Kamis, 09 September 2010

Asrama Polisi Pontianak Utara Terbakar


PONTIANAK, KOMPAS.com - Sebanyak empat rumah di Asrama Kepolisian Sektor Utara, Pontianak Utara, Kamis (9/9/2010) sekitar pukul 11.00 WIB, terbakar. Kepala Bidang Humas Kepolisian Daerah Kalimantan Barat, Ajun Komisaris Besar (Pol) Suhadi Siswo Wibowo, saat dihubungi membenarkan adanya musibah kebakaran asrama tersebut.

"Peristiwanya sekitar pukul 11.00 WIB, diduga karena arus pendek listrik," kata Suhadi. Namun ia belum dapat memastikan nilai kerugian akibat musibah tersebut. "Saya harus pastikan dulu dengan Direktur Pol Airud," katanya.

Lokasi Asrama Polsek Utara berada satu kompleks dengan Markas Kepolisian Perairan Polda Kalbar di Jalan Khatulistiwa, Pontianak Utara. Bangunan di kompleks itu rata-rata berusia tua berdinding semen dan kayu belian.

Saat ini, menurut Suhadi, api yang membakar empat unit bangunan itu sudah dipadamkan petugas pemadam kebakaran dari sejumlah yayasan sosial yang ada di Kota Pontianak.

--------------------------
" Alam dan Adat Bicara "
READ MORE - Asrama Polisi Pontianak Utara Terbakar

Jayapura Diguncang Gempa 5,7 SR


Liputan6.com, Jayapura: Gempa berkekuatan 5,7 skala Richter (SR) mengguncang Jayapura. Gempa tersebut berada pada 2.61 LS - 138.42 BT dengan kedalaman 10 km.

Berdasarkan data Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), gempa terjadi pukul 10.14 WIB, Sabtu (4/9). Gempa tersebut tidak berpotensi tsunami.

Pusat gempa berada pada 254 km Barat Daya Jayapura, 273 km Timur Laut Timika, 304 km Tenggara Biak, 318 km Timur Laut Keawkwa, 3.532 Timur Laut Jakarta. (MEL)


--------------------------
" Alam dan Adat Bicara "
READ MORE - Jayapura Diguncang Gempa 5,7 SR

Gempa 5,2 SR Guncang Dili


Liputan6.com, Dili: Gempa berkekuatan 5,2 skala Richter mengguncang Dili, Timor Leste, Kamis (9/9). Beradasarkan informasi Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika, gempa dengan kedalaman 516 kilometer itu tidak berpotensi tsunami.

Lokasi gempa berada di 6.08 LS-125.88 BT. Pusat gempa berada di 278 kilometer timur laut Dili, Timor Leste, 370 kilometer tenggara Baubau, Sulawesi Tenggara, 371 kilometer barat daya Ambon, Maluku, 434 kilometer tenggara Kendari, Sulteng, dan 2.116 kilometer timur laut Jakarta.(IAN)


--------------------------
" Alam dan Adat Bicara "
READ MORE - Gempa 5,2 SR Guncang Dili

Kebakaran di Porong Bakar 3 Rumah dan 3 Warga Api Jalan di Udara, Kolam Ikut Membara


Kebakaran di Porong Bakar 3 Rumah dan 3 Warga
Api Jalan di Udara, Kolam Ikut Membara

SIDOARJO - Semburan lumpur Lapindo yang disertai gas metan terus memunculkan ancaman bagi warga sekitar. Tiga rumah di Desa Siring, Kecamatan Porong, Selasa malam (7/9), terbakar. Tiga warga menjadi korban kebakaran tersebut. Dua di antara mereka mengalami luka bakar serius.

