Senin, 21 Mei 2012

Pagi Ini Gerhana Matahari Tampak di Kalimantan Berlanjut ke Papua


Moyang Melanesia News: Detik.com. Jakarta, Fenomena gerhana matahari akan terjadi pada pagi ini, Senin (21/5/2012). Bermula dari wilayah Jepang dan diakhiri di wilayah Amerika Serikat, Indonesia juga akan disambangi oleh fenomena yang setidaknya terjadi selama dua kali dalam setahun ini.
Gerhana Matahari






Fenomena ini terjadi ketika bulan berada di posisi terjauh dari bumi, berada di antara matahari dan bumi, dan juga posisi bulan sejajar dengan matahari. Karena ukuran bulan lebih kecil dari matahari, maka ada sebagian cahaya matahari menuju bumi yang tertutup oleh bulan dengan bagian tengah yang gelap dan tepi yang cemerlang. Fenomena ini terkenal dengan nama gerhana cincin yang akan terjadi pagi ini.

Namun, menurut Deputi Sains, Pengkajian, dan Informasi Kedirgantaraan Lapan, Thomas Djamaluddin, Indonesia hanya terkena fenomena gerhana sebagian, yang artinya kondisi pencahayaan di wilayah tersebut tidak akan terlalu gelap.

"Mulai dari Kalimantan, Sulawesi, Maluku dan Papua. Termasuk gerhana sebagian, sehingga nanti suasana siangnya tidak terlalu gelap. Kebetulan wilayah Indonesia di bagian tepi dari jalur gerhana," ujar Thomas saat dihubungi detikcom, Minggu (20/5/2012) malam.

Namun fenomena ini hanya akan berlangsung dalam waktu yang singkat sejak pukul 06.30 WIT dan terjadi sekitar 5 menit.

"Untuk Kalimantan hanya bisa melihat bagian terakhir terjadinya gerhana, sedangkan Sulawesi saat di tengah dan akhir gerhana. Maluku hingga Papua kemungkinan bisa melihat dari awal sampai akhir," tambah Thomas.

------------------------------------
OPERASI SANDI "AWAS!"
Pemangku Dewan Alah, Alam dan Adat


READ MORE - Pagi Ini Gerhana Matahari Tampak di Kalimantan Berlanjut ke Papua

Jumat, 11 Mei 2012

MASYARAKAT ADAT KOTEKA PAPUA MENOLAK KLEIM NKRI DI TANAH PAPUA

- ( Kleim Indonesia Papua Bagian Dari NKRI Semata-mata Karena PEPERA Sudah Final )

SURAT TERBUKA UNTUK HIMBAUAN UMUM
Kepada:
1. Almarhum Presiden RI ke I, Ir. Soekarno
2. Kepala pemangku Adat Tanah Jawa Sri Sultan Hameng Kubuwono X
3. Pemangku adat Tanah Sumatra
4. Pemangku Adat Tanah Borneo
5 . Pemangku Adat Tanah Sulawesi
6. Presiden RI, Dr. Bambang Yudoyono
7. LMA dan Kepalasuku di Tanah Papua
8. Masyarakat Adat Papua Melanesia dan Melayu Indonesia
READ MORE - MASYARAKAT ADAT KOTEKA PAPUA MENOLAK KLEIM NKRI DI TANAH PAPUA

Kebakaran di Waena, 1 Tewas Terpanggang

Kebakaran di Waena, 1  Tewas Terpanggang

Moyang News: - JAYAPURA—Tempat  tambal  ban  milik   Usman  di sekitar Expo, Waena, terbakar Kamis (10/5) sekitar  pukul 19.40 WIT. Akibta musibah kebakaran ini seorang  anak pemilik rumah bernama   Dwi  (17)   tewas terpanggang api.

