Rabu, 11 Agustus 2010

Elpiji Kembali Meledak dan Lukai Warga


Liputan6.com, Purwakarta: Ledakan Elpiji 3 kg kembali meledak dan melukai warga. Arifin (31) kini hanya bisa mengerang kesakitan, warga Bojong, Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat ini, terkena ledakan gas elpiji saat hendak menyalakan kompor gasnya, Rabu (11/8). Muka Arifin pun mengalami luka bakar yang cukup parah. Tak hanya muka, tangan dan kaki korban pun ikut terbakar.

Menurut istri korban, kejadian naas itu terjadi ketika tabung Gas 3 kg yang hendak dinyalakan suaminya tiba-tiba mengeluarkan percikan api dan meledak. Arifin sempat melempar tabung gas tersebut keluar. Namun naas baginya, saat tabung dilempar, api malah membakar tubuhnya hingga mengenai wajah. Korban kini dirawat intensif di RSUD Banyu Asih, Purwakarta. Sementara kompor gas dan tabungnya disita Polsek Bojong, Purwakarta, sebagai barang bukti.(APY/AYB)

------------------------
" Alam dan Adat Bicara"
READ MORE - Elpiji Kembali Meledak dan Lukai Warga

Nelayan Selat Makassar Diimbau Berhati-hati

Liputan6.com, Sangata: Informasi ini penting bagi nelayan yang kerap melaut di Selat Makassar. Saat ini, tinggi gelombang laut di selatan Selat Makassar terus meningkat akibat pola embusan angin pasat timur yang melanda sebagian besar wilayah selatan dan tenggara Indonesia. "Kondisi juga ternyata berpengaruh besar pada nasib nelayan di Kutai Timur," kata Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Bandar Udara Temindung, Kalimantan Timur, Raden Ishak, Rabu (11/8).

Berdasarkan data BMKG, imbuh Ishak, kecepatan angin di laut saat ini rata-rata meningkat hingga 40 knot. "Meski tergolong kencang kondisi ini masih fase awal angin pasat timur," jelas Ishak. Ia mengingatkan, tinggi gelombang laut saat ini hanya terjadi pada waktu-waktu tertentu sehingga mempengaruhi kondisi nelayan-nelayan tradisional untuk melaut.

"BMKG Kaltim memprakirakan, puncak ketinggian gelombang laut di selatan selat Makassar bisa mencapai 1,5-2,5 meter pada Agustus ini. Bahkan, tinggi gelombang bisa saja mencapai empat meter lebih," tegasnya. Puncak gelombang akan berlangsung hingga pertengahan Agustus 2010. Potensinya memang cukup besar," ucapnya.

Dia menambahkan, embusan angin saat ini tidak dipengaruhi peralihan ke musim kemarau. Melainkan hanya menimbulkan lebih banyak awan hujan karena tingginya kelembaban udara di beberapa wilayah tertentu termasuk di Kalimantan Timur. Untuk itu, ia mengingatkan agar nelayan-nelayan tradisional diharapkan lebih berhati-hati saat melaut. "Atau lebih baik istrahat dululah," katanya.

Adapun pada hari ini puluhan kapal milik nelayan Sangata masih berlabuh di Pelabuhan Kenyamukan dan di sepanjang Jalan Pendidikan. "Kami belum berani melaut karena tinggi gelombang masih menakutkan nelayan," kata Tjambang, salah seorang nelayan Sangata.(ANS/Ant)


------------------------
" Alam dan Adat Bicara"

READ MORE - Nelayan Selat Makassar Diimbau Berhati-hati

Salah Memutar, Merpati Tak Bisa Kembali


JAYAPURA, KOMPAS.com — Pesawat Merpati Boeing 737-300 PK-MDC yang mendarat di Bandara Rendani, Manokwari, Papua Barat, Selasa (10/8/2010), diduga salah posisi memutar di ujung landasan sehingga tidak bisa kembali ke apron.

