemarin (29/7). Api besar dan asap hitam tebal yang menyelimuti badan kapal membuat warga Gudang Arang berhamburan ke luar.

Menurut warga yang bermukim di dekat Pelabuhan Gudang Arang, kebakaran mulai terlihat sekitar pukul 11.00 WIT. Saat itu, kapal perintis milik Pemprov Maluku yang melayari rute Ambon-Suamlaki, Tepa-Selwaru, dan Kisar-Wetar tersebut sedang bersandar di jembatan.

''Kami berhamburan ke luar saat mendengar seseorang berteriak ada kapal terbakar. Kami lihat api besar melalap KM Wetar. Kami sempat khawatir juga. Sebab, kapal itu terbakar saat sandar di jembatan. Untung, KM Banda Naira cepat mendorongnya ke tengah laut,'' tutur seorang warga.

Sebagian warga langsung menghubungi petugas pemadam kebakaran Pemkot Ambon. Dua mobil pasukan pemadam kebakaran memang tiba di lokasi tak lama kemudian. Namun, mereka tidak bisa berbuat banyak.

Sebab, kapal perintis itu berada di tengah laut. Petugas pemadam kebakaran hanya bersiaga untuk mengantisipasi bila kapal tersebut terbawa arus ke pelabuhan atau rumah penduduk di sekitar Pantai Gudang Arang.

Tak lama kemudian, datang kapal pemadam milik Badan SAR Nasional (Basarnas), kapal milik Kesatuan Pengamanan Laut dan Perairan (KPLP), perahu karet milik Amerika Serikat, serta kapal tongkang milik administrator pelabuhan (adpel). Kapal-kapal pemadam itu langsung mengepung KM Wetar dari berbagai arah dan menyemprotkan air.

Api akhirnya padam setelah petugas kapal pemadam bekerja keras sekitar tiga jam. Saat itu juga KM Wetar didorong kapal tongkang milik adpel ke jembatan Gudang Arang.

Kapolres Pulau Ambon dan Pulau-Pulau Lease AKBP Didik Agung Widjanarko menyatakan, penyebab kebakaran belum diketahui pasti. Diduga, api berasal dari dek II kapal perintis tersebut. ''Kita tunggu saja hasil olah tempat kejadian perkara (TKP) besok (30/7),'' ujarnya.
Rata Penuh
Saat ini, lanjut dia, seluruh awak dan kapten kapal dimintai keterangan di Polsek Kawasan Pelabuhan Yos Sudarso, Ambon. ''Mereka dimintai keterangan sebagai saksi,'' ujarnya.

Dua Hangus di Batam

Sementara itu, di Batam, dua kapal yang sedang berlabuh di perairan Kolong, Kecamatan Karimun, juga dilalap api pukul 10.30 kemarin (29/7). Dua kapal itu adalah tugboat TB Venture 22 dan Kapal Motor Feni 22. Saat itu, KM Feni 22 sedang membongkar muatan minyak untuk disalurkan ke PT Karimun Sukses.

Belum diketahui pasti penyebab kebakaran tersebut. Diduga, api berasal dari TB Venture 22, lalu meluas ke KM Feni 22. Kerugian karena kebakaran tersebut ditaksir mencapai miliaran rupiah.

''Begitu mendengar laporan, saya langsung ke Pos Polair untuk mengupayakan pemadaman,'' ujar Kasatpolair Polres Karimun AKP Gompar Hasibuan.

Menurut Amir, salah seorang saksi, tidak terdengar suara ledakan dari kapal yang membawa minyak, kecuali saat kapal itu ditarik ke tengah laut untuk mencegah api merembet ke permukiman warga. ''Saya lihat ada awak kapal yang terbakar. Dia langsung terjun ke laut dan berenang menyelamatkan diri. Tampaknya, dia tidak sampai terluka parah,'' ungkapnya.