Halil,  seorang  tetangga yang  ditemui Bintang Papua  di  Tempat Kejadian Peristiwa (TKP) mengatakan,  kebakaran  ini disebabkan  kompor  meledak. Saat  itu  penghuninya  hendak  memindahkan  bensin yang   disimpan  tak jauh  dari  kompor seketika  itu meledak sekaligus   api  berkobar melalap  seluruh
READ MORE - Kebakaran di Waena, 1 Tewas Terpanggang

Kamis, 08 Maret 2012

Badai Matahari Mencapai Bumi

Badai Matahari Mencapai Bumi: Diperkirakan, akan terjadi badai matahari terbesar dalam 5 tahun terakhir.

Moyang-VIVAnews - Badai matahari diperkirakan akan mencapai bumi pada Kamis 8 Maret 2012. Dua lidah api besar terlontar dari matahari pada Selasa 6 Maret yang lalu. Fenomena itu diprediksi menimbulkan badai matahari terbesar dalam kurun lima tahun terakhir.
Menurut peneliti cuaca National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA), Joseph Kunches, badai itu terlihat seperti aurora matahari yang kuat. "Aurora mungkin menjadi sesuatu yang menarik yang bisa kita lihat saat terjadi ledakan di matahari," kata Kunches seperti dikutip space.com, Rabu kemarin. Aurora bukan satu-satunya produk sampingan dari badai matahari.
READ MORE - Badai Matahari Mencapai Bumi

Gorontalo Direndam Banjir, Papua Dilanda Gempa

Moyang-Jakarta - Banjir merendam Desa Bubode, Leao, dan Milango di kecamatan Temelito Kabupaten Gorontalo Utara, Provinsi Gorontalo, sejak pukul 23.00 WITA, Selasa (6/3).

"Dua ratus tujuh puluh unit rumah terendam, 1 buah jembatan rusak total," kata Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencanan (BNPB), Sutopo Purwo Nugroho, Rabu (7/3), di Jakarta.

Selain merendam pemukiman, banjir juga merendam satu pasar tradisional, kantor desa, dan pesantren. Jumlah kepala keluarga di ketiga desa ini masing-masing; Desa Bubode 92 KK, Leao 62 KK, dan Milango 116 KK.

"Kondisi mutakhir, sampai saat ini korban masih bertahan di rumah masing-masing namun membutuhkan air bersih, layanan kesehatan, sandang, makanan siap saji, dan selimut," rinci Sutopo.

Untuk menanggulangi korban, BPBD setempat telah melakukan koordinasi dengan Dinas Sosial, Dinas Kesehatan, dan instansi terkait lainnya serta melakukan penanganan darurat. BPBD sendiri telah menyalurkan makanan siap saji.

Sementara itu, di Papua, gempa berkekuatan 5,9 skala richter (SR) mengguncang pada pukul 19:00:42 WIB. Gempa berpusat 2.53 LS-139.30 BT (94 km Tenggara Sarmi, Papua) di kedalaman 127 km.

"Kondisi mutakhir, gempa dirasakan lemah oleh warga, tidak berpotensi tsunami, dan aktivitas warga normal seperti biasa," terangnya. [IS]

------------------------------------
OPERASI SANDI "AWAS!"
Pemangku Alam dan Adat
READ MORE - Gorontalo Direndam Banjir, Papua Dilanda Gempa

Rabu, 07 Maret 2012

Serbuan "Makhluk Asing" Ancam Ekosistem Antartika

Moyang-Sydney (ANTARA/Reuters) - Di benua beku alamiah Kutub Selatan, para ilmuwan khawatir terhadap serbuan "makhluk asing" --bukan dari antariksa, tetapi dari yang terbawa dalam tas dan kantung manusia.

Benih dan tanaman yang secara tak sengaja terbawa ke Antartika oleh wisatawan dan ilmuwan mungkin menghadirkan spesies tanaman asing yang dapat mengancam kelangsungan hidup tanaman asli di ekosistem yang sangat seimbang tersebut.

Tanaman asing yang menyerbu itu termasuk di antara ancaman paling besar terhadap kelestarian Kutub Selatan, terutama saat perubahan iklim yang membuat hangat benua es tersebut, kata satu laporan di Proceedings of the National Academy of Sciences Journal, yang disiarkan Selasa.