Pesawat yang membawa penumpang dari Jakarta-Makassar itu diturunkan di ujung landasan. "Pesawat mendarat mulus saja. Tetapi saya lihat, kok, tidak berhenti di tempat putaran. Malah terus jalan ke ujung landasan sehingga tidak bisa memutar," ujar Yohanis Sampe, warga Manokwari yang sedang mengantar anaknya berangkat ke Jayapura, Selasa pagi.

Lebih lanjut, ia menghitung jarak roda ban pesawat depan berada pada jarak 6 meter dari ujung landasan. Sedangkan moncong pesawat berada di atas landasan.

Jika pesawat tidak berhenti beberapa saat, badan pesawat bisa tergelincir ke parit ujung landasan. "Kami kecewa keamanan penerbangan Merpati terlalu rendah. Apa pilot mengantuk atau asyik ngobrol sehingga bisa kelewatan tempat memutar," ujarnya.

Ia mengatakan, pesawat itu tiba di Rendani sekitar pukul 06.30. Karena pesawat berhenti di ujung landasan pacu, para petugas terpaksa membawa tangga turun penumpang ke ujung landasan juga.

Kini badan pesawat seberat berton-ton sedang didorong petugas dibantu puluhan masyarakat ke arah apron tanpa alat.


------------------------
" Alam dan Adat Bicara"

READ MORE - Salah Memutar, Merpati Tak Bisa Kembali

Senin, 09 Agustus 2010

Kecelakaan Pesawat di Alaska, Mantan Senator Ted Stevens dan Empat Penumpang Tewas

WASHINGTON - Liburan mantan Senator Amerika Serikat (AS) Ted Stevens alias Uncle Ted dan sahabatnya, Sean O'Keefe, mantan ketua NASA, berakhir petaka. Pesawat DeHavilland DHC-Z3T Otter yang mereka tumpangi bersama tujuh orang lainnya celaka di Aleknagik, Dillingham, Alaska, Senin malam waktu setempat (9/8).

Rencananya, Ted dan O'Keefe yang sama-sama hobi memancing itu berlibur di pondok pribadi milik Ted di pinggir Danau Aleknagik. Tapi, belum sampai ke lokasi yang dituju, pesawat amfibi bermesin tunggal yang dipiloti Theron ''Terry'' Smith tersebut jatuh di Pegunungan Alaska. Ted dan empat penumpang lainnya tewas seketika. Sementara itu, O'Keefe dan tiga lainnya selamat.

''Hingga Selasa malam (10/8), Sean O'Keefe masih kritis. Putranya, Kevin O'Keefe, juga terluka serius,'' ujar Kirsten Schultz, jubir Providence Alaska Medical Center, tempat para korban selamat dirawat, seperti dilansir CNN kemarin (11/8).

Jenazah Ted dan empat korban tewas lainnya diotopsi di rumah sakit yang sama dan dijadwalkan selesai Rabu malam waktu setempat (pagi ini WIB).

Mulai kemarin, pemerintah mengerahkan banyak petugas ke lokasi kecelakaan di kawasan terpencil Pegunungan Alaska itu untuk menginvestigasi. Termasuk, menyelidiki penyebab kecelakaan. Tim investigasi sementara meyakini cuaca buruk sebagai penyebab utama kecelakaan. Juga, medan Aleknagik yang bergunung-gunung.

''Cuaca buruk selalu menjadi faktor utama jika Anda berada di luar. Sebab, belakangan, cuaca bisa berubah drastis dalam waktu singkat,'' terang Mayor Guy Hayes dari Garda Nasional Alaska kepada Associated Press.

Selain Ted dan Terry, tiga korban tewas lainnya diidentifikasi sebagai William ''Bill'' Phillips Sr dari Washington DC, Dana Tindall dari Anchorage, dan putrinya, Corey Tindall.