Ketiga korban itu adalah Purwaningsih, 55; Debi Purbianto, anak Purwaningsih, 23; dan Budirahayu, 50. Berdasar data yang dihimpun Jawa Pos, kebakaran tersebut terjadi sekitar pukul 22.30. Tiga rumah yang terbakar adalah milik Suncoko, Purwaningsih, dan Okki Andrianto, ketiganya warga Jalan Beringin. Sampai berita ini ditulis, penyebab awal kebakaran masih simpang siur karena kejadian itu begitu cepat.

Beberapa sumber di lapangan menyebutkan, awalnya, Purwaningsih menyalakan api di atas tungku buatan Badan Penanggulangan Lumpur Sidoarjo (BPLS) yang memanfaatkan gas dari bubble. Tungku itu bisa menyala karena dialiri gas dengan menggunakan pipa.

Saat dia menyalakan tungku, tidak terjadi apa-apa. Namun, tiba-tiba api diketahui sudah menjalar ke mana-mana. Abdul Halim, salah seorang saksi, melihat saat itu api sudah menjalar di atas Jalan Beringin. Api menjalar di atas jalan penghubung rumah Purwaningsih, Okki, dan Suncoko yang berjarak sekitar sepuluh meter. "Saya biasa lewat sini. Tapi karena ada api, saya tidak berani lewat," katanya.

Kobaran api itu lantas membakar sebuah toko milik Okki yang berada di rumah Jalan Beringin Nomor 5. Sempat terjadi ledakan beberapa kali disertai hembusan api dari bawah yang menimbulkan getaran.

Akibatnya, sebuah sepeda motor dan seluruh isi toko yang baru diisi barang dagangan beberapa hari lalu itu musnah terbakar. "Untung saja tidak ditempati kalau malam. Siangnya, anak saya di toko," kata Okki.

Bukan hanya itu, bagian dalam rumahnya juga menjadi kolam api. Dari sebuah kolam yang berukuran sekitar 8 x 7 meter persegi itu keluar semburan lumpur disertai gas. Api pun mewarnai permukaan air yang terus bergolak seperti mendidih. Warga di sana ada yang menyebutnya sebagai neraka kecil. Kolam tersebut terbentuk karena sebelumnya tembok yang di atasnya ambles.

Petugas pemadam kebakaran sempat kesulitan memadamkan api. Lebar jalan yang hanya sekitar empat meter menyulitkan pergerakan petugas. Selain itu, lokasi kebakaran cukup jauh di dalam rumah. Ditambah lagi, banyaknya warga yang menonton mengakibatkan aparat harus turun mengusir warga yang mendekat.

Belasan mobil pemadam kebakaran dikerahkan. Namun, api baru bisa dikendalikan sekitar pukul 03.30 setelah mobil pemadam bolak-balik untuk mengisi air karena kehabisan. BPLS juga menyemprotkan cairan busa untuk memadamkan api agar tidak bergeliat lagi.

Sebelumnya, rumah Okki pernah mengalami hal serupa pada 7 Juli 2009. Semburan gas di rumah tersebut mengeluarkan api hingga membesar dan akhirnya bisa dikendalikan. Namun, hal itu terulang pada 7 September 2010 kemarin.

Bukan hanya itu, rumah Suncoko yang bersebelahan dengan rumah Okki pun ikut terbakar. Api sempat membubung hingga setinggi atap rumah. Setelah disiram air, api pun padam. Namun, dari titik tersebut tetap mengeluarkan suara mendesis yang bisa didengar dari jarak sepuluh meter.

Sementara itu, api juga membakar sisi dalam rumah Purwaningsih. Beberapa perabot rumah tersulut api. Purwaningsih yang saat itu sedang menonton televisi bersama Debi, anaknya, langsung tersambar api.

Menurut Hadi Wijayanto, 56, suami Purwaningsih, saat kejadian, dia sedang berada di gudang rumahnya. Sementara Purwaningsih dan Debi Purbawiyanto menonton televisi. Tiba-tiba api masuk ke dalam rumah dan menyulut ibu serta anak tersebut.