Lebih dari 33.000 wisatawan dan 7.000 ilmuwan mengunjungi Antartika setiap tahun dengan naik kapal dan pesawat, dan jajak pendapat dua bulan mengenai pelancong ke sana telah mendapati banyak dari mereka membawa benih tanaman yang berasal dari negara lain yang sudah mereka kunjungi.

Studi itu mengosongkan isi kantung, baju, celana dan lipatan lengan baju, sepatu serta bagian dalam tas pelancong, serta menggunakan jepitan untuk mengambil benih yang tersembunyi secara tak sengaja.

"Orang paling banyak membawa benih. Semuanya benar-benar ancaman besar," kata Dana Bergstrom, dari Australian Antartic Division.

"Ketika kita mengambil sesuatu saat melakukan pendakian, maka kita membawa spesies yang bersaing. Tanaman dan hewan di sana tak perlu bersaing, jadi ada kemungkinan besar ... kita mulai kehilangan bermacam keragaman hayati yang sangat berharga di benua (Kutub Selatan) itu," kata Bergstrom kepada Reuters --yang dipantau antara di Jakarta, Selasa siang.

Di antara spesies asing yang ditemukan adalah Iceland Poppy, rumput Tall Fescue Velvet --semuanya berasal dari iklim dingin dan mampu tumbuh di Kutub Selatan.

Semenanjung Antartika, tempat yang didatangi kebanyakan wisatawan, sekarang dipandang sebagai "titik panas" di benua beku dan iklim yang lebih hangat, sehingga lebih mudah bagi benih untuk tersebar.

"Semenanjung tersebut sekarang lebih hangat dengan tingkat yang paling besar di planet ini," kata Bergstrom.

Studi tersebut, penilaian pertama di seluruh benua itu mengenai serbuan spesies asing ke Kutub Selatan, menanyai sebanyak 1.000 penumpang selama 2007-2008, tahun pertama International Polar Year, upaya internasional untuk meneliti wilayah kutub.

Diperlukan waktu tiga tahun untuk mengidentifikasi spesies benih dan dampaknya terhadap benua yang diselimuti es itu.

Bergstrom mengatakan satu benih asing yang telah memiliki pijakan adalah Annual Winter Grass.

Itu adalah rumput penting di sub-Antartika dan sekarang berada di pulau King George, Kutub Selatan.

Tanaman tersebut juga telah meninggalkan jejak di bagian ekor benua Kutub Selatan.

"Itu cuma satu contoh rumput liar yang kami ambil dan populasi yang baru saja ditemukan dalam dua musim belakangan," katanya.

Annual Winter Grass tumbuh sangat baik di daerah terganggu seperti daerah penguin dan anjing laut, dan dapat menyebar di antara lumut yang tumbuh lambat di seluruh koloni itu.

"Jika rumput liar tersebut memasuki daerah di semenanjung itu, rumput tersebut akan memiliki potensi untuk menguasai tanaman lain," kata Bergstrom. (rr)
READ MORE - Serbuan "Makhluk Asing" Ancam Ekosistem Antartika

Kamis, 16 Februari 2012

Gempa 5,7 SR Guncang Papua Nugini

WartaNews-Sidney - Gempa bumi berkekuatan 5,7 Skala Richter (SR) dilaporkan mengguncang wilayah di bagian timur Papua Nugini, Kamis (16/2).
Papua New Guinea

Menurut Dinas Seismologi Australia, episentrum gempa terletak pada kedalaman 41 km pada 96 km sebelah selatan dari Lae, salah satu dari dua kota terbesar di negara tersebut.

Gempa tersebut cukup kuat, karena dapat dirasakan oleh warga yang berada di radius 340 km dari pusat gempa.

Namun, informasi mengenai jumlah korban atau kerusakan yang disebabkan gempa tersebut belum diterima.