Dua korban luka selain O'Keefe dan putranya, Kevin, adalah William ''Willy'' Phillips Jr dari Washington DC dan Jim Morhard dari Alexandria, Virginia. Willy yang masih berusia 13 tahun adalah putra Bill. Konon, mereka diundang Ted untuk ikut berlibur di pondok pribadinya dan memancing bersama. Sayangnya, ajakan politikus 86 tahun tersebut tidak sempat terlaksana.

Sejak celaka Senin malam, para korban, baik yang tewas maupun selamat, harus bertahan di lokasi kecelakaan selama sedikitnya 12 jam. Sebab, tim SAR sulit mencari posisi pesawat di pegunungan terpencil itu. ''Cuaca tidak mendukung upaya pencarian. Akibatnya, kami tidak bisa merespons panggilan darurat dengan segera,'' terang Deborah Hersman, chairwoman Badan Keselamatan Transportasi Nasional. (hep/c5/ami)

------------------------
" Alam dan Adat Bicara"
READ MORE - Kecelakaan Pesawat di Alaska, Mantan Senator Ted Stevens dan Empat Penumpang Tewas

Minggu, 08 Agustus 2010

Pompa Stasiun Luar Angkasa Rusak, Astronot Dikirim

Liputan6.com, Florida: Sedikitnya dua astronot milik Badan Antariksa Amerika Serikat NASA akan diterbangkan guna menjalankan misi perbaikan pompa yang rusak di stasiun luar angkasa. Demikian dikatakan juru bicara NASA di Florida, Amerika Serikat Sabtu (7/8).

Juru bicara mengatakan astronot Douglas Wheelock dan Tracy Caldwell Dyson dipercaya mampu memperbaiki pompa ammonia yang rusak sejak minggu lalu. Kerusakan tersebut menyebabkan sistem pendingin di stasiun ruang angkasa terganggu. "Perbaikan tersebut diperkirakan memakan waktu selama seminggu" demikian juru bicara NASA.

Sementara di stasiun luar angkasa, tiga astronot AS dan tiga astronot asal Rusia mengatakan kerusakan pompa sempat mengganggu namun tidak sampai membahayakan jiwa mereka.(AP/AYB)

------------------------
" Alam dan Adat Bicara"
READ MORE - Pompa Stasiun Luar Angkasa Rusak, Astronot Dikirim

Gunung Gede Pangrango Ditutup Sementara


SUKABUMI, KOMPAS.com — Balai Taman Nasional Gede Pangrango, Jawa Barat, menutup sementara jalur pendakian menuju kedua gunung tersebut menjelang Ramadhan untuk memulihkan kondisi ekosistem kedua gunung tersebut.

Penutupan sementara ini dilakukan untuk mengantisipasi kerusakan ekosistem di Gunung Gede dan Pangrango akibat banyaknya pendaki yang ingin menyambut Ramadhan di puncak dua gunung tersebut, kata Kepala Balai TNGP Bambang di Sukabumi, Minggu (8/8/2010).

Bambang Sumarto mengatakan, penutupan sementara tersebut dimulai pada awal Agustus untuk memperbaiki ekosistem di kedua gunung yang menjulang di tiga daerah, yakni Kabupaten Sukabumi, Cianjur, dan Bogor.

"Kami sudah menyebarkan informasi ini, baik di pintu masuk maupun melalui siaran radio," kata Bambang.

Bambang menambahkan, pihaknya memperkirakan menjelang Ramadhan ini banyak pendaki yang ingin mendaki kedua gunung tersebut untuk sekadar berkemah dan menghabiskan waktu di puncak gunung.

"Untuk itu, para pendaki harus memaklumi peraturan kami dan mematuhinya," ujarnya.

Untuk mengantipasi pendaki ilegal yang nekat mendaki gunung, pihaknya menyebarkan anggota untuk melakukan pengawasan di Gunung Gede dan Pangrango.

"Apabila kami menemukan ada pendaki ilegal, kami akan langsung mengevakuasi dan memberikan sanksi kepada mereka sesuai dengan kesalahannya," tegas Bambang.