Melihat hal itu, Hadi segera mengambil air seadanya untuk memadamkan api, yang juga menyulut perabot rumah tangganya. Saat api masih menyala, dia tidak berani keluar rumah meski para tetangga meneriaki untuk segera keluar. ''Waktu itu api masih menyulut, saya juga masih bau gas. Jadi, gak berani keluar,'' ucapnya. Setelah api mengecil, Hadi keluar rumah. Untung, dia hanya mengalami luka ringan. Sementara itu, istrinya, Purwaningsih, dan anaknya, Debi, mengalami luka cukup serius.

Budirahayu, korban lain, mengalami hal yang sama. Saat kejadian, kebetulan dia sedang menengkok rumah di Siring Barat yang sudah tidak ditempati. Dia kaget dan penyakit asma yang dideritanya pun akhirnya kambuh. Oleh beberapa warga, Budirahayu dibawa ke RSUD Sidoarjo. Namun, karena lukanya hanya ringan, dia langsung diperbolehkan pulang.

Sementara itu, Purwaningsih dan Debi saat ini dirawat di Ruang Mawar Pink RSUD Sidoarjo. Purwaningsih mengalami luka bakar sekitar 58 persen. Dia mengalami luka bakar di bagian muka, punggung, tangan, dan kaki. Sedangkan Debi mengalami luka bakar sekitar 48 persen. Dia mengalami luka bakar di punggung, wajah, tangan, dan kaki.

Kapolres Sidoarjo AKBP M. Iqbal di lokasi kejadian mengatakan, pihaknya akan menyelidiki kebakaran tersebut. Dia bakal menerjunkan saksi ahli untuk mengetahui penyebab terjadinya kebakaran itu. "Apakah karena kelalaian warga atau petugas lapangan BPLS. Kami akan cari tahu," ucapnya.

Humas BPLS Akhmad Khusairi menyatakan, kebakaran tersebut tidak berasal dari kompor gas alam, melainkan dari sulutan api yang mungkin berasal dari petasan. ''Kalau berasal dari ledakan kompor, rumah korban pasti sudah hangus terbakar,'' ujarnya. (eko/adh/byu/c3/nw) [ Kamis, 09 September 2010 ]


--------------------------
" Alam dan Adat Bicara "
READ MORE - Kebakaran di Porong Bakar 3 Rumah dan 3 Warga Api Jalan di Udara, Kolam Ikut Membara

Jalan Poros Barat Kalimanatan Putus 12 Jam


Jalan Poros Barat Kalimanatan Putus 12 Jam

SAMPIT - Jalan provinsi poros barat Kalimantan, tepatnya di KM 90, Desa Pundu, Kecamatan Cempaga Hulu, Kabupaten Kotawaringin Timur, kembali putus kemarin (7/9) akibat luapan Sungai Basawang Besar. Air berwarna coklat deras mengalir dari arah dataran tinggi, merendam jalan dan semak-semak di sekitarnya.

Pantauan di lokasi kejadian menyebutkan, jalan sepanjang sekitar satu kilometer tidak bisa dilalui kendaraan selama 12 jam lebih. Akibatnya, ratusan kendaraan harus antre hingga tiga kilometer lebih di kedua sisi jalan.

Menurut warga setempat, banjir berawal dari hujan deras yang mengguyur sejak Senin petang (6/9). Menjelang tengah malam, hujan kian deras."Kami mulai melihat air naik sekitar pukul 03.00. Namun, saat itu mobil masih bisa melintas. Sejam kemudian, air makin tinggi sehingga kendaraan tidak berani melintas. Antrean kendaraan mulai memanjang sekitar pukul 07.00," tutur Dehes, 55, warga setempat.

Melihat kondisi tersebut, lanjut Dehes, warga setempat berinisiatif menawarkan jasa penyeberangan dengan menggunakan empat getek dan tiga rakit terbuat dari ban dan drum kosong. Hanya manusia dan kendaraan roda dua yang bisa diseberangkan dengan rakit tersebut. "Satu orang dikenai tarif Rp10 ribu, motor Rp 20.000," terangnya.