Papua Nugini termasuk negara rawan gempa, karena terletak di kawasan yang disebut cincin api, daerah yang menyumbang 75 persen dari aktivitas gunung berapi di dunia.

Pada tahun 1998, negara itu sempat mengalami peristiwa paling tragis dalam sejarah, setelah gempa yang diikuti Tsunami telah menghancurkan kota Aytape dan menewaskan lebih dari dua ribu jiwa. (*/dar).
------------------------------------
OPERASI SANDI "AWAS!"
Pemangku Alam dan Adat
READ MORE - Gempa 5,7 SR Guncang Papua Nugini

Jumat, 10 Februari 2012

321 Kabupaten/Kota Berisiko Tinggi Bencana

JAKARTA--MICOM: Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyatakan 321 kabupaten/kota di Indonesia memiliki risiko tinggi terhadap kejadian 13 jenis bencana. Kesimpulan tersebut didapat dari hasil pemetaan risiko 13 jenis bencana di semua provinsi yang dilakukan oleh BNPB.

"Sebanyak 65 persen kabupaten/kota di Indonesia rawan kejadian 13 jenis bencana," sebut Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho, Kamis (9/2).

Ke-13 jenis bencana yang dimaksud adalah gempa bumi, tsunami, letusan gunung api, puting beliung, kekeringan, banjir, tanah longsor, gelombang pasang, kebakaran lahan dan hutan, epidemi dan wabah penyakit, gagal teknologi, kebakaran gedung dan permukiman, dan konflik sosial.

Selain itu, peta risiko juga mencatat, 173 kabupaten/kota berisiko sedang (35%). Berdasarkan peta risiko tersebut maka tidak ada kabupaten/kota yang berisiko rendah terhadap bencana.

Berkaca dari fakta tersebut, seluruh wilayah di Indonesia, kata Sutopo, seyogyanya telah membentuk Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) agar proses penanggulangan bencana bisa berjalan efisien dan efektif.

Sayangnya, lanjut Sutopo, masih ada 138 kabupaten/kota yang belum membentuk BPBD. ”Yang sudah terbentuk BPBD pun ternyata masih sangat terbatas dukungan anggaran, peralatan dan SDM-nya,” tutur dirinya. (Tlc/OL-9).
------------------------------------
OPERASI SANDI "AWAS!"
Pemangku Alam dan Adat
READ MORE - 321 Kabupaten/Kota Berisiko Tinggi Bencana

Kamis, 09 Februari 2012

Kebijakan Perkebunan Memasung Hak Ulayat

Oleh : Fauzan Zakir. Advokat dan Mantan Ketua Perhimpunan Bantuan Hukum dan Hak Azazi Manusia (PBHI).

Banyaknya kasus yang muncul pasca ditetapkannya UUPA menunjukkan bahwa peraturan dan kebijakan negara yang menyangkut pertanahan, baik untuk perkebunan maupun untuk pertanian tidak serta merta memberi manfaat yang luas bagi masyarakat termasuk kalangan petani yang sesungguhnya memerlukan undang-undang tersebut.

Seperti halnya yang dikemukakan oleh Profesor Mubyarto; “sumber utama dari kekeliruan negara adalah kecenderungan rezim kepada pembangunan ekonomi yang berorientasi pada pertumbuhan yang lebih cepat untuk meningkatkan produksi dan pendapatan (GDP dan GNP), tanpa memperhatikan pemerataan keadilan sosial”. Kebijakan perkebunan yang menyimpang dan sumir sejak masa kolonial sampai sekarang terus memperburuk sistem hukum pertanahan nasional. Bahkan tragisnya, ribuan nyawa rakyat menjadi taruhannya. Rentetan kasus Mesuji, Bima baru-baru ini sebagai bukti ketidakkonsistenan negara menjalankan amanah konstitusi maupun Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria (UUPA) yang secara inveratif menghormati dan melindungi hak-hak komunitas masyarakat adat dalam bingkai status hak ulayat yang istimewa pula.