Bambang mengakui, jalur ilegal atau "jalur tikus" menuju kedua gunung tersebut memang banyak dan selama ini menjadi jalur bagi masyarakat yang tinggal di bawah kaki gunung. Biasanya, pendaki ilegal masuk melalui jalur tersebut untuk mengelabuhi para petugas pengawas yang berjaga di pintu masuk resmi TNGP. "Jalur ini biasanya digunakan oleh banyak pendaki ilegal," akunya.

------------------------
" Alam dan Adat Bicara"
READ MORE - Gunung Gede Pangrango Ditutup Sementara

Pakistan Banjir, Presiden Zardari Malah ke Luar Negeri


Islamabad - Ketika Pakistan dilanda banjir besar, Presiden Asif Ali Zardari malah melawat ke Paris dan London. Zardari pun menuai kecaman.

Banjir bandang di Pakistan kali ini, memang bukan main-main. 1.600 Warga Pakistan tewas akibat bencana terburuk di republik itu sejak 80 tahun terakhir.

Banyak korban di desa-desa yang putus asa karena tidak kunjung dievakuasi, meski sebagian besar dari mereka telah diangkut menggunakan helikopter. Akibatnya, mereka pun tidak bisa lagi menahan amarahnya kepada pemerintah.

"Presiden kami keluar mengunjungi negara-negara asing sementara kita tenggelam di sini. Pemerintah tidak melakukan apa-apa," kata Anar Gul, warga Pakistan barat laut, seperti dilansir Reuters, Minggu (8/8/2010).

"Coba lihat kondisi kami. Kami tidak punya air minum, tidak ada makanan. Kami duduk di tengah hujan. Kami tidak punya tenda," protesnya.

Selain merenggut seribuan nyawa, banjir yang telah berlangsung hampir sepekan itu telah membawa dampak buruk terhadap 12 juta penduduk Pakistan. Banjir juga merendam areal pertanian sepanjang lebih dari 600 mil di Sindh Punjab, kota komersial terbesar di Pakistan.

Air bah juga memutus jalan antara Jammu dan Kashmir, sehingga menghambat penyaluran bantuan. Namun, Zardari agaknya masih bisa berkelit menanggapi kritik yang dialamatkan kepadanya. Menurutnya, perdana menteri sudah mampu menangani krisis di Pakistan.

"Ada seorang kepala eksekutif di sana (Pakistan). Menjadi tanggung jawab perdana menteri untuk itu, dia telah memenuhi tanggung jawab," ucap Zardari. (irw/fay)

------------------------
" Alam dan Adat Bicara"
READ MORE - Pakistan Banjir, Presiden Zardari Malah ke Luar Negeri

Kapal Dihantam Ombak, Anggota DPR Tewas di Manado


MANADO - Kunjungan kerja komisi III DPR di Sulawesi Utara berakhir maut. Anggota Komisi III dari Fraksi PDIP (FPDIP) Setia Permana tewas setelah kapal yang ditumpanginya terbalik dan tenggelam akibat dihantam ombak kemarin (7/8). Wahyu Nurani, istri anggota Komisi III DPR dari Fraksi Partai Demokrat Sutjipto, juga tewas.

Menurut laporan Manado Post (Jawa Pos Group), saat kembali dari acara wisata pantai di taman laut Pulau Bunaken sekitar pukul 11.45 Wita, kapal wisata Exsegero (katamaran) hancur akibat diterjang ombak besar.

Saat itu kapal membawa delapan anggota komisi III, tiga anggota keluarga, dan dua pengawal. Musibah itu terjadi saat kapal memasuki mulut Kali Mas, Pelabuhan Manado.

Setelah kejadian tersebut, para penumpang kapal ditolong oleh warga sekitar Dermaga Pasar Bersihati. Nahas bagi Setia Permana dan Wahyu Nurani. Mereka tewas setelah perahu kayu tersebut digulung ombak setinggi dua meter.

