Selasa, 30 Agustus 2011

Data RSU dr Soetomo Surabaya Korban Mercon

Data RSU dr Soetomo Surabaya Korban Mercon Selama Ramadan 13 Orang, 5 Diantaranya Diamputasi

Surabaya - Jumlah korban letusan petasan selama Bulan Ramadan 2011 mengalami peningkatan dibanding tahun sebelumnya. Hingga Senin (29/8/2011) malam, korban yang telah dirawat di RSU dr Soetomo sebanyak 13 orang.

Dari ke-13 korban, lima laki-laki yang dikoyak mercon itu berasal dari luar Surabaya dan terpaksa harus menjalani amputasi ringan di IRD RSU dr Soetomo.

"13 korban ini data semalam. Hari ini belum terpantau. Tahun lalu hanya korban yang dirujuk ke RSU dr Soetomo hanya lima orang," katanya," kata dr Urip Murtedjo SpB-KL saat dihubungi detiksurabaya.com, Selasa (30/8/2011).

Kelima korban itu adalah Dasurjaya dari Kediri, Artiga dari Kertosono, Fatur dari Pamekasan, Imam dan Zailani dari Bangkalan, Madura. Kelimanya mengalami luka berat di bagian tangan hingga ujung jari-jari.

Sebelumnya, hingga tanggal 19 Agustus 2011 lalu, terdata 8 orang dirawat di IRD RSU dr Soetomo. Salah satunya Noval (12) warga Surabaya yang mengalami luka akibat petasan di bagian pantatnya.

"Sebagian besar dari korban berusia dewasa," kata pria yang menjabat sebagai Ketua Forum Pers RSU dr Soetomo Surabaya.

Sementara itu, tiga korban petasan lainnya yang menderita luka berat yaitu Sulaiman (50) warga Wonokusumo, Misnasi (51) warga Wonokusumo Bakti dan Imron (20) warga Bangkalan, Madura. Ketiganya menderita luka di ujung-ujung jemari hingga kulitnya terkelupas.

Di awal-awal Ramadan, lima korban petasan juga telah terdata dirawat di IRD RSU dr Soetomo. Mereka adalah Fikri (11), Siti Aisyah (43), Abdul Ghofur (16) dan Rozak (10) yang mengalami luka bakar ringan. (nrm/gik)
__________________________
BARISAN ALAM DAN ADAT BICARA
READ MORE - Data RSU dr Soetomo Surabaya Korban Mercon

Gempa Berkekuatan 6,8 SR Guncang Timor Leste


Jakarta - Gempa berkekuatan cukup kuat, 6,8 SR mengguncang Timor Leste. Beruntung gempa ini tidak berpotensi menimbulkan gelombang tsunami.

Dari situs BMKG, Selasa (30/8/2011), gempa berkekuatan 6,8 SR ini terjadi tepat pukul 13.57 WIB. Posisinya berada di 271 KM dari Timur Laut Dili.

Pusat kedalaman gempa berada di 469 Km. Dari situs BMKG, tidak disebutkan jika gempa ini akan menimbulkan gelombang tsunami. (mok/mok)
___________________________
BARISAN ALAM DAN ADAT BICARA
READ MORE - Gempa Berkekuatan 6,8 SR Guncang Timor Leste

Sabtu, 16 Juli 2011

Lokasi Penggalian Longsor, Empat Tewas


GROBOGAN, KOMPAS.com — Untuk kesekian kalinya, lokasi penggalian di Desa Mrisi, Kecamatan Tanggungharjo, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah, menelan korban jiwa. Empat pekerja yang sedang berada di lokasi penggalian, Sabtu (16/7/2011) petang, tewas tertimbun longsoran tanah setinggi sekitar 20 meter.

Berdasarkan informasi dari Camat Tanggungharjo, Teguh, peristiwa naas tersebut terjadi sekitar pukul 16.30 saat para pekerja sedang menggali batu di lokasi penggalian. Akibat longsoran tanah tersebut, tiga perempuan dan satu laki-laki tewas tertimbun.

Hingga Sabtu malam, evakuasi terus berlangsung karena proses evakuasi dilakukan secara manual. "Evakuasi korban masih berlangsung sampai malam karena dilakukan manual sehingga kami mengupayakan mendatangkan backhoe," ujarnya.