Pemilik KM Feni 22 Wiyono saat dikonfirmasi mengungkapkan, saat itu kapalnya sedang membongkar muatan solar yang akan distribusikan ke gudang miliknya di PT Karimun Sukses. ''Api mungkin memang berasal dari kapal tugboat yang sandar di samping KM Feni 22. Sebab, di kapal kami tidak ada kompor atau dapur,'' tegasnya. (m1/san/jpnn/c5/soe)

------------------------
" Alam dan Adat Bicara"
READ MORE - KM Wetar Dilalap Api Saat Berlabuh di Pelabuhan Gudang Arang Ambon

Ratusan Rumah Adat Terancam Longsor

Liputan6.com, Bulukumba: Sedikitnya 300 rumah di Dusun Pangi dan Dusun Bongki, Desa Tanatoa Kajang, Bulukumba, Sulawesi Selatan terancam ambruk akibat longsor. Pantauan SCTV, Kamis (29/7), tanah di sekitar rumah adat tradisional Kajang itu sudah retak dengan kedalaman empat meter. Rumah-rumah warga yang saat ini terancam longsor adalah salah satu warisan budaya yang patut di pertahankan di Indonesia.

Kondisi wilyah di dua dusun tersebut memang sudah sangat memprihatinkan. Pepohonan dan bebatuan yang berada di atas bukit juga banyak yang tumbang dan menimpa rumah. Penyebab retaknya tanah di pemukiman warga adat Kajang ini adalah akibat curah hujan yang tinggi dalam sebulan terakhir ini.

Sekitar 100 kepala keluarga kini telah meninggalkan rumah mereka dan mengungsi ke kediaman sanak keluarganya. Warga berharap pemerintah setempat segera turun meninjau lokasi dan memberikan bantuan kepada masyarakat.(IAN)

------------------------
" Alam dan Adat Bicara"
READ MORE - Ratusan Rumah Adat Terancam Longsor

Kamis, 29 Juli 2010

Pesawat Airblue Pakistan Jatuh di Hutan, 152 Tewas

ISLAMABAD - Sebuah pesawat milik Airblue, maskapai penerbangan swasta Pakistan, jatuh saat hujan lebat dan cuaca buruk kemarin (28/7). Sebanyak 146 penumpang dan enam awak pesawat tewas dalam musibah tersebut. Insiden itu merupakan kecelakaan penerbangan terburuk di Pakistan.

Bola api cukup besar dan asap tebal muncul di udara setelah pesawat jatuh di kawasan hutan lebat tidak jauh dari Islamabad. Hal itu terlihat hingga beberapa distrik dari lokasi.

''Saya melihat bola api dan asap yang amat besar saat kecelakaan itu. Lalu, potongan besar pesawat jatuh menghantam bukit dan berceceran di hutan,'' ungkap Haji Taj Gul, polisi yang menjadi saksi tragedi tersebut.

''Saat itu, pesawat terbang sangat rendah. Lantas, kami tiba-tiba mendengar suara yang sangat keras,'' ujar Wajih-ur Rehman, warga permukiman eksklusif di perbukitan Margalla, tempat tinggal para ekspatriat dan kalangan elite Pakistan di luar Kota Islamabad.

Petugas penyelamat menemukan banyak potongan mayat dan puing-puing pesawat di lokasi yang berada di perbukitan. Stasiun televisi menayangkan gambar puing-puing pesawat berceceran di hutan. Sebagian puing dari logam tersangkut di pepohonan. Api dan asap tebal terlihat mengepul di antara reruntuhan tersebut saat helikopter petugas penyelamat melintas.

Petugas agak sulit menggali reruntuhan karena kobaran api dan asap tebal. Meski api akhirnya bisa dipadamkan, evakuasi tidak bisa berjalan lancar karena medan yang sulit di tengah hutan lebat dan perbukitan. Tentara Pakistan telah dikerahkan untuk membantu pencarian dan evakuasi korban.

''Saya hanya menemukan potongan mayat,'' kata Dawar Adnan, petugas penyelamat dari Bulan Sabit Merah Pakistan. ''Kondisi di lokasi kecelakaan amat mengerikan. Kami sudah meneliti hampir seluruh lokasi, tapi tidak menemukan korban selamat,'' lanjutnya.

Petugas penyelamat lain, Arshad Javed, bertutur senada. ''Yang kami lihat hanya potongan tangan, kaki, dan bagian tubuh lain. Saya mengumpulkan dua kepala, dua kaki, dan dua tangan, lalu memasukkannya ke dalam sebuah kantong mayat,'' ungkapnya. ''Kami juga berteriak untuk mencari korban selamat. Tapi, tidak ada suara balasan,'' tuturnya.