''Kejadiannya amat cepat. Ibu yang meninggal (Wahyu Nurani, Red) terseret arus setelah tubuhnya membentur beton,'' ujar Azis Bagu, saksi mata yang membantu penyelamatan. ''Bapak yang meninggal (Setia Permana) sebelumnya kami temukan dalam kondisi kritis,'' lanjutnya.

Selain Setia, anggota komisi III yang berada di perahu yang menggunakan dua motor tempel tersebut adalah Otong Abdurrahman (FPKB), Dimyati Natakusumah (FPPP), Abubakar Al Habsyi, Nudirman Munir (FPG), M. Nurdin (FPDIP), dan Sutjipto (FPD) bersama putrinya, Ariyanti. Mereka selamat.

Azis dan sejumlah saksi mata menceritakan bahwa perahu yang dikemudikan Alex Lahengko, 35, warga Sindulang I, membentur tembok bagian bawah mercusuar di utara pintu masuk Pelabuhan Manado. Perahu tidak bisa dikemudikan dengan baik setelah diempas ombak. Diduga, motor tempel mati saat itu.

''Haluan kanan perahu membentur tembok. Lalu, dari arah kemudi, ombak besar menghantam perahu. Seketika perahu tenggelam diseret arus laut tepat di pintu masuk pelabuhan,'' ungkap Azis.

Tim SAR dan Polairud Manado baru tiba di lokasi kejadian sekitar pukul 12.00 Wita. Setia Permana tewas saat diangkut dengan ambulans menuju ke Rumah Sakit Islam (RSI) Siti Maryam, Manado. Sementara itu, Wahyu Nurani mengembuskan napas terakhir setiba di RSI. Untuk otopsi dan kepentingan medis, jenazah mereka lantas dilarikan ke RS Bhayangkara, Manado.

Berdasar pengakuan Alex Lahengko, perahu yang dikemudikannya kehilangan kendali saat masuk ke mulut Pelabuhan Manado. ''Waktu mau belok ke arah pelabuhan, ombak menghantam sehingga mesin kapal terangkat. Lalu, kapal dikendalikan arus dan berbalik arah mengenai batu di pinggir pelabuhan, tepatnya di sisi lampu merah pelabuhan,'' tuturnya.

Alex bersama awaknya diamankan di Poltabes Manado kemarin sore. Mereka diduga lalai karena tidak menyiapkan pelampung bagi para penumpang kapal. Saat memberikan keterangan kepada polisi, Alex bertutur bahwa perahu yang dikemudikannya biasa mangkal di terminal Marina Plaza, Manado. ''Saat berangkat dari Manado menuju Bunaken pukul 8.00 Wita, kondisi cuaca mendung dan berangin. Menjelang siang, ombak makin besar,'' katanya.

Sementara itu, Sutjipto dan putrinya hanya bisa meratapi jenazah Wahyu Nurani. Sutjipto seolah tak percaya atas kepergian istrinya. ''Semua Allah yang atur. Tetapi, saya kecewa dengan keamanan kapal yang tidak menyediakan pelampung secara layak,'' katanya sambil menemani putrinya, Ariyanti, di RS Bhayangkara, Manado.

Dia lalu menceritakan musibah tersebut. ''Begitu ombak menghantam kapal yang kami tumpangi, saya terpisah dengan istri dan anak. Untungnya, warga yang mengetahui kejadian itu langsung datang menolong,'' ujarnya dengan mata berkaca-kaca.

Sekjen PDIP Tjahjo Kumolo menuturkan bahwa insiden tersebut terjadi ketika rombongan berwisata ke Bunaken sambil menunggu penerbangan kembali ke Jakarta pukul 15.00 Wita (pukul 14.00 WIB). ''FPDIP merasa kehilangan atas kepergian beliau (Setia Permana, Red),'' ujar Tjahjo.