Menurut Teguh, lokasi penggalian yang longsor tersebut adalah milik PT Semen Grobogan. Di lokasi tersebut warga biasa melakukan penggalian. "Kejadian seperti ini bukan baru pertama kali, tetapi sudah lima kali terjadi," katanya.

___________________________

BARISAN ALAM DAN ADAT BICARA

READ MORE - Lokasi Penggalian Longsor, Empat Tewas

Tikus Raksasa Ini Makan 2 Bayi


CAPE TOWN, KOMPAS.com - Afrika Selatan diteror tikus. Bukan tikus biasa, melainkan tikus-tikus seukuran kucing. Dengan ukuran sebesar itu, tikus-tikus itu mencari mangsa yang cukup besar. Bayi.


"Tikus itu bisa tumbuh hingga hampir satu meter, dari moncong hingga ekor. Sementara gigi depannya sepanjang 2,5 cm".

Pekan ini terjadi dua tragedi mengerikan. Tikus-tikus raksasa memakan dua bayi dalam dua peristiwa berbeda. Lunathi Dwadwa (3) tewas dalam tidurnya di kawasan kumuh di luar Cape Town. Sementara seorang bayi lain menjadi mangsa tikus di Soweto, tak jauh dari Johannesburg pada hari yagn sama.

Lunathi ditemukan tewas dalam kondisi mengerikan oleh orangtuanya, Minggu (29/5/2011). Tidak ada tangisan ataupun jeritan sebelumnya.

"Saya tidak bisa lupa betapa mengerikan kondisi anak saya. Matanya keluar. Wajahnya rusak dari alis hingga pipi," kata Bukiswa Dwadwa (27), ibu bayi itu.

"Tidak ada yang bisa melakukannya kecuali tikus," ujar Mncedisi Mokoena, ayah Lunathi.

Beberapa jam kemudian, polisi menemukan kasus serupa. Seorang bayi perempuan diserang segerombolan tikus besar saat ibunya yang masih remaja pergi dengan teman-temannya.

"Kami mendapat panggilan dari lokasi kejadian, tentang tewasnya bayi akibat serangan tikus," kata polisi bernama Bongai Mhlongo.

"Kami menahan ibunya dengan tuduhan kelalaian yang mengakibatkan kematian," imbuhnya.

Bulan lalu, Nomathemba Joyi (77) juga tewas setelah tikus-tikus raksasa memakan sisi kanan wajahnya.

Di kawasan kumuh Afrika Selatan, tikus raksasa biasa ditemukan di tempat-tempat sampah. Tikus jenis itu bisa tumbuh hingga hampir satu meter, dari moncong hingga ekor. Sementara gigi depannya sepanjang 2,5 cm.

Tikus-tikus itu diyakini termasuk jenis African Giant Pouched Rats, salah satu jenis tikus terbesar dunia. Mereka lebih aktif di malam hari, pemakan segala, dan bisa memproduksi 50 anak dalam setahun. Beberapa suku di Afrika mengembangbiakkan tikus jenis itu untuk dimakan.


___________________________

BARISAN ALAM DAN ADAT BICARA

READ MORE - Tikus Raksasa Ini Makan 2 Bayi

Kelaparan, Warga Korut Jadi Kanibal


SEOUL, TRIBUN - Sebuah dokumen kepolisian Korea Utara menyebutkan ada laporan tentang kasus kanibalisme di negara itu. Jika benar, laporan itu mendukung kecurigaan yang beredar selama ini, GlobalPost melaporkan Rabu (22/6/2011).

Cerita tentang kanibalisme itu kebanyakan disampaikan oleh para pembelot dari Korea Utara. Kelaparan masif akibat menipisnya persediaan bahan pangan di negara itu memaksa warganya melakukan hal-hal tak terduga.

Kelaparan yang sudah berlangsung sejak akhir 1990-an itu diperkirakan telah menewaskan sekitar 2 juta orang. Korea Utara kini bergantung pada bantuan pangan internasional.

Dalam laporannya pada Senin (20/6/2011), Korean Herald menuliskan kepolisian Korea Utara merilis dokumen setebal 791 halaman pada 2009 yang berisi panduan untuk menangani para penjahat. Dalam pembuka laporan itu disebutkan, laporan itu berdasarkan kasus dan kondisi yang pernah terjadi.