Yang banyak menggunakan jasa penyeberangan tersebut adalah penumpang travel tujuan Bandara Tjilik Riwut, Palangka Raya. Mereka terpaksa diberangkatkan dengan cara estafet antar travel.

Akan halnya kendaraan roda empat, semua tidak bisa bergerak sama sekali. Sebab, ketinggian air hampir satu meter. Mobil yang antre baru bisa melintas sekitar pukul 11.30 saat genangan air mulai surut. (gus/jpnn/c7/soe)

--------------------------
" Alam dan Adat Bicara "
READ MORE - Jalan Poros Barat Kalimanatan Putus 12 Jam

Senin, 06 September 2010

Hujan, Sejumlah Ruas Jalan Macet


Liputan6.com, Jakarta: Hujan deras yang mengguyur Jakarta sejak pagi tadi membuat sejumlah ruas jalan di Ibu Kota macet, Senin (6/9). Hingga siang ini dilaporkan sejumlah ruas jalan masih tersendat bahkan tidak bergerak sama sekali.

Kemacetan terjadi di ruas jalan Sudirman yang menunju Semanggi. Selain meningkatnya volume kendaraan yang melintas, permukaan jalan yang licin akibat hujan yang masih terus mengguyur menjadi salah satu penyebab kemacetan. Kemacetan juga terlihat di ruas jalan arteri Gatot Subroto menuju Semanggi.

Padatnya arus lalu lintas juga terjadi di kawasan Buncit Raya, dari Warung Jati menuju Mampang Prapatan tampak padat merayap. Genangan air di sejumlah tempat membuat ruas jalan yang dapat dilalu makin sedikit. Demikian juga dengan ruas jalan Arteri Pancoran menuju Kuningan.(AYB)

--------------------------
" Alam dan Adat Bicara "
READ MORE - Hujan, Sejumlah Ruas Jalan Macet

Longsor Guatemala Korban Tewas Longsor Menjadi 54 Orang


GUATEMALA, KOMPAS.com — Jumlah korban jiwa akibat tanah longsor yang terjadi Sabtu malam di bagian barat Guatemala telah naik menjadi 54 orang.

Sumber tersebut mengatakan, petugas pertolongan menemukan 18 mayat lagi sehingga jumlah korban tewas menjadi 54 orang dari yang diumumkan sebelumnya 36 orang.

Pada Sabtu malam, tanah longsor di Jalan Raya Inter America menimbun lima kendaraan dan satu bus penumpang.

Tanah longsor kedua dilaporkan terjadi di tempat yang sama dengan tempat tim pertolongan sedang berusaha menggali korban yang tertimbun tanah longsor pertama.

"Tebing runtuh menimpa satu bus dan 100 warga setempat bergotong royong untuk menggali dan mengeluarkan korban. Namun kemudian terjadi tanah longsor yang menimbun mereka," kata petugas pemadam, Sergio Vasquez, Senin (6/9/2010).

"Itu adalah tragedi nasional, kami sangat prihatin," kata Presiden Guatemala Alvaro Colom Caballeros.

Menurut Presiden, hampir 12.000 orang diungsikan ke tenda darurat. "Menyakitkan bahwa orang miskin harus membayar harga bencana alam ini semahal ini," katanya.

"150 petugas SAR menggunakan traktor dan ekskavator menolong korban. Tetapi, hujan lebat memaksa mereka menghentikan operasi," kata juru bicara Koordinator Tanggap Bencana Nasional David de Leon.

Menurut dia, kegiatan pertolongan akan dilanjutkan segera setelah hujan reda.

"Kami tak ingin membahayakan petugas pertolongan. Kami telah bekerja keras, tapi hujan tak kunjung reda. Ada petir dan geledek, selain kabut tebal. Bekerja dalam kondisi ini sangat berbahaya," kata juru bicara Regu Pemadam Kotapraja Jose Rodriguez.