Sebenarnya UUPA dengan tegas memposisikan fungsi negara sebatas mengatur saja, karena pada prinsipnya rakyat jualah yang berhak memiliki dan menerima manfaat dari tanah beserta kandungannya, baik secara individual maupun secara kolektif (ulayat).

Sama pula halnya dengan prinsip penguasaan tanah oleh negara yang mengatur keseluruhan pemanfaatan tanah bagi kemaslahatan rakyat banyak, maka fungsi ninik-mamak di Minangkabau juga adalah sebagai penguasa terhadap tanah ulayat yang hanya berwenang mengatur pemanfaatan tanah ulayat untuk kepentingan kolektivitas kaumnya secara turun-temurun dari keseluruhan anggota kaum, suku dan nagari.

Begitu banyaknya peralihan-peralihan hak atas tanah yang terjadi, terutama Hak Ulayat menjadi Hak Guna Usaha (HGU) selama ini telah menjadikan bukti yang tak terbantahkan lahirnya konflik-konflik perkebunan di Indonesia. Ditambah dengan pola kebijakan perkebunan yang cenderung diregulasi dengan cara yang inkonstitusional, merampas dan memasung hak ulayat.

Hampir setiap kebijakan perkebunan, ditelorkan dengan menghalalkan segala cara untuk menyokong ‘ideologi pembangunan’. Terutama untuk memfasilitasi dunia investasi yang sebenarnya cenderung kapitalistik. Mengakibatkan hak-hak masyarakat adat yang merupakan warga negara menjadi terzalimi demi kepastian hukum yang bersifat individualistik untuk kepentingan investasi semata.

Menjelang runtuhnya Orde Baru, terlihat dengan jelas banyak konflik-konflik yang terjadi antara masyarakat dengan pemerintah sebagai akibat dari kebijakan yang tidak populis tersebut. Bahkan secara sistemik pengaturan hukum pertanahan dan regulasi di bidang investasi tidak pernah sinkron dan selalu tumpang tindih satu sama yang lainnya, seperti halnya pemberlakuan Keputusan Presiden Nomor 97 Tahun 1993 maupun Keputusan Presiden Nomor 115 Tahun 1998 tentang Tata Cara Penanaman Modal yang pada akhirnya dibuat untuk mengangkangi kepentingan masyarakat lokal.

Reformasi Agraria Atau Revolusi Sosial ?
Istilah reformasi hukum pertanahan (land reform) di Indonesia sebenarnya sudah lama digembor-gemborkan, mulai sejak Indonesia merdeka, masa Orde Lama, Orde Baru dan mencuat kembali dimasa reformasi.

Mengemukanya kembali upaya perubahan terhadap UUPA pasca reformasi terjadi diera kepemimpinan Megawati yang berinisiatif dan bersemangat melakukan revisi UUPA tersebut, yakni dengan mengeluarkan Keppres Nomor 34 Tahun 2003 Tentang Kebijakan Nasional di Bidang Pertanahan. Hal mana intinya adalah memerintahkan Badan Pertanahan Nasional (BPN) sesegeranya melakukan perubahan terhadap UUPA. Akan tetapi perubahan yang diinginkan itu sampai sekarang masih terhalang.

Sekalipun drafnya sudah selesai dibuat oleh KPA (Komisi Pembaharuan Agraria) dan bola itu sekarang sudah berada di tangan DPR. Namun betapa ironisnya sudah 12 tahun reformasi berjalan, yang namanya DPR tetap saja memendam draf perubahan UUPA tersebut sampai sekarang.

Bahkan, sekalipun telah dipancing dengan ekspos Presiden SBY baru-baru ini yang setuju untuk mendorong reformasi agraria di tahun 2012 ini.
Memang diakui ada kemajuan sejak Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2004 tentang Perkebunan ini dikeluarkan, karena cukup memberikan perlindungan terhadap keberadaan tanah ulayat dan komunitas masyarakat hukum adat.