Dalam laporan yang kemudian berada di tangan kelompok misionaris Korea Selatan Caleb Mission itu disebutnya ada kasus yang diduga terkait kanibalisme dan sejumlah kejahatan lain. Namun laporan itu tidak menyebut apakah kanibalisme sudah kasus yang sering terjadi.

Satu kasus yang disebut adalah seorang lelaki yang membunuh rekannya karena tidak bisa menahan lapar. Dia memakan sebagian daging rekannya itu lalu menjual sisanya ke pasar dan menyebutnya sebagai daging kambing. Sayangnya laporan itu tidak menyebut lebih detail tentang tempat dan waktu terjadinya.

Harian Kookmin Daily yang pertama kali mengungkap kasus itu. Disebutkan, terjadi tiga hingga empat kejahatan lain terkait kanibalisme dalam laporan polisi itu.

Seorang pembelot Korea Utara juga menceritakan kasus serupa. Dia mengaku melihat sendiri eksekusi mati yang dilakukan di depan umum terhadap seorang lelaki yang terbukti menjual daging manusia di pasar pada 1997.

"Banyak kasus kanibalisme saat itu," kata pembelot itu kepada kantor berita Yonhap. Dia meminta namanya tidak disebut karena mengkhawatirkan keselamatan keluarganya yang masih berada di Korea Utara.

Menanggapi hal itu, juru bicara Kementerian Unifikasi Korea Selatan mengatakan pemerintah tidak berhak mengonfirmasi kebenaran berita itu. Menurutnya, sulit menentukan otentisitas laporan tersebut.

Sementara itu tentang kelaparan di Korea Utara, laporan-laporan terbaru menyebut kelaparan tidak separah dan seluas yang dikabarkan selama ini.

Berdasarkan laporan sebuah tim Amerika Serikat yang dipimpin utusan khusus AS untuk hak asasi manusia di Korea Utara, Robert King, beberapa wilayah memang mengalami kekurangan bahan pangan.

___________________________

BARISAN ALAM DAN ADAT BICARA

READ MORE - Kelaparan, Warga Korut Jadi Kanibal

Waspadai Awan Panas dan Gas Beracun

MANADO, KOMPAS.com — Hingga Jumat (15/7/2011), pengungsi korban letusan Gunung Lokon di Kota Tomohon, Sulawesi Utara, mencapai 4.544 orang menyusul letusan dahsyat, Kamis sekitar pukul 23.31.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah Sulawesi Utara Hoyke Makawarung, kemarin, mengeluarkan peringatan agar mewaspadai awan panas dan gas beracun. "Semua warga yang masih bertahan di kawasan rawan bencana dua, yaitu di dalam radius 3,5 kilometer, sudah dievakuasi," ujar Hoyke.

Abu vulkanik Gunung Lokon dilaporkan menghujani wilayah perkebunan Lemoh dan Lola di Kecamatan Tanawangko, Kabupaten Minahasa.

Erupsi Gunung Lokon terjadi melalui kawah Tompaluan setinggi 1.140 meter di atas permukaan laut dan memancarkan bara api, semburan debu, serta asap hitam setinggi 1.500 meter. Selanjutnya, letusan kembali terjadi pada Jumat sekitar pukul 01.30 dengan lontaran material vulkanik setinggi 600 meter.

Keadaan ini mengejutkan dan membuat panik masyarakat Kota Tomohon. Bara api dan asap hitam yang keluar dari kawah Tompaluan dapat disaksikan dari Kota Manado dan Kabupaten Minahasa. Warga Manado tumpah ke jalan menyaksikan pemandangan langka dari puncak kawah Tompaluan tersebut.

Selengkapnya mengenai artikel ini dapat disimak di http://cetak.kompas.com/read/2011/07/16/04435254/waspadai.awan.panas.dan.gas.beracun.