Lebih dari 30 lokasi tanah longsor telah memutus Jalan Raya Antar-Amerika, satu jalan utama di Guatemala, dalam rentang 50 kilometer, demikian laporan media setempat.

--------------------------
" Alam dan Adat Bicara "
READ MORE - Longsor Guatemala Korban Tewas Longsor Menjadi 54 Orang

Kecelakaan Trike di Lido Pesawat Reny Widodo Milik Pribadi


BOGOR, KOMPAS.com - Reny Widodo, pilot dalam penerbangan solo pesawat Trike yang jatuh pagi ini (Senin, 6/9/2010) di kawasan Lido, Jawa Barat adalah atlet nasional yang tergabung dalam Federasi Aerosport Seluruh Indonesia (FASI).

Pesawat ultralight yang digunakan Reny pun adalah milik pribadi yang digunakannya untuk melakukan pemantauan udara. "Ya berdasarkan ijin terbang yang dikeluarkan federasi aerosport, dia mau melakukan pemantauan situasi udara," kata Kepala Polres Bogor Ajun Komisaris Besar Tomex Kurniawan dalam perbincangan dengan Kompas.com, Senin siang.

Tomex menjelaskan, saat ini pihak kepolisian sudah mengamankan seluruh perlengkapan milik Reny, seperti pakaian dan dompet, serta berbagai serpihan yang ada di sekitar lokasi kecelakaan. "Kalau bangkai pesawat masih belum dievakuasi, karena masih harus menunggu proses investigasi, kami pasangi policeline," kata Tomex.

Jenazah Reny sudah dibawa ke rumah sakit PMI Bogor dan menurut Tomex, telah diserahterimakan kepada pihak keluarga. Reny meninggal di lokasi kejadian, setelah lepas landas pada pukul 7.15 wib dan mengalam kecelakaan sekitar 20 menit kemudian.

--------------------------
" Alam dan Adat Bicara "
READ MORE - Kecelakaan Trike di Lido Pesawat Reny Widodo Milik Pribadi

Senin, 30 Agustus 2010

Ini Video 'Gerbang Neraka' di Turkmenistan Kawah selebar 60 meter dan dalam 20 meter terus terbakar selama 38 tahun.


VIVAnews - Fenomena aneh terdapat di Gurun Karakum di Turkmenistan.
Di dekat desa terpencil, Derweze yang dihuni 350 orang, terdapat sebuah kawah selebar 60 meter dan dalam 20 meter. Kawah ini terus-menerus mengeluarkan api dan terbakar selama 38 tahun.

Oleh penduduk setempat, kawah membara ini disebut sebagai Kawah Gas Darvaza atau juga lebih terkenal sebagai 'Gerbang Neraka'. Kawah ini bisa terlihat dari jarak beberapa kilometer.

Ini bukan fenomena alam, melainkan hasil dari kecelakaan industrial. Pada tahun 1971, sebuah rig pengeboran Uni Soviet tak sengaja mengenai gua bawah tanah yang menyimpan gas alam dalam jumlah yang masif.

Itu menyebabkan tanah runtuh dan seluruh rig pengeboran masuk ke dalamnya. Gas alam beracun bocor dari lubang itu.

Untuk menanggulangi bencana lingkungan yang potensial, Soviet mengatur bentuk lubang. Kawah tidak berhenti terbakar sejak itu.

Fenomena ini telah menarik turis asing yang melakukan perjalanan ke Turkmenistan. Video 'Gerbang Neraka' juga jadi hits di YouTube, dan diakses jutaan orang -- meski beberapa salah menyebutkan lokasinya, di Uzbekistan.

Pada April 2010, Presiden Turkmenistan, Kurbanguly Berdymukhamedov 'Gerbang Neraka'.