Sekalipun bila dicermati pasal demi pasal tetap saja undang-undang perkebunan ini mengandung sisi lemah, antara lain ; undang-undang ini cenderung memperlihatkan dominasi negara (Pasal 18), masih memberi peluang praktek monopoli (Pasal 20) dan pengabaian terhadap prinsif keberlanjutan lingkungan (Pasal 23)”. Undang-undang ini juga tidak memberi jalan keluar terhadap realitas konflik sosial yang sudah lama muncul disektor perkebunan. Hendaknya undang-undang ini memberi ruang atau menawarkan satu sistem atau mekanisme untuk menyelesaikan konflik perkebunan. Apalagi melihat realitas konflik perkebunan yang terus meningkat dari dulu sampai sekarang.

Mencermati hal demikian, maka harapan kita ke depannya, hendaklah pemerintah dan pembuat undang-undang yang memerancang perubahan UUPA menghindari kemungkinan terjadinya benturan antara hukum positif dengan hukum adat yang berlaku, sebagaimana poin inti dari tuntutan reformasi hukum agraria hari ini.

Tentunya dengan mempertimbangkan beberapa hal di antaranya adalah: Pertama melakukan perubahan atas materi UUPA itu sendiri, di mana UUPA harus memperhatikan konsistensi konstitusi terhadap setiap peraturan pelaksana yang dilahirkan dan jelas tidak bertentangan dengan hukum adat yang berlaku. Kedua, pemerintah harus mengeluarkan political will-nya dalam hal kebijakan perkebunan yang mampu mengakomodir kepentingan dan kesejahteraan bagi rakyat yang miskin, bukan sebaliknya membuat Keputusan Presiden atau Peraturan Pemerintah lainnya yang terus membela kepentingan modal asing. Ketiga, pemerintah dalam mengeluarkan kebijakan terkait dengan tanah perkebunan harus menghormati hak-hak konstitusional masyarakat adat yang istimewa, sesuai dengan Pasal 18B UUD 1945.

Berkenaan dengan hal di atas, kalau pemerintah tidak cepat merealisasikan hukum tanah yang memihak kepada rakyat, maka bukan reformasi agraria yang akan terjadi, namun revolusi sosial yang hebat, karena bagi petani dan komunitas masyarakat adat, “tanah menjadi tumpuan keberlangsungan hidupnya”. Sebagaimana juga catatan panjang revolusi-revolusi sosial yang pernah terjadi seluruh dunia.

Ternyata sepotong roti yang harganya terus melambung tanpa bisa terbendung, justru menjadi pemicu revolusi sosial, seperti halnya di Perancis. Lagi pula, toh segala peraturan dan kebijakan terkait pertanahan masa lalu dan kebijakan perkebunan hari ini yang tidak berpihak pada rakyat, tanpa melihat rezimnya siapapun, tetap saja menuai konflik di era kekuasaannya dan meninggalkan batu sandungan bagi penguasa di masa datang.

Munculnya konflik pertanahan yang tak kunjung padam seperti yang terjadi selama ini adalah, karena negara justru sering kali tidak mau tahu dengan nasib rakyat, dan justru menggembosi nilai-nilai dan fungsi sosial tanah (sekalipun dalam praktiknya berlindung dengan alasan kepentingan umum). Nyatanya sampai hari ini, negara jualah yang membuat jurang pemisah yang mendalam antara rakyat miskin di satu sisi dengan kaum pemodal di sisi lain. Jurang perbedaan yang mencolok akibat kebijakan perkebunan yang salah kaprah.

Sementara di sisi yang diuntungkan, kaum pemodal dengan mudah mendapat fasilitas dari penguasa untuk terus menggurita menguasai dan memiliki lahan hingga ratusan ribu hektare. Inilah bentuk ketidakadilan yang benar-benar nyata, karena keberpihakan negara kepada kaum pemodal. Sementara penindasan dan penyengsaraan terus menyertai pemilik lahan. Serupa betullah dengan adat membelah betung: ketika sisi yang satu kena pijak, sisi yang lainnya dilambungkan. (*)

------------------------------------
OPERASI SANDI "AWAS!"
Pemangku Alam dan Adat
READ MORE - Kebijakan Perkebunan Memasung Hak Ulayat

Longsor di Papua, 1 Warga Tewas Tertimbun

Di wilayah lain, hujan deras yang terjadi terus menerus menyebabkan banjir hingga 3 meter.