Tjahjo mengungkapkan, FPDIP meminta agar ada investigasi atas insiden tersebut. Terlepas dari fakta bahwa kejadian itu akibat kecelakaan, dia menilai perlu investigasi soal kelayakan kondisi kapal. Ada dugaan kapal tersebut tidak dilengkapi pelampung sebagai alat keselamatan darurat. ''Polda Sulut harus mengusut,'' pintanya.

Jenazah Setia dan Wahyu tadi malam diterbangkan ke Jakarta dari Bandara Sam Ratulangi, Manado, dengan pesawat Lion Air JT-743.

Wakil Ketua DPR Pramono Anung menyatakan bahwa ada prosesi penghormatan bagi Setia Permana. Proses penghormatan terakhir bagi Setia dilakukan tadi malam pukul 22.00. Hadir dalam penghormatan terakhir tersebut para perwakilan fraksi. Pramono, yang juga politikus FPDIP, memimpin langsung upacara penghormatan itu. Upacara tersebut berlangsung singkat. Selanjutnya, jenazah Setia dibawa ke rumah duka di Cimahi, Jawa Barat.

Secara terpisah, Otong Abdurrahman menuturkan bahwa rencana pelesir ke Bunaken muncul setelah komisi III rapat dengar pendapat umum (RDPU) dengan Polda Sulut kemarin (6/8). Kebetulan, jadwal kunjungan kerja ke sejumlah instansi terkait di Manado telah selesai. Karena itu, anggota komisi III ingin mengadakan kunjungan ke lapangan.

''Kunjungan lapangan berkaitan dengan fasilitas dan kegiatan di laut. Kami perlu melihat di lapangan,'' papar dia. Dia menambahkan, sebagian anggota DPR baru akan kembali ke Jakarta pada Minggu (8/8). Sebagian lain memutuskan kembali Sabtu sore (7/8). ''Kami dari FPKB rencananya kembali besok (Minggu, Red),'' kata dia. (bay/dyn/jpnn/c4/dwi)

------------------------
" Alam dan Adat Bicara"
READ MORE - Kapal Dihantam Ombak, Anggota DPR Tewas di Manado

Selasa, 03 Agustus 2010

Warung Makan Kebakaran Diduga Karena Ledakan Elpiji


Metrotvnews.com, Rembang: Sebuah warung makan di jalan lintas Pantai Utara Jawa, Rembang, Jawa Tengah, Senin (2/8), terbakar. Penyebabnya diduga akibat ledakan tabung elpiji 12 kilogram. Perhiasan dan uang senilai Rp25 juta ikut ludes dilalap di jago merah.

Api pertama kali terlihat di dapur warung. Kemudian, menjalar ke warung-warung di sebelahnya. Api juga menyambar kabel listrik Perusahaan Listrik Negara di atap warung. Orang-orang yang sedang makan siang berhamburan.

Kebakaran terus membesar karena tiupan angin. Api baru bisa dipadamkan 15 menit kemudian. Pemilik warung kini syok. Semenatra petugas belum bisa memastikan penyebab kebakaran, meski pemilik mengaku karena ledakan tabung elpiji.(IKA)

------------------------
" Alam dan Adat Bica

READ MORE - Warung Makan Kebakaran Diduga Karena Ledakan Elpiji

Belasan Rumah dan Isinya Ludes Terbakar


Headline News / Nusantara / Senin, 2 Agustus 2010 16:12 WIB

Metrotvnews.com, Bima: Sedikitnya 12 rumah panggung di Desa Keli, Kecamatan Woha, Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat, Senin (2/8) ludes ditelan api. Kebakaran diduga bersumber dari hubungan pendek arus listrik alias korsleting.

Keterangan saksi, api lebih dulu melalap rumah panggung milik Jaharuddin, warga RT01 RW01 Desa Keli. Kala itu kira-kira pukul 09.30 WIB. Pemilik rumah sedang bekerja di sawah. Api pun dengan cepat menjalar ke belasan rumah lain.