____________________
ALAM DAN ADAT BICARA
READ MORE - Waspadai Awan Panas dan Gas Beracun

12 Penumpang KM. Sinar Pagi Masih Dalam Pencarian

JAYAPURA-Setelah dilakukan upaya pencarian terhadap Penumpang KM Sinar Pagi yang tenggelam di Perairan Sidey, Manokwari Selasa (5/7) lalu oleh TNI/Polri, Tim SAR dan warga selama seminggu, hingga Selsa (12/7) kemarin, 12 penumpang termasuk 6 anggota Badan Intelijen Negara (BIN) masih dalam pencarian.

“Upaya pencarin masih dilakukan dan perlu kami akan dibantu dengan helykopter untuk memudahkan pencarian dari udara. Rencananya hari ini baru dilakukan lagi,” jelas Kapolres Manokwari AKBP Agustinus saat ditemui usai kegiatan acara Farewel And Welcome Parade Kapolda di Mapolda Papua, Selasa kemarin.

Hingga saat ini pihak penyelamat masih terus melakukan pencarian. “Saya sudah meminta tolong kepada kapolres Biak, Sorong Kota dan juga Supiori serta masyarakat nelayan yang mencari ikan. Untuk membantu mencari,” harapnya.

Menurutnya, KM Sinr Pagi kpasitas penumpangnya hanya 6 atu 7 orng saja, namun memuat 13 orang. “penyampaian dari Vikky Kendi (penumpang yang ditemukan kalau saat itu mereka mancing dengan 13 orang didalam kapal kecil atau KM Sinar pagi,” jelasny.

Seperti diketahui KM Sinar Pagi yang diketahui hilang berdasarkan informasi dari salah seorang penumpang atau korban yang selamat bernama Vikky Kendi (14) yang terdampar di daratan Manokwari.

Dan jelasnya mengenai kecelakaan, Selasa 5 Juli, KM Sinar Pagi berlayar ke perairan Sidey untuk memancing dengn mengangkut 13 orang. Namun setelah sampai di Perairan Sidey dengan jarak ke daratan Manokwari sekitar 2-3 mil atau 4 kilometer. Saat itu salah seorang mendapat tangkapan ikan besar, sehingga penumpang lain berlomba-lomba untuk berfoto. Tiba-tiba perahu miring dan terbalik secara perlahan-lahan. “Akibat senang mendapat ikan besar, mereka berfoto-foto, kemudian perahu hilang keseimbangan dan terbalik sebelum kemudian tenggelam,” jelas Kapolres. (ro/nan)

Berikut adalah identitas penumpang KM Sinar Pagi yang hilang.

1. Prim (Ipeng) anggota BIN Manokwari
2. Bayu Anggota BIN Manokwari
3. Ali (Siswa PKL BIN)
4. Andre (Siswa PKL BIN)
5. Pratu Sohibun (Anggota Batalion 752/VYS kompi D)
6. Pratu Hana (Anggota Batalion 752/VYS kompi D)
7. Yono Rerey umur 28 tahun motoris
8. Tepi Rerey umur 10 tahun alamat Fanindi pantai
9 Wasidi umur 45 tahun alamat Kampung Mansaburi
10 Slamet umur 45 tahun alamat Kampung Mansaburi
11 Romli umur 29 tahun alamat Kampung Mansaburi
12. Dedi umur 19 tahun alamat Kampung Mansaburi

Rabu, 13 Juli 2011 , 06:35:00
Cepos: http://cenderawasihpos.com/index.php?mib=berita.detail&id=627

READ MORE - 12 Penumpang KM. Sinar Pagi Masih Dalam Pencarian

Minggu, 06 Februari 2011

Ada Mitos, Pertanda Minta Nyawa Satu Ondofolo

Fenomena Helaybhu Yakheleh ‘Batu Ajaib’ Gemparkan Danau Sentani

Ada Mitos, Pertanda Minta Nyawa Satu Ondofolo

HELAYBHU YAKHELEH, sebuah fenomena alam yang terjadi di sekitar perairan Danau Sentani, tepatnya antara Kampung Nendali (Netar), Ifar Besar, Asei Pulau, Yallow dan Ayapo dan sekitarnya, Selasa (1/2) kemarin. Munculnya fenomena alam ini sering mengkait-kaitkan dengan cerita-cerita mitos ataupun ramalan-ramalan bagi kehidupan dimasa yang akan datang.