VIVAnews - Hujan lebat yang mengguyur Jayapura sejak tadi malam, mengakibatkan terjadinya bencana longsor pada Kamis 9 Februari sekitar pukul 05.00 WIT. Satu warga tewas tertimbun.
Longsor yang terjadi di Jalan Percetakan Distrik Jayapura Utara Kota Jayapura menimpa sebuah ruko konter ponsel.

Kronologinya, longsor terjadi saat tiga penghuni ruko atas nama Ardi Apriandi, Nehemita Boseke, dan Nurhaeni sedang asik mengobrol di ruang belakang ruko mereka.
READ MORE - Longsor di Papua, 1 Warga Tewas Tertimbun

Rumput Ini Berumur 200.000 Tahun

Apa rahasia panjang umur rumput raksasa ini?
VIVAnews - Sekelompok rumput di Laut Mediterania diperkirakan menjadi spesies paling tua di dunia. Ilmuwan asal Australia menduga rumput-rumput ini berumur 200.000 tahun.

Ilmuwan ini merunut DNA rumput raksasa, Posidonia oceanica, di sebuah padang rumput bawah laut yang membentang lebih dari 2.000 mil, dari Spanyol ke Siprus.

Analisis ini kemudian diterbitkan dalam jurnal PLoS ONE, seperti dikutip dari laman Telegraph. Ilmuwan menemukan rumput-rumput di padang bawah tanah itu berusia antara 12.000 sampai 200.000. Ini jauh lebih tua dari spesies tertua yang selama ini dkenal, tanaman Tansania yang diyakini berusia 43.000 tahun.

Carlos Duarte, dari University of Western Australia mengungkap rahasia panjang umur rumput-rumput tersebut. Menurutnya, rumput ini bisa bereproduksi secara aseksual dan menghasilkan klon dari dirinya sendiri.

"Mereka terus memproduksi cabang baru," kata dia. Secara perlahan, spesies ini menutupi areal yang sangat luas dan menjadikan lahan ini sebagai bahan tambang makanan. Pada akhirnya, spesies ini pun bisa menyimpan nutrisi dalam cabang-cabang mereka yang luas itu sehingga mampu bertahan di kondisi terburuk sekalipun. Satu kloni rumput ini bisa berbobot sampai ribuan ton.

Tapi, Duarte mengingatkan bahwa spesies ini mulai terancam. Meski Posidonia oceanica merupakan tanaman yang tangguh, pertumbuhan mereka mulai menurun seiring pembangunan di pesisir dan pemanasan global. Bagaimana pun, faktor-faktor ini mempengaruhi suhu laut dan kualitas air.

"Jika perubahan iklim ini terus berlangsung seperti sekarang, masa depan spesies ini sangat buruk," kata dia. (umi).
--------------------------------
OPERASI SANDI "AWAS!"
Pemangku Alam dan Adat
READ MORE - Rumput Ini Berumur 200.000 Tahun