Ironisnya, tak seorang pun penghuni berada di belasan rumah sekitar. Alhasil, api leluasa melalap rumah beserta isinya. Tak satupun barang terselamatkan. Petugas pemadam kebakaran bersama warga beramai-ramai mematikan api dengan alat seadanya. Sejam kemudian, api jinak.

Kejadian tidak menimbulkan korban jiwa. Kerugian ditaksir mencapai ratusan juta rupiah. Harta-benda melayang antara lain uang tunai, barang berharga, dan rumah warga.

------------------------
" Alam dan Adat Bica
READ MORE - Belasan Rumah dan Isinya Ludes Terbakar

Truk Terjun Ke Jurang, Puluhan Orang Tewas


Liputan6.com, Mumbai: Dua puluh tiga peziarah tewas akibat truk yang ditumpanginya terjun ke jurang di sebelah barat laut Uttarakhand Mumbai, India, Ahad (1/8). Menurut kepolisian setempat, peristiwa terjadi di jalan raya nasional di distrik Uttarkashi dari Uttarakhand.

"Truk terjun ke jurang sedalam sekitar 150 meter," kata pejabat polisi setempat kepada Press Trust of India. "Diduga, kecelakaan akibat hujan lebat selama dua hari terakhir."

Tim penyelamat menemukan 23 orang korban tewas. Gubernur Uttarakhand Ramesh Pokhariyal menyatakan keterkejutannya atas kecelakaan itu dan memerintahkan penyelidikan secara menyeluruh. (Xinhua/JAY/SHA)

------------------------
" Alam dan Adat Bicara"
READ MORE - Truk Terjun Ke Jurang, Puluhan Orang Tewas

Rumah di Kebon Kembang Kebakaran, Warga Berhasil Padamkan Api


Bandung - Sebuah rumah yang menjadi tempat kosan milik Didet (32), di Jalan Kebon Kembang No 8 RT 6 RW 11 kelurahan Tamansari Kecamatan Bandung Wetan kebakaran sekitar pukul 17.00 WB. Diduga, api berasal dari korsleting listrik di lantai dua kosan tersebut.

Warga sekitar berhasil memadamkan kebakaran kurang dari 30 menit sehingga sebelum petugas Diskar Kota Bandung datang ke lokasi, warga sudah lebih dulu berhasil menjinakkan api.

Setelah mengetahui terjadi kebakaran, secara spontan, warga langsung membuat barisan untuk mengestafetkan ember berisi air ke lokasi kebakaran. Hal itu dilakukan sekitar 20 warga.

Akibat dari kebakaran tersebut, satu kamar kos berukuran 2x3 meter dan dapur berukuran 4x5 meter di lantai dua ludes dilalap si jago merah. Beruntung, kebakaran tidak meluas ke lantai di bawahnya atau rumah sekitar. "Api terlihat sekitar jam 17.00. Warga langsung berusaha memadamkan api," ujar Hendra, saat ditemui di lokasi kejadian, Senin (2/8/2010).

Diterangkannya, beruntung penyewa kamar kos di lantai dua tersebut sedang pergi ke luar. Sehingga, tidak ada korban jiwa dalam kejadian tersebut. Untuk kerugian, masih belum bisa diprediksi mengingat pemiliki kosan belum menghitunya. Sebab, pemilik kosan baru datang ketika api sudah dipadamkan.

Sementara, 4 unit mobil damkar dikerahkan ke lokasi dan tiba sekitar pukul 17.20 WIB. Saat datang, api relatif sudah kecil dan patugas Diskar hanya melakukan proses pendinginan agar tidak ada barang-barang yang kembali terbakar. Petugas pun membubarkan diri sekitar pukul 17.30 WIB usai melakukan proses pendinginan. (ors/tya)

------------------------
" Alam dan Adat Bicara"
READ MORE - Rumah di Kebon Kembang Kebakaran, Warga Berhasil Padamkan Api