Laporan Jimmy Fitowin, Sentani



Helaybhu Yakheleh dikenal oleh masyarakat di kampung-kampung tersebut sebagai sebuah ‘batu ajaib’ yang menyerupai payung dan sering muncul ke permukaan pada waktu-waktu tertentu.Bagi masyarakat setempat keberadaan batu tersebut sudah ada sejak dulu kala, dan jarang sekali muncul ke permukaan. Jika Helaybhu Yakheleh muncul ke permukaan air masyarakat yang mendiami tepian danau Sentani sudah tahu apa yang bakal terjadi menurut cerita leluhur orang tua mereka.Seperti yang terjadi, Selasa (1/2) kemarin, meski banyak orang memprediksikan macam-macam terhadap fenomena Helaybhu Yakheleh yang muncul di sekitar perairan kampung Nendali, namun masyarakat disitu tetap tenang dan sudah mulai mewanti-wanti pertanda dari munculnya Helaybhu Yakheleh. Munculnya Helaybhu Yakheleh kemarin cukup aneh dan menarik simpati ratusan warga yang kebetulan lewat disitu, baik yang menggunakan kendaraan roda dua maupun empat, untuk sekedar melihat-lihat dan juga mengabadikan fenomena aneh itu. Yakni setelah Helaybhu Yakheleh tenggelam nampak hamparan hewan laron membentuk hamparan pasir putih sepenjang 3 KM dari ujung Kampung Nendali sisi barat hingga ke depan pantai Kalkhote.
Juga tanaman ecenggondok seperti tertata rapih memagari hamparan pasir laron itu, bahkan tidak sedikit ikan-ikan busuk dan sampah yang juga mengapung bersama laron yang tebalnya mencapai 5 cm itu.
Konon jika Helaybhu Yakheleh muncul itu pertanda akan ada duka bagi keluarga Ondofolo yang mendiami perairan disekitar munculnya Helaybhu Yakheleh. Maria Pallo salah seorang warga Kampung Nendali yang ditemui kemarin kepada Bintang Papua menjelaskan, kehadiran Helaybhu Yakheleh itu harus dibayar dengan harta benda seperti manik-manik (Hemboni rela) Tomako batu (rela) dan barang berharga lainnya jika ada warga yang terjebak oleh kehadiran Helaybhu Yakheleh.
Sementara keberadaan laron-laron tersebut Maria menjelaskan dari cerita orang tuanya itu adalah hewan yang tiba-tiba keluar dari dalam air, dimana laron-laron tersebut berasal dari dalam perut ikan-ikan (muntah ikan) yang naik ke permukaan setelah Helaybhu Yakheleh menampakkan dirinya. “Kalau Helaybhu Yakheleh muncul kita harus bayar dengan Hemboni atau rela, agar bisa luput dari jebakan tersebut,” ujarnya.
Laron ini biasanya bersamaan dengan salah satu jenis rumput yang hidup di dasar danau makhluk inilah yang sering menjebak para nelayan di danau dan untuk melepaskan diri dari jebakan tersebut yakni membayar dengan barang berharga jika tidak maka nyawa taruhannya.
Namun cerita Maria tentang wujud Helaybhu Yakheleh ini sedikit berbeda dengan Jhon Modouw salah satu tokoh adat dari Kampung Waena. Bagi Jhon Modouw, Helaybhu Yakheleh adalah sosok dewa kematian yang dikenal oleh masyarakat Sentani yang wujudnya seperti tanah yang sering muncul ke permukaan air secara tiba-tiba.
Dan kehadiran Helaybhu Yakheleh itu seluruh warga Sentani telah tahu yakni untuk menuntut 1 nyawa seorang Ondoafi (Ondofolo) dari kampung terdekat munculnya Helaybhu Yakheleh. “Kalau Helaybhu Yakheleh muncul itu pertanda “dia” minta 1 nyawa Ondofolo,” ujar pria yang juga telah mengabadikan kisah Helaybhu Yakheleh dalam sebuah syair lagu yang diciptakannya dalam album Cyclop. Namun ada juga beberapa tokoh-tokoh adat di Sentani yang mengatakan munculnya Helaybhu Yakheleh karena adat Sentani mulai terusik dengan segala kepentingan dewasa ini. Dari informasi yang dihimpun Bintang Papua bahwa Helaybhu Yakheleh pernah muncul pada 1950, kemudian 1961, dan terakhir sekitar tahun 1996, dan kini muncul lagi pada 2011, apakah memang fenomena ini muncul pertanda akan ada kematian bagi keluarga Ondoafi ataukah fenomena ini muncul sebagai peringatan alam, ataukah juga fenomena ini hanya merupakan gejala alam semata yang merupakan wujud kemahakuasaan Sang Khalik? Sungguh Tuhan Maha Kuasa.