Ia memerintahkan otoritas setempat untuk mencari cara untuk mengatasinya dan menjamin tidak akan menghambat pengembangan ladang gas di dekatnya.

Berdymukhamedov mengatakan bahwa "anomali ini' telah menghambat pengembangan industri eksplorasi bawah tanah di Karakum. Sumber: (static.atlasobscura.com, Allvoices)


--------------------------
" Alam dan Adat Bicara "

READ MORE - Ini Video 'Gerbang Neraka' di Turkmenistan Kawah selebar 60 meter dan dalam 20 meter terus terbakar selama 38 tahun.

Minggu, 29 Agustus 2010

Sebuah Pulau Es Raksasa Mengancam


STOCKHOLM, KOMPAS.com — Sebuah pulau es seluas 260 km2, lima kali luas Jakarta Pusat, yang lepas dari gletser Petermann, Greenland, melintasi Lautan Arctic, Rabu (11/8/2010). Bisa dibayangkan, apabila seluruh es Greenland mencair, bisa menaikkan permukaan air dunia 6 meter. Jakarta Utara bisa tenggelam jika permukaan laut naik 2-3 meter.

Pulau es yang sedang "berenang" di Lautan Arctic itu segera memasuki tempat terpencil yang disebut Selat Nares, sekitar 620 km selatan Kutub Utara, yang memisahkan Greenland dan Pulau Ellsemere, Kanada. Dalam skenario terburuk, bongkahan es raksasa itu bisa saja mencapai perairan yang ramai dilalui kapal di mana bongkahan es Greenland serupa pada tahun 1912 menghancurkan Titanic.

"Pulau es itu sangat besar sehingga mustahil bisa menghentikannya," kata Hon-Ove Methie Hagen, glasiologis dari Universitas Oslo.

Jika pulau es setebal Empire State Building di New York ini memasuki Selat Nares sebelum beku musim dingin (bulan depan), lintas kapal di sekitar Kanada akan terusik. Dan, jika bongkahan es raksasa itu mengalir ke selatan akibat didorong arus, lalu mencapai pantai timur Kanada, perairan yang sibuk, pengiriman minyak dari Newfoundland akan terganggu.

Pulau es itu amat berbahaya bagi anjungan minyak Grand Banks di lepas pantai Newfoundland, Kanada. "Dari sanalah bisa menjadi titik awal bencana besar," kata Mark Drinkwater dari Badan Antariksa Eropa.

Daya dorong pulau es itu sangat kuat, dapat menyapu anjungan minyak lepas pantai serta kapal-kapal yang ada di depannya. Benturan yang ditimbulkannya pun dapat menyebabkan kerusakan parah. Jika es itu mencair, berpotensi menaikkan permukaan laut global setinggi 20 kaki atau 6 meter!

Pulau es itu pertama kali terlihat lewat satelit oleh seorang peramal es dari Kanada, Tudy Wohllenben, Kamis (5/8/2010). Debit air segar jika es itu meleleh bisa memasok kebutuhan air bagi seluruh warga Amerika Serikat selama 120 hari atau empat bulan.

Canadian Ice Service memperkirakan, laju bongkahan es itu memakan waktu satu atau dua tahun mencapai pesisir timur Kanada. Kemungkinan juga akan pecah menjadi potongan-potongan kecil akibat menabrak gunung es dan pulau-pulau karang. Bongkahan-bongkahan itu juga akan roboh atau mencair akibat angin dan gelombang. "Tapi bongkahan hasil pecahan itu terbilang cukup besar," kata Trudy Wohllenben.

Reuters melaporkan, peristiwa lepasnya pulau es dari gletser Petermann, Kutub Utara, ini merupakan fenomena alam terbesar dalam kurun 28 tahun. Terakhir terjadi pada tahun 1962 ketika Ward Hunt Ice Shelf, Greendland, membentuk sebuah pulau.