Polisi mengungkapkan, reruntuhan pesawat tercecer di tiga arah. ''Selain mayat, kami menemukan peralatan yang diduga sebagai black box (kotak hitam berisi rekaman penerbangan, Red). Saat ini, sejumlah pakar sedang memeriksa,'' ucap Bani Amin, kepala kepolisian Islamabad.

Petugas penyelamat sedikitnya telah mengevakuasi potongan tubuh 90 orang. Evakuasi dan pencarian korban akhirnya dihentikan kemarin sore karena hujan lebat tak kunjung reda. Apalagi, lokasi kecelakaan hanya bisa dicapai dengan helikopter.

Sejauh ini, belum diketahui penyebab kecelakaan. Raheel Ahmed, juru bicara Airblue, menduga cuaca buruk menjadi pemicu kecelakaan itu. ''Tidak ada kerusakan teknis sebelum dan ketika pesawat lepas landas,'' tuturnya.

Pesawat dengan nomor penerbangan ED 202 tersebut meninggalkan Bandara Karachi, selatan Pakistan, pukul 07.45 waktu setempat (pukul 09.45 WIB), dengan tujuan Islamabad. Penerbangan diperkirakan memakan waktu sekitar dua jam.

Musibah terjadi saat pesawat jenis Airbus 321 itu mendekati dan hendak mendarat di Bandara Internasional Benazir Bhutto, Islamabad. Pesawat kehilangan kontak dengan menara kontrol bandara pukul 09.43 waktu setempat (pukul 11.43 WIB).

''Pilot sudah diberi instruksi dan petunjuk supaya mendarat di runway (landasan) I atau II,'' jelas Menteri Dalam Negeri Pakistan Rehman Malik. ''Sebelum mendarat, pesawat terbang di ketinggian 2.600 kaki (sekitar 792 meter). Tanpa ada penjelasan, pesawat tiba-tiba bergerak di ketinggian 3.000 kaki. Mungkin pandangan pilot ke landasan terhalang,'' lanjutnya.

Pakistan mengabaikan kemungkinan kecelakaan itu karena aksi terorisme. Pemerintah memberlakukan hari libur dan berkabung nasional kemarin. Airbus juga mengirimkan tim untuk membantu penyelidikan kecelakaan tersebut.

Dalam manifes penerbangan, penumpang pesawat itu termasuk tujuh anak dan dua bayi. Dua warga negara Amerika Serikat (AS) termasuk korban tewas. Airblue memastikan bahwa warga Pakistan mengisi sebagian besar penumpang pesawat.

Airblue merupakan salah satu maskapai penerbangan terpopuler di Pakistan. Perusahaan swasta tersebut beroperasi sejak 2004 dengan menggunakan pesawat baru Airbus A320 dan A321 untuk rute domestik serta internasional. Rute internasional yang diterbangi adalah Dubai, Sharjah, Abu Dhabi (Uni Emirat Arab), Muscat (Oman), dan Manchester (Inggris).

Sebelumnya, maskapai itu hanya mengalami sekali kecelakaan pada bagian ekor pesawat di Bandara Quetta pada 2008. Tidak ada korban jiwa saat itu.

Kali terakhir kecelakaan pesawat di Pakistan terjadi pada Juli 2006. Ketika itu, sebuah pesawat Fokker F-27 milik Pakistan International Airlines (PIA) jatuh di ladang gandum di pinggiran Kota Multan, Pakistan bagian tengah. Sebanyak 45 orang tewas.

Sebelumnya, kecelakaan terburuk pesawat terbang Pakistan terjadi pada 1979 dan 1992. Sebuah pesawat jet milik PIA jatuh di Jeddah, Arab Saudi, pada 1979 dan menewaskan 156 penumpang dan awaknya. Sedangkan kecelakaan pada 1992 terjadi Kathmandu, Nepal, dan menewaskan 167 orang. (AFP/Rtr/AP/c5/dwi)


------------------------
" Alam dan Adat Bicara"
READ MORE - Pesawat Airblue Pakistan Jatuh di Hutan, 152 Tewas

Banjir Hanyutkan 1.000 Barel Bahan Kimia


BEIJING, KOMPAS.com - Banjir di China timur laut telah menghanyutkan lebih dari 1.000 barel bahan kimia yang bisa meledak ke dalam satu sungai besar.