------------------------------
" Alam dan Adat Bicara "

READ MORE - Ada Mitos, Pertanda Minta Nyawa Satu Ondofolo

Kamis, 27 Januari 2011

30 Menit, Tabung Gas Hancurkan Rumah

PAGARALAM, KOMPAS.com — Ledakan tabung gas ukuran 3 kilogram menghanguskan rumah milik Maryadi, warga RT 10 RW 04 Kelurahan Dempo Makmur, Kota Pagaralam, Sumatera Selatan, Selasa.

Berdasarkan pantauan pada Rabu (26/1/2011), rumah panggung ukuran 6 x 9 meter dengan tinggi 5 meter itu menjadi rata dengan tanah dan tidak satu pun harta benda milik korban yang bisa diselamatkan.

"Hanya dalam waktu sekitar 30 menit rumah milik Maryadi itu habis terbakar akibat ledakan tabung gas ukuran 3 kg. Peristiwa ini terjadi sekitar pukul 09.30 WIB saat penghuni rumah di sawah," kata Ketua RW 04 Dusun Bedeng Kresek, Sogeng.

Api sulit dipadamkan karena rumah terbuat dari kayu, beratap seng, dan dinding terbuat dari bambu anyaman. Kebetulan pemilik rumah berada di sawah dan warga setempat sebagian besar ke ladang atau kebun.

"Memang saat itu pemilik rumah sedang berada di kebun, tiba-tiba api sudah membumbung tinggi menjalar ke seluruh bagian rumah," ujar Sogeng.

Warga sulit memadamkan api karena angin bertiup cukup kencang dan letak rumah juga berada di permukiman padat penduduk dengan lorong sempit.

"Kami belum mengetahui dengan pasti asal api. Namun, sebagai barang bukti yang ditemukan di lokasi kejadian terdapat satu tabung gas ukuran 3 kg lengkap dengan pipa penyalur gas sudah hangus terbakar," ujarnya.

Maryadi menambahkan, tidak ada satu pun anggota keluarga yang berada di rumah saat kebakaran itu terjadi sehingga api tidak sempat dipadamkan.

"Memang saat saya hendak ke sawah, anak saya yang pertama juga ikut keluar rumah untuk bermain ke rumah temannya," kata Maryadi.

------------------------------
" Alam dan Adat Bicara "
READ MORE - 30 Menit, Tabung Gas Hancurkan Rumah

Helikopter Jatuh karena Terbang Rendah

KENDARI, KOMPAS.com — Kecelakaan helikopter milik PT Intan Angkasa Air Service yang jatuh dan meledak di Teluk Kendari, Sulawesi Tenggara, Kamis (27/1/2011) sekitar pukul 08.15 Wita, diduga terjadi karena terbang rendah.

"Diduga kuat helikopter yang ditumpangi tiga orang tersebut jatuh karena terbang rendah sehingga skip menyentuh air dan meledak," kata Kepala Bidang Humas Polda Sultra Ajun Komisaris Besar Fahrurozzi di Kendari.

Tiga korban yang saat ini sedang menjalani perawatan serius di rumah sakit Bhayangkara Polda setempat adalah pilot Gunawan (33), pegawai Dinas Perhubungan Kikin (34), dan manajer Plaza in Hotel Kendari Lukman (36).

Dua orang yang dalam keadaan kritis adalah Gunawan dan Kikin. Adapun Lukman mengalami luka robek pada mata sebelah kiri.

Helikopter milik PT Intan Angkasa Air Service berjenis MD 500 PKIWS. Lokasi jatuh helikopter adalah di Teluk Kendari, Kelurahan Tipulu, Kecamatan Kendari Barat, Kota Kendari.