Para ilmuwan Amerika Serikat mengatakan, sulit mengklaim robohnya bongkahan es raksasa itu akibat pemanasan global sebab rekaman tentang air laut di sekitar gletser itu tersimpan sejak 2003. Aliran air laut di bawah gletser menjadi penyebab utama lepasnya pulau es dari Petermann, Greenland. (AP/REUTERS/CAL)

--------------------------
" Alam dan Adat Bicara "
READ MORE - Sebuah Pulau Es Raksasa Mengancam

Akui Kesalahan Laporan Perubahan Iklim


AMSTERDAM, KOMPAS.com - Sebuah badan lingkungan hidup Belanda, Senin (5/7/2010), mengecam banyaknya kesalahan dalam laporan perubahan iklim oleh badan bentukan PBB. Mereka mendesak agar laporan dibuat secara lebih berhati-hati. Meski demikian, kesimpulan umum bahwa perubahan iklim terjadi akibat perilaku manusia dan mengancam kelangsungan hidup jutaan manusia tidaklah berubah.

Maarten Hajer dari Netherlands Environmental Assessment Agency mengatakan, "Ini mirip dengan potongan teka-teki yang perlu disesuaikan satu sama lainnya agar kesalahan-kesalahan itu tidak merusak seluruh konstruksi." Sejumlah kesalahan yang ditemukan pada laporan Panel Antar-ahli tentang Perubahan Iklim (IPCC) telah membuat sejumlah negara mempertanyakan semua kebenaran terkait dengan isu perubahan iklim.

Badan tersebut mengaku bertanggung jawab pada informasi bahwa 55 persen wilayah Belanda lebih rendah dari permukaan laut, padahal sebenarnya hanya 26 persen. Laporan awal menyebutkan, pemanasan global akan menyebabkan 75 juta-250 juta penduduk Afrika berisiko kekurangan air pada 10 tahun mendatang. Angka yang benar antara 90 juta-220 juta.

Penemuan sejumlah kesalahan itu menyebabkan sejumlah negara meragukan kebenaran tentang perubahan iklim. Akhirnya dibentuk sebuah tim independen untuk mengawasi proses kerja dari para ilmuwan di dalam IPCC, antara lain tentang cara mendapatkan data dan memprosesnya. Badan tersebut mendesak agar data dari negara berkembang diperbanyak. (AP/ISW)

--------------------------
" Alam dan Adat Bicara "
READ MORE - Akui Kesalahan Laporan Perubahan Iklim

Banjir Kiriman Rendam Ratusan Rumah di Cirendeu Permai


Jakarta - Banjir kiriman dari Bogor merendam ratusan rumah di perumahan Cirendeu Permai, Cirendeu, Tangerang Selatan. Banjir di pemukiman tersebut mencapai ketinggian satu meter.

"Di tempat saya yang cukup tinggi saja ketinggian air mencapai sepinggang, apalagi di tempat lain yang lebih rendah bisa sampai 1 meter," kata Ketua Dewan Pembina Komnas Perlindungan Anak, Kak Seto, yang rumahnya terletak di perumahan itu, Minggu (29/8/2010).

Kak Seto menjelaskan, air mulai naik sekitar pukul 05.00 WIB. Air naik dengan cepat dan kini belum menunjukkan tanda-tanda surut.

"Naiknya sangat cepat, padahal saat sahur belum seperti ini," katanya pada detikcom pukul 11.00 WIB.

Kak Seto saat ini belum mengungsi. Ia bertahan di bagian atas rumahnya. "Saya masih di lantai dua, belum mengungsi," katanya.

Sementara itu, TMC Polda Metro Jaya mengungkapkan ketinggian air di perumahan Cirendeu mencapai 90-120 cm. Saat ini sekitar 120 rumah tergenang banjir kiriman tersebut.
(nal/nrl)

--------------------------
" Alam dan Adat Bicara "
READ MORE - Banjir Kiriman Rendam Ratusan Rumah di Cirendeu Permai