Rabu, 08 Februari 2012

Pesawat Batavia Tergelincir, 148 Penumpang Selamat

JAYAPURA—Kejadian kurang mengenakkan kembali menimpa dunia penerbangan di Papua, kali ini bertepatan dengan kunjungan Mentri Perhubungan EE. Mangindaan, Selasa (07/02), pesawat Batavia Air dengan nomor penerbangan Y6837 dengan jurusan penerbangan Jakarta-Makassar-Jayapura-Merauke, tergelicir di Bandar Udara Sentani, Jayapura.
Dihubungi via Telepon oleh Bintang Papua, Alvin M. Umsin, Distrik Manager Batavia Jayapura, menjelaskan kejadian ini murni karena kondisi cuaca yang buruk yang mengakibatkan pesawat Airbush A320 milik Batavia Air tergelincir hingga melewati Runway End Safety Area (RESA). “Sebenarnya proses Landing berjalan mulus, tapi saat mendarat kondisi landasan sedang diguyur hujan lebat, sehingga landasan menjadi licin yang mengakibatkan pesawat kami sempat melewati Tript Runway 30 dan tergelincir hingga melewati RESA,” jelas Alvin.
Saat kejadian terjadi, Pesawat Batavia yang di pimpin oleh kapten Suharjo ini sendiri membawa penumpang sebanyak 148 orang, dan akibat kejadian tersebut, seluruh jadwal penerbangan Batavia Air mengalami penundaan.
“Kami bersukur kejadian ini tidak sampai meminta korban, dan usai tergelincir pesawat kami sudah langsung bisa memutar kembali hingga area parkir pesawat,” ungkap Alvin.
Dari data yang berhasil dihimpun Bintang Papua di lapangan, kronologis kejadian sebagai berikut yaitu pukul 06.40 WIT pesawat mendarat di tengah runway 11, dimana cuaca saat kejadian hujan lebat dengan visibility atau jarak pandang sekitar 4 km dan akhirnya pesawat tergelincir atau slip karena keadaan runway atau landasan tersebut licin. Dalam keadaan tergelincir, pesawat masih dapat dikendalikan oleh Captain Pilot Suharjo, namun pesawat melewati grass strip di ujung runway 30 hingga masuk ke RESA (Runway End Safety Area) dan pesawat berhenti.
Lalu pada pukul 06.50 WIT pesawat dapat berputar kembali dan menuju (taxy) ke appron atau tempat parkir Bandara Sentani. Dan sekitar pukul 07.10 WIT penumpang turun dari pesawat.
Sedangkan crew sebanyak 6 orang dan membawa penumpang sebanyak 148 orang yang dipastikan semuanya selamat. Akibat kejadian tersebut 4 buah lampu runway pecah dan pesawat masih dalam proses pemeriksaan lebih lanjut.
Ketika dikonfirmasi kepada Kepala Dinas Perhubungan Provinsi Papua Bambang Siswanto yang dihubungi Bintang Papua Selasa (07/02) melalui telepon celularnya karena yang bersangkutan tengah berada di Jakarta mengakui adanya peristiwa tergelincirnya pesawat Batavia Air ini.
“Iya tahu, tetapi detailnya tanyakan ke Ka Bandara,” tegasnya kepada Bintang Papua.
Namun, ketika coba dikonfirmasi kembali kepada Kepala Bandara Sentani Ir. Sukardjo Widjojo, MM, telepon celularnya bernada sibuk dan tidak bisa dihubungi.

Batavia Air Tutup Penerbangan Jayapura-Jakarta
Pasca tergelincir di bandara Sentani Jayapura, akibat landasan licin, maskapai Batavia Air untuk hari ini, selain menghentikan penerbangan Jayapura-Merauke, juga Jayapura-Jakarta.
Dari pantauan di bandara Sentani tidak terlihat aktivitas di counter chek ini Batavia Air. Di layar monitor juga sama sekali tidak tercantum jadwal penerbangan maskapai tersebut. Untuk jadwal ke Jakarta, semestinya Batavia berangkat pukul 11.30 WIT sekembalinya dari Merauke.
Penumpang Batavia Air yang menuju Merauke terpaksa di inapkan di Hotel di Jayapura, menunggu perkembangan selanjutnya dari pihak maskapai. Sementara pihak maskapai dan pengelolah bandara tidak ada yang bersedia memberikan keterangan. (dee/jir/ds).
--------------------------------
OPERASI SANDI "AWAS!"
Pemangku Alam dan Adat
READ MORE - Pesawat Batavia Tergelincir, 148 Penumpang Selamat