Tim penolong gabungan dari tim Search and Rescue (SAR) Kendari, Polri, dan pihak terkait dibantu masyarakat sedang dalam upaya mengevakuasi bangkai helikopter yang jatuh sekitar 200 meter dari pantai.

Peristiwa naas tersebut mengundang perhatian warga setempat sehingga ruas jalan bypass Kota Kendari macet.

------------------------------
" Alam dan Adat Bicara "
READ MORE - Helikopter Jatuh karena Terbang Rendah

Sabtu, 22 Januari 2011

SIDANG ADAT: Tamrin Amal Tamagola Jalani Sidang Adat

Sejumlah warga Dayak Kalimantan Timur dipimpin ketuanya Bayer Gabriel mendatangi Kantor Harian Pagi Tribun Kaltim, Balikpapan, Kamis (13/1/2011) pekan lalu, untuk menyampaikan pernyataan sikap mereka terkait pernyataan Sosiolog UI, Prof Tamrin Amal Tomagola.

PALANGKARAYA, KOMPAS.com — Sosiolog Universitas Indonesia Tamrin Amal Tamagola, Sabtu (22/1/2011), menjalani sidang adat dengan masyarakat Dayak. Sidang Maniring Tuntang Manetes Hinting Bunu itu dilangsungkan di rumah betang Tinggang Nganderang di Jalan DI Panjaitan, Kota Palangkaraya, Kalimantan Tengah.

Didampingi istrinya, Tamrin tiba di rumah betang sekitar pukul 09.30 WIB. Sebelumnya, ia memberikan keterangan pers terlebih dahulu di Hotel Barito Sweet Shinta.

Salah satu isi dalam keterangan pers itu, Tamrin beserta istrinya meminta maaf karena dianggap telah melukai hati masyarakat Dayak.


------------------------------
" Alam dan Adat Bicara "
READ MORE - SIDANG ADAT: Tamrin Amal Tamagola Jalani Sidang Adat

KORBAN BANJIR PAKISTAN : Empat Juta Orang Masih Jadi Tunawisma

JENEWA, KOMPAS.com Lebih dari empat juta warga Pakistan masih menjadi tunawisma enam bulan setelah banjir dahsyat merusak negara itu, kata Palang Merah Internasional, Jumat (21/1/2011). "Enam bulan setelah banjir yang merusak di Pakistan itu, lebih dari empat juta orang masih dalam situasi yang sangat menyedihkan tanpa tempat perlindungan yang layak," kata Federasi Palang Merah Internasional dan Masyarakat Bulan Sabit Merah dalam satu pernyataan.


Keluarga-keluarga yang mulai meninggalkan kamp dan tempat berlindung sementara telah kembali, tetapi hanya untuk menemukan bahwa rumah mereka tidak lagi layak didiami. Kondisi itu menimbulkan gelombang ketelantaran kedua. "Kekejaman bencana ini adalah bahwa jutaan orang telah terusir dari rumah mereka akibat banjir itu. Mereka bertahan menghadapi kondisi yang tidak menyenangkan, tinggal selama beberapa bulan di bawah kain kampas atau terpal," ujar Gocha Gushashvili, koordinator operasi banjir Federasi Palang Merah Internasional (IFRC) di Pakistan.

"Sekarang mereka telah pulang ke rumah, ke tempat kosong yang hampir tidak ada apa-apa. Rumah mereka, ladang mereka, dan mata pencarian mereka telah memuing," kata Gushashvili. Hujan pada musim hujan katastropis yang melanda negara itu pada Juli dan Agustus lalu telah berdampak pada 21 juta orang, menghancurkan 1,7 juta rumah, dan merusak 5,4 juta hektar tanah yang baik untuk ditanami.

IFRC telah mendesak para donor untuk menggali lebih dalam kocek mereka. Lembaga itu juga mengatakan, permintaannya akan 130 juta frank Swiss (135 juta dollar Amerika Serikat) baru 59 persen yang terpenuhi. "Pendanaan penuh akan memungkinkan IFRC membantu 130.000 keluarga untuk pemulihan mereka dalam dua tahun," kata organisasi itu.


------------------------------
" Alam dan Adat Bicara "
READ MORE - KORBAN BANJIR PAKISTAN : Empat Juta Orang Masih Jadi Tunawisma