Peristiwa itu terjadi di sepanjang Sungai Songhua, yang airnya meluap, di Kota Jili, Provinsi Jilin, Rabu (28/7) pagi, demikian laporan kantor berita resmi China, Xinhua. Penduduk yang dihubungi melalui telepon mengatakan, pasokan air bersih telah terputus untuk sementara di beberapa bagian kota tersebut, tapi akan kembali normal.

Semua drum itu berasal dari satu pabrik kimia berisi 160.000 kilogram cairan kimia yang bisa meledak, kata beberapa pejabat setempat. "Para pekerja darurat telah berusaha menemukan drum tersebut dan dinas perlindungan pemerintah lokal memantau secara seksama kualitas air di sungai itu," demikian antara lain isi laporan Xinhua.

China seringkali menghadapi tumpahan bahan kimia di sungainya yang mengakibatkan dihentikannya pasokan air bersih. Peristiwa paling serius terjadi tahun 2005, ketika ledakan di satu pabrik industri mengalirkan bahan kimia beracun ke dalam Sungai Songhua agak lebih ke hulu, di Harbin. Peristiwa tersebut memaksa dihentikannya pasokan air bersih buat hampir 4 juta warga.

Menurut laporan Xinhua, hujan lebat sepanjang tahun ini di seluruh daerah luas China tengah dan selatan telah menewaskan 928 orang dan membuat 477 orang lagi hilang, dan menimbulkan kerugian sebesar 176,5 miliar yuan (26,04 miliar dolar AS). Sebanyak 875.000 rumah telah ambruk, 9,61 juta orang diungsikan dan 8,76 juta hektare tanaman rusak, katanya. China timurlaut juga telah diguyur hujan lebat selama beberapa hari belakangan.


------------------------
" Alam dan Adat Bicara"

READ MORE - Banjir Hanyutkan 1.000 Barel Bahan Kimia

Macet di Jakarta Seharusnya Dipikirkan Sejak 30 Tahun Lalu


Jakarta - Kemacetan lalu lintas di Ibukota bukan hal baru. Kemacetan lantas sering kali dimahfumkan. Ketika kemacetan sudah semakin menggila dan semakin disadari banyak kerugian yang ditimbulkan, barulah lebih sering dibahas pembuat kebijakan.

"Seharusnya seperti Nabi Nuh, siap-siap perahu sebelum banjir. Sekarang ini kita sedang membuat perahu di tengah banjir," ujar koordinator Railway & Transportation Resource Center LAPI -ITB Harun Al Rasyid dalam perbincangan dengan detikcom, Kamis (29/7/2010).

Menurut Harun, masalah transportasi seharusnya sudah dibahas sejak 30 tahun lalu. Ketika suatu wilayah direncanakan untuk berkembang, maka sudah harus dipikirkan pula sejak awal adanya kemungkinan kemacetan yang luar biasa.

Disampaikan dia, masalah pertransportasian di Indonesia sangatlah kompleks. Sebab banyak sekali armada maupun prasarana yang sudah usang. "Kalau boleh saya katakan, semua dalam critical," imbuhnya.

Menurut Harun, banyak kegiatan terkait pembenahan transportasi seperti infrastruktur dan layanannya yang mandek. Banyak bangunan akhirnya tidak selesai-selesai dibangun. "Tiang-tiang monorel jadi ditumbuhi jamur," keluhnya.

Terkait wacana kebijakan Electronic Road Pricing (ERP) atau sistem jalan berbayar untuk mengurai kemacetan, menurut Harun, hal itu adalah permainan madu dan racun. ERP adalah racun karena menjadi sesuatu yang tidak enak yang harus diberikan. Namun sebagai imbalannya, harus diberikan pula madu kepada masyarakat.

"Madu ini adalah armada dan infrastruktur yang memadai. Jadi jangan hanya komitmen tanpa diikuti realisasi," kata Harun. (nrl/nrl)
------------------------
" Alam dan Adat Bicara"
READ MORE - Macet di Jakarta Seharusnya Dipikirkan Sejak 30 Tahun Lalu

Selasa, 27 Juli 2010

Cuaca Buruk, Ratusan Tewas Selama Juni 2010


Liputan6.com, Jakarta: Cuaca buruk menghantui Indonesia dan beberapa negara lain selama beberapa bulan terakhir. Ini terjadi akibat penyimpangan musim kemarau yang terjadi baru-baru ini.

Berdasarkan catatan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika, penyimpangan musim kemarau membuat hujan lebat terjadi di sejumlah negara selama Juni 2010. Tak hanya mendatangkan hujan, cuaca buruk juga menelan korban jiwa yang tidak sedikit. Di Prancis bagian selatan misalnya. Di sana, selama Juni ada 15 orang yang tewas dan 12 hilang akibat cuaca buruk. Dua hari kemudian, 46 orang tewas dan 600 rumah terendam di Mumbai, India.

Masih di tanggal 17 Juni, 25 tewas di Yangoon, Myanmar. Sedangkan di Victoria, Australia, sedikitnya 100 rumah rusak akibat cuaca buruk. Bahkan, Singapura yang tak pernah mengalami banjir, juga terendam akibat dampak dari cuaca yang tak menentu [baca: Dampak Badai, Singapura Banjir]

Paling banyak tewas di Bangladesh bagian selatan pada 17 Juni. Di sana, sedikitnya ada 17 orang yang meninggal dunia. Di saat yang sama, 28 kota di Cina terendam banjir dengan kerugian yang tidak sedikit [baca: Banjir dan Longsor Masih Ancam Cina]

Sementara di Indonesia, potensi hujan diprediksi dengan intensitas sedang sampai lebat masih akan terjadi hingga pertengahan Juli 2010. Soalnya, kecenderungan musim kemarau 2010 lebih pendek dibanding normalnya. Untuk itu, masyarakat diimbau berhati-hati dalam menyikapi perubahan cuaca tersebut.(ULF)

------------------------
" Alam dan Adat Bicara"
READ MORE - Cuaca Buruk, Ratusan Tewas Selama Juni 2010

Terhempas Gelombang, Tongkang Batu Bara Terdampar

Liputan6.com, Pandeglang: Cuaca buruk dan gelombang laut yang besar di perairan Labuan, Banten, Selasa (27/7) telah menghantam tiga tongkang yang memuat ribuan ton batubara hingga terdampar.

Evakuasi kapal dengan mengerahkan dua kapal tugboat gagal dilakukan karena gelombang laut yang masih tinggi. Proses evakuasi ketiga tongkang maupun pasokan batubara asal Kalimantan pun untuk sementara dihentikan karena cuaca buruk.

Cuaca buruk yang melanda pesisir Pandeglang sejak Selasa malam lalu juga membuat ratusan nelayan di perairan Labuan tidak berani melaut. Sejumlah nelayan yang nekat melaut di tengah cuaca buruk, akhirnya kembali pulang tanpa hasil tangkapan ikan. Sejumlah nelayan bahkan sempat kesulitan ketika akan memasuki bagian muara dan pesisir pantai untuk berlindung dari hempasan gelombang.(AYB)

------------------------
" Alam dan Adat Bicara"
READ MORE - Terhempas Gelombang, Tongkang Batu Bara Terdampar

Garuda Terhadang Cuaca Buruk


MAKASSAR, KOMPAS.com — Humas PT Garuda Indonesia, Pujobroto, mengatakan, pesawat GA 655 yang semestinya berangkat pukul 12.00 Wita, Selasa (27/7/2010), dari Bandara Internasional Sultan Hasanuddin, Makassar, menuju Jakarta terhadang cuaca buruk di Timika, Papua.

Saat tiba di Bandara Sultan Hasanuddin pada pukul 14.00 Wita, starter engine pesawat terganggu sehingga gagal berangkat menuju Jakarta. Sementara itu, penerbangan lainnya, yakni GA 605, yang sedianya berangkat ke Jakarta pukul 15.00 Wita, mengalami gangguan pada sistem hidrolik.

Menurut Pujobroto, untuk mengatasi hal itu, 40 penumpang telah diberangkatkan ke Jakarta dengan pesawat GA 333 tujuan Surabaya pada pukul 20.00 Wita. Adapun para penumpang GA 655 dan GA 605 lainnya akan diberangkatkan ke Jakarta menggunakan pesawat Boeing 737-800 NG yang rencananya tiba di Makassar pukul 22.50 Wita.

"PT Garuda Indonesia minta maaf atas ketidaknyamanan ini. Pergantian pesawat dilakukan atas pertimbangan mengutamakan aspek keselamatan penumpang," tutur Pujobroto.

------------------------
" Alam dan Adat Bicara"
READ MORE - Garuda Terhadang Cuaca